Jadikan UPSUS NTT Menjadi Lebih Baik, Ani Andayani Beber Strategi Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jadikan UPSUS NTT Menjadi Lebih Baik, Ani Andayani Beber Strategi Ini


SATU TEKAD. Para penanggungjawab unit pelaksana teknis saat kegiatan di SMK-PP Negeri Kupang, Selasa (1/10). (FOTO: Istimewa)

Advetorial

Jadikan UPSUS NTT Menjadi Lebih Baik, Ani Andayani Beber Strategi Ini


OELAMASI-Guna mewujudkan tekad Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menjadikan Indonesia berdaulat di sektor pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) menelurkan apa yang disebut dengan Upsus Pajale atau Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai.

“Presiden Joko Widodo sangat bertekad untuk menyukseskan kedaulatan pangan dalam tiga tahun ini. Karena itu, pada kegiatan Upsus Pajale (Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai), segala strategi dilakukan untuk peningkatan kualitas tanam dan produktivitas daerah-daerah di sentra produksi pangan,” ungkap Ani Andayani selaku Penanggungjawab Upsus NTT dalam pembahasan topik aplikasi ArcGis dan optimalisasi tanam (Opman) di aula Nicolas Bait, Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) Negeri Kupang, di Lili, Oelamasi, Kabupaten Kupang, kemarin (1/10).

Menurut Ani Andayani, upaya khusus peningkatan kualitas tanam dan produktivitas itu tidak hanya mencakup luas tambah tanam (LTT), luas tanam padi (LTP), luas tanam kedelai (LTK), dan luas tanam jagung (LTJ). Namun di balik itu, lanjut Ani, perlu diikuti dengan penyediaan benih tepat waktu, penyediaan pupuk tepat sasaran, benih tepat waktu, pengendalian OPT sesuai dan optimalisasi usaha tani.

Ani Andayani mengatakan, upaya-upaya ini bertujuan agar Upsus NTT menjadi lebih ke depan. “Supaya semakin baik, Upsus wajib tanam ini harus diikuti dengan penelusuran sampai ke lahannya,” kata Ani dihadapan para penanggungjawab (Penjab) masing-masing unit pelaksana teknis (UPT) bidang pertanian, yakni Penjab SMK-PP Negeri Kupang, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP), dan Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP).

NTT sebagai salah satu daerah Upsus, kata Anin, harus ditekankan untuk membantu masyarakat mandiri dalam mendukung swasembada pangan sehingga mereka memiliki kepedulian terhadap Upsus tersebut. “Upsus mutlak untuk memperoleh produktivitas optimal,” tandas Ani.

Anin memaparkan bahwa NTT selalu identik dengan daerah kering dan kekurangan pangan. Karena itu, lanjutnya Upsus ini hadir untuk merubah paradigma yang ada.

“Sebagai contoh BBPP memiliki sumur air dangkal dengan debit 60 liter/menit sehingga BBPP menjadi annual paradise untuk ternaknya,” katanya.

Dikatakan, permasalahan air menjadi fokus dan prioritas penyelesaian pemerintah, salah satunya dengan membangun sejumlah bendungan di NTT.

Ani Andayani secara khusus meminta BPTP untuk meninjau titik air dari suatu daerah yang ada di wilayah Upsus agar dapat ditindaklanjuti dengan pembuatan sumur seperti yang ada di lokasi BBPP Naibonat.

Ani juga menyebutkan persoalan lain yang menjadi hambatan pengelolaan dan pengembangan usaha pertanian di NTT, yakni persoalan sumber daya manusia (SDM). “Berapapun inovasi dan teknologi yang ada, namun jika SDM tidak bergerak maka percuma. Karena itu fungsi controlling harus lebih berbobot,” tandasnya.

Kepada para penanggungjawab (Penjab) dan liaison officer (LO) maupun petugas penghubung yang ada di bawah Upsus NTT agar segera merancang strategi wajib tanam per kecamatan, per kelurahan, dan per desa dimulai bulan Oktober 2019 ini.

“Para Penjab dan LO wajib berdedikasi tinggi untuk menunjang program Upsus ini. Kedepankan komunikasi dalam menindaklanjuti kesesuaian data di lapangan dengan BPS maupun BPN. Kunci keberhasilan Upsus adalah komunikasi,” pungkas Ani (*/aln)

Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top