Pemkab Sikka Perpanjang KLB DBD, Tembus 405 Kasus, Tersebar di 19 Kecamatan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemkab Sikka Perpanjang KLB DBD, Tembus 405 Kasus, Tersebar di 19 Kecamatan


KETERANGAN PERS. Plh Sekda Sikka, Wihelmus Serilus memberi penjelasan kepada awak media terkait KLB DBD di Sikka yang harus diperpanjang karena kasusnya terus bertambah. Gambar diabadikan Kamis (6/2). (FOTO: Karel Pandu/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pemkab Sikka Perpanjang KLB DBD, Tembus 405 Kasus, Tersebar di 19 Kecamatan


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka melakukan perpanjangan waktu kejadian luar biasa (KLB) akibat meningkatnya wabah Deman Berdarah Dengue (DBD) di kabupaten itu. Perpanjangan ini akan dievaluasi setiap dua pekan. Bagaimana tidak, hingga akhir pekan ini, jumlah kasus DBD di Sikka terus bertambah dan tercatat menembus 405 kasus, tersebar di 19 kecamatan di wilayah itu.

“Kasus DBD di Kabupaten Sikka meningkat 28 kasus perhari. Karena itu dalam rapat bersama pihak kecamatan, lurah/desa dan para Kepala Puskesmas serta pihak TNI/Polri, diputuskan untuk memperpanjang KLB,” ungkap Pelaksana harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sikka, Wihelmus Serilus usai rapat koordinasi bersama para camat, lurah/kepala desa dan Forkopimda, di aula lantai 2 Kantor Bupati Sikka, Kamis (6/2).

Dalam rapat itu, Serilus meminta seluruh camat, lurah dan kepala desa untuk wajib bertanggungjawab menurunkan angka kasus DBD di wilayah kerja masing-masing.

“Saya tegaskan agar seluruh camat, lurah dan kepala desa harus mampu mengerahkan masyarakat melakukan pembersihan lingkungan di wilayah masing-masing. Harus bertanggungjawab dengan wilayahnya masing-masing, untuk menurunkan angka DBD yang kian hari terus meningkat,” tandas Serilus.

Dikatakann, meingkatnya DBD di Sikka dibuktikan dengan meningkatnyua jumlah pasien DBD setiap hari yang mengunjungi rumah sakit dan Puskesmas, baik yang ada di wilayah Kota Maumere maupun yang berada di luar Kota Maumere.

“Meningkatnya pasien DBD membuat daya tampung disetiap rumah sakit maupun Puskesmas tidak mencukupi,” katanya.

Serilus menyebutkan, dari total 405 kasus itu, yang meninggal karena DBD tercatat 3.

Sementara sekitar pukul 22.32 Wita, Kamis (6/2) lalu, pihak rumah sakit mini Wolofeo, Kecamatan Tanawawo melaporkan pasien DBD yang tengah dirawat mencapai 9 orang. Salah satunya harus di rujuk ke RSUD Sikka di Maumere.

“Saya berharap angka kasus DBD di Sikka segera menurun, karena itu peran serta pihak kecamatan, lurah dan desa sangat penting,” tegas Serilus.

Sementara itu , drg. Harlin Hutaurak, M.Si melaporkan, data perkembangan DBD di Sikka sudah menyebar ke 19 kecamatan di Sikka. Minus dua kecamatan, yakni kecamatan Palue dan Kecamatan Waeblama.

Menurut Harlin, penyebaran virus DBD terbanyak berada di Kecamatan Magepanda dengan total 110 kasus.

Selain kecamatan Magepanda lanjut Harlin, Kecamatan Nita dan Talibura juga mengalami peningkatan DBD saat masa tanggap darurat. Kendala lainnya masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya. Sementara kasus terbanyak kata Harlin, dialami anak-anak dan usia sekolah 5 sampai 15 tahun yang saat ini mencapai 166 kasus.

Kendala yang dihadapi saat ini kata Harlin, yakni kebiasaan membuang sampah disembarang tempat, pemantau jentik berkala tidak dilakukan secara rutin, membludaknya pasien di ketiga rumah sakit serta kurangnya tenaga medis. (Kr5)

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top