Temu Trilateral di Darwin, Kadin NTT Usul Pasar Bebas di Batas | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Temu Trilateral di Darwin, Kadin NTT Usul Pasar Bebas di Batas


KEMBALI. Rombongan dari NTT saat tiba kembali di Bandara El Tari Kupang menggunakan pesawat Trans Nusa usai mengikuti rapat trilateral di Darwin, Australia, Selasa (3/12) dan Rabu (4/12). (FOTO: PAUL LIYANTO FOR TIMEX)

BISNIS

Temu Trilateral di Darwin, Kadin NTT Usul Pasar Bebas di Batas


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Abraham Paul Liyanto menegaskan, pertemuan trilateral antara Indonesia-Australia-Timor Leste harus segera diwujudkan. Tidak boleh sekadar menghabiskan dana pemerintah. Apalagi rencana kerja sama tiga negara ini sudah dibahas sekira 10 tahun.

Salah satu bentuk kerja sama yang menurut Kadin NTT bisa segera direalisasikan, yakni Free Trade Zona atau zona pasar bebas, khususnya di perbatasan NTT-Timor Leste.

“Border (batas) antara Dili-Kupang sarana prasarananya sudah bagus itu. Sehingga bagaimana kerja sama B to B dan G to G. Sehingga begitu border itu dibuat free trade zona, mau jual apa, supaya jangan ikut jalan tikus. Semua akan konsentrasi di situ, sehingga fokus. Dan yang di luar dari itu ditangkap. Sekarang kan tidak bisa,” papar Abraham Paul Liyanto yang diwawancara media ini sesaat setelah tiba di Kupang usai rapat di Darwin tersebut, Rabu (24/12).

Menurut Paul, usul konkrit tersebut disampaikan secara tegas di dalam forum pertemuan di Darwin, Selasa dan Rabu (24/12) itu. Paul tegaskan, setelah sekira 10 tahun berlalu, belum ada realisasi dari kerja sama tiga negara tersebut.

“Kalau mereka tidak mau membuka, mereka yang rugi. Kecuali ada pertimbangan politik. Kalau pertimbangan politik bilang tidak bisa ya tidak usah lagi. Kok Cina yang begitu jauh saja kita bisa hubungan baik kok,” kata senator NTT di DPD RI itu.

Paul menjelaskan, pertemuan kali ini lebih tegas dan ada kemajuan. “Bahwa kami sudah bisa terbang perdana. Jadi kalau ada orang NTT di Australia yang mau ke Kupang, kita sudah punya slot, satu bulan delapan kali. Charter flight. Makanya yang kita urus ini yang reguler. Bisa setiap hari. Tapi kalau tidak, TransNusa sudah punya izin sudah ada (charter). Tapi tidak mahal. Yang penting sudah ada izin dan persyaratannya. Di sana sudah bisa terima, kita tinggal jalan,” urai Paul.

Menurut Paul, sebagai Ketua Kadin NTT sekaligus senator, dirinya akan berbicara dengan Kementerian terkait dan Presiden. “Karena presiden yang bikin border. Tapi saya minta, pemerintah Australia dan Dili harus tegas (Pertemuan Trilateral, Red). Supaya kalau bisa, ya bisa. Kalau tidak bisa, bilang saja tidak bisa,” tandasnya.

Paul mengatakan, pertemuan di Darwin menghasilkan dua rekomendasi. Pertama, hasil dari pertemuan tersebut dibawa ke masing-masing pimpinan, dalam hal ini presiden. Dan kedua, pihaknya meminta rapat atau pertemuan dilakukan lebih cepat. Misalnya, di Januari, Februari atau Maret 2020. Sehingga, hasil koordinasi setiap pihak, bisa diketahui lebih cepat. Selanjutnya masalah atau hambatan yang dihadapi, bisa segera diselesaikan.

“Indonesia tidak ada masalah. Tinggal bagaimana dengan Australia, kenapa pesawat belum bisa masuk NTT. Padahal orang Australia dan orang NTT yang ada di sana mereka senang sekali. Karena selama ini mereka harus lewat Bali,” sambung dia.

Pertemuan di Darwin tersebut juga menjadi bukti komitmen Indonesia. Dimana kehadiran perwakilan Indonesia dari NTT, menggunakan pesawat carteran dari Kupang, yakni Trans Nusa. Menurut Paul, apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak Trans Nusa yang berhasil membawa rombongan dari Kupang ke Darwin dan kembali dengan keadaan baik di Kupang.

Dia kembali jelaskan, penerbangan dari Bandara El Tari Kupang ke Darwin, hanya 1 jam 20 menit. Kalau bandara Rote terbuka, karena syaratnya harus ada dua airport di jalur itu. Sehingga kalau ada apa-apa bisa menampung. Sementara kita punya masalah, Bandara di Rote, jam 3 atau jam 4 sudah tutup,” papar dia.

Jika tidak ada aral melintang, pihak Trans Nusa akan terus menambah armada. Selain itu, Trans Nusa sudah bisa memanfaatkan delapan slot penerbangan charteran setiap tiga bulan.

Mengenai perbatasan, Paul berharap tidak hanya menjadi pajangan. Harus menjadi pusat ekonomi baru. Bebas pajak 10 persen itu di sana. Jadi dari diler dan distributor lain bawa ke sana lebih murah 10 persen. “Itulah kita perlu regulasi dan kebijakan dari pusat untuk perbatasan ini. Sehingga perbatasan ini menjadi hidup. Saya sudah bilang, rapat terus ini bosan. Saya marah ke Kemendag, jangan bikin ini jadi proyek. Uang perjalanan dinas. Rapat sana sini saja dan merugikan uang negara. Mereka belasan orang. Timor Leste juga belasan,” tambah dia.

“Saya tegas saja. Kalau bisa, ya bisa. Kalau tidak, tidak. Supaya tidak usah rapat-rapat begini. Kali ini agak lebih tegas dan ada kemajuan. Bahwa kami sudah bisa terbang perdana. Jadi kalau ada orang NTT di Australia yang mau ke Kupang, kita sudah punya slot, satu bulan delapan kali. Charter flight. Makanya yang kita urus ini yang reguler. Bisa setiap hari. Tapi kalau tidak, Trans Nusa sudah punya (charter). Tapi tidak mahal. Yang penting sudah ada izin dan persyaratannya. Di sana sudah bisa terima, kita tinggal jalan,” ungkap Paul lagi.

Paul menyebutkan, dalam pertemuan di Darwin, tim dari NTT terdiri dari pengusaha sebanyak 23 orang. Ditambah utusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT. Dia katakan, pihaknya lebih cenderung mengusulkan kerja sama tersebut antara Provinsi NTT-Timor Leste-Australia. (cel)

Komentar

Berita lainnya BISNIS

To Top