IDAI Gelar Seminar Ilmiah, Wagub: Orang Pendek Belum Tentu Stanting | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

IDAI Gelar Seminar Ilmiah, Wagub: Orang Pendek Belum Tentu Stanting


SEMINAR STUNTING. Wagub NTT, Josef Nae Soi (duduk, kiri) hadir membuka seminar ilmiah "NTT Melawan Stunting" yang digelar IDAI Jatim dan NTT di aula Fernandes Kantor Gubernur NTT, Selasa (11/2). (FOTO: Johni Siki/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

IDAI Gelar Seminar Ilmiah, Wagub: Orang Pendek Belum Tentu Stanting


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur dan NTT bersama KALBE Nutritionals, menggelar seminar ilmiah bertajuk “NTT Melawan Stunting”, bertempat di aula Fernandes Kantor Gubernur NTT, Selasa (11/2).

Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi saat membuka kegiatan itu mengatakan stunting biasanya dikategorikan dengan orang yang bertubuh pendek. Tapi tidak selamanya pendek itu stunting. Rata-rata yang pendek itu stunting karena tidak tumbuh dan berkembang normal. Stanting karena asupan gizinya kurang, pola hidup karena lingkungan yang tidak bersih dan tidak nyaman.
Selain faktor kurang gizi, juga berkaitan dengan kemiskinan.

“Miskin sudah pasti gizinya kurang dan kemampuan intelektualnya akan rendah. Seseorang dikategori stunting tentu kognitifnya ikut rendah, termasuk afektif dan psikomotoriknya juga pasti lebih rendah,” ungkapnya.

Untuk itu, Josef Nae Soi mengapresiasi kegiatan seminar “NTT Melawan Stunting” yang dilakukan tim dokter ahli dari IDAI Jawa Timur dan NTT ini.

Menurut Wagub, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk ibu dan anak juga bagi perkembangan masyarakat NTT kedepan. Untuk itu, atas nama pemerintah dan rakyat NTT, Wagub memberikan apresiasi yang tinggi atas hasil penelitian ini.

“Hasil penelitian ini merupakan hasil riset berdasarkan metodologi dan ketentuan ilmiah yang sudah diuji kebenarannya. Untuk itu pemerintah dan masyarakat harus serius memeperhatikan kesehatan anak sejak dalam kandungan, anak yang baru lahir dan pertumbuhannya,” pesan Wagub.

Ketua IDAI Jawa Timur, Sjamsul Arif mengatakan, program melawan stunting berlangsung sejak 2017 dan hasilnya baru dapat dipresentasikan. Semoga hasil penelitian dapat membantu program-program Pemprov NTT dalam memerangi stunting.

Sjamsul mengatakan, sesuai data prevelensi stunting di Indonesia, tahun 2019 itu 27,6 persen menurun dibanding tahun 2018, dimana prevelensinya 30,8 persen.

“Harapan kami semoga bisa menurunkan prevelensi ini, untuk mencegah stunting agar anak menjadi pandai dan tinggi untuk generasi emas Indonesia yang akan datang,” tandasnya.

Sementara Ketua IDAI NTT, dr. Frans Taolin mengatakan, selain penelitian, ada pula kegiatan lainnnya yakni corporate social responsibility (CSR)
di Puskesmas dan TK. IDAI, lanjut dr. Frans, juga mengedukasi masyarakat melalui seminar tenaga medis berupa pendidikan kedokteran berkelanjutan yang melibatkan tenaga medis.

“Kita juga merenovasi dua unit sekolah TK di Kupang bahkan menggelar temu malam puncak HKN dengan pemerintah Kabupaten Kupang yang menghadirkan Ketua IDAI Pusat, IDAI Jawa Timur, IDAI NTT, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI),” katanya.

Direktur KALBE Nutritionals, Yuni Herawati mengatakan sejumlah kegiatan
CSR tidak hanya dalam bentuk pelayanan dan pendidikan tetapi diikuti penelitian tim ahli dari IDAI NTT, Jawa Timur dan dukungan Pemprov NTT.

Dikatakan, NTT menjadi pilot project penilitian karena sesuai data nasional, angka stanting di wilayah ini cukup tinggi. “Ini menjadi tantangan besar bagaimana meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan anak. Data riset ini tentu menjadi acuan bagi Pemprov NTT juga provinsi lain di Indonesia agar bisa membantu mengurangi stunting,” katanya. (*/aln)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top