Kisah Suster Lucia Bersama Yasbida Sikka, Puluhan Tahun Rawat Ratusan Pasien Disabilitas Tanpa Pungut Biaya | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kisah Suster Lucia Bersama Yasbida Sikka, Puluhan Tahun Rawat Ratusan Pasien Disabilitas Tanpa Pungut Biaya


WAWANCARA. Suster Lucia CIJ, Pimpinan Yayasan Dymphna Cabang Sikka. (FOTO: Karel Pandu/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Kisah Suster Lucia Bersama Yasbida Sikka, Puluhan Tahun Rawat Ratusan Pasien Disabilitas Tanpa Pungut Biaya


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Ada cerita haru dan membanggakan yang dilakukan Suster Lucia CIJ (Meo Sofia), yang kini memimpin Yayasan Bina Daya (Yasbida) Panti Rehabilitasi Penyandang Disabilitas St. Dymphna, Maumere, Kabupaten Sikka.

Sejak 33 tahun silam, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Panti St. Dymphna itu, Suster Lucia bersama puluhan perawat dan psikolog dengan ulet, telaten dan penuh kesabaran serta kasih sayang merawat ratusan pasien penyandang disabilitas yang ditampung di panti itu. Lebih mulianya lagi, Suster Lucia merawat para pasien tanpa memungut sepeserpun biaya dari para pasien apalagi keluarga pasien.

“Selama saya merawat para pasien yang datang dari berbagai daerah di seluruh wilayah NTT, bahkan dari luar NTT ini, saya tidak pernah memungut biaya sepeserpun. Kalau saya pungut biaya maka pasien akan dipasung kembali. Saya hanya bisa pasrah dan terus berusaha serta berdoa untuk membantu mereka orang-orang kecil ini,” ungkap Suster Lucia saat bersama para perawatnya menerima kunjungan para pewarta di Kabupaten Sikka yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) bertempat di Panti St. Dymphna, Jl. Litbang Wairklau Napunglangir, Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Sikka, Jumat (14/2).

Suster Lucia mengisahkan, para pasien yang ada di panti ini, ada yang ditemukan di jalanan, ada yang diantar langsung pihak keluarga dengan harapan agar pihak yayasan atau panti ini dapat membantu menyembuhkan anggota keluarganya.

Melihat kondisi pasien yang dibawa, Suster Lucia mengaku hanya bisa tersenyum dan terus memberikan dorongan semangat kepada para perawatnya untuk selalu bekerja dengan penuh kesabaran dan hati yang tulus merawat seluruh pasien.

“Selama belasan tahun saya tidak pernah pungut biaya apapun dari pihak keluarga. Hari ini para wartawan datang dengan penuh keikhlasan hati, penuh rasa kasih sayang dan mencintai orang-orang kecil. Saya bahagia kedatangan wartawan akan membantu melalui tulisannya untuk diketahui banyak orang,” ungkap Suster Lucia.

Suster Lucia mengaku, hal yang membuat dia dan para perawat tetap setia, ikhlas dan tulus merawat para pasien meski tanpa memungut upah karena diantara mereka yang dirawat itu sudah ada yang sembuh. Bahkan yang sudah sehat itu kembali mengabdikan diri mereka membantu para perawat merawat pasien lainnya yang belum sembuh.

Para suster dan perawat di Panti St. Dymphna. (FOTO: Karel Pandu/TIMEX)

Ada juga dari mereka yang sudah sembuh itu melanjutkan pendidikannya hingga Perguruan Tinggi di Universitas Nusa Nipa (Unipa) jurusan Psikologi.

Suster Lucia menyebutkan, pasien tersebut bernama Paulus Lunga asal Mbay, Kabupaten Nagekeo. Pasien lainnya yang saat ini sudah sembuh berasal dari SoE, Kabupaten TTS bernama Vina. Vina ini dirawat selama lebih kurang satu tahun.

“Pasien kami yang sudah sembuh saat ini berjumlah 6 orang. Mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan mampu membantu pasien lainnya, sementara yang lain sementara kuliah,” beber Suster Lucia bangga.

Suster Lucia menyebutkan, ia pertama kali datang ke Panti Dymphna itu tepatnya 13 Januari 1987, 33 tahun yang lalu dengan hanya memiliki modal Rp 500.000. Kondisi Panti saat itu hanya berupa hutan belukar. Namun dengan kekuatan doa dan Tuhan pun mendengarkan doanya.

Suster Lucia mengisahkan, selama satu tahun berada di Panti Dymphna, dan berkeliling Kota Maumere, ia menemukan orang dengan gangguan jiwa yang duduk ditempat sampah sambil mengais sisa–sisa makanan.

“Saya masuk pertama di Panti ini hanya ada hutan. Uang yang saya miliki hanya Rp 500.000. Dengan doa, saya yakin pasti mampu menghadapi kesulitan ini. Saya mengelilingi Kota Maumere selama satu tahun, dan saya temui banyak orang gila, cacat, bisu dan tuli, ada yang hanya mengais sampah dijalanan untuk mencari sisa-sisa makanan,” papar Suster Lucia.

Fakta yang ditemui Suster Lucia ini sungguh mengharukan. Suster Lucia pun mendekati orang-orang itu dan membawanya ke Panti dan merawat dengan penuh kasih, sabar dan doa dengan suatu keyakinan suatu saat orang ini pasti sembuh.

Para pasien dan perawat di Panti Dymphna, Jumat (14/2). (FOTO: Karel Pandu/TIMEX)

Suster Lucia dihadapan para wartawan juga memuji para perawat dan psikolog yang tanpa kenal lelah mengasuh dan merawat para pasien serta mengurus seluruh kebutuhan pasien. Siang malam tidak mengenal lelah para perawat ini terus mengurus, mulai dari makan bergizi, mandi mengantikan pakaian.

“saya bangga dengan kerja keras para perawat dan psikolog yang tidak mengenal lelah, mengurus para pasien siang dan malam. Mulai dari mengurus soal makan, mandi, berpakaian, membersihkan kotorannya. Semua dijalani dengan ikhlas tanpa memungut biaya dari siapapun,” katanya.

Panti Dymphna saat ini, kata Suster Lucia, memiliki 26 perawat dan dua orang psikolog yang setiap hari bekerja mengurus seluruh pasien.

Dikatakan, selama 33 tahun ia mengabdi di Panti Dymphna ini, tercatat sudah merawat 293 orang pasien dan berhasil sembuh. Sementara saat ini pasien yang sementara dalam proses perawatan berjumlah 124 orang, terdiri dari 117 pasien wanita, dan 7 pasien laki-laki.

“Tekad kami di panti ini adalah bekerja membantu orang kecil tanpa memikirkan uang. Lebih penting adalah menyembuhkan manusianya, bukan uang. Kami akan terus berusaha membantu orang-orang kecil. Jangan karena uang, mereka ditelantarkan. Mereka harus dirawat dengan tulus hati, dan kita percaya Tuhan pasti memberikan jalan yang terbaik,” ungkap Suster Lucia memotivasi.

Terpisah, Vina, pasien asal TTS yang sudah sembuh kepada media ini mengaku, awalnya ia tidak tahu kalau dirinya berada di Panti Dymphna dan dirawat. Ia baru sadar dan tahu setelah satu bulan lebih berada di panti itu. Ia mendapat penjelasan dari perawatnya bahwa orang–orang menemukannya dalam keadaan telanjang. Tidak ada yang mengurusnya, tidak ada yang mampu untuk merawatnya. Setelah sadar iapun kaget karena disekitarnya ada suster yang merawatnya.

“Selama satu bulan saya tidak sadaran diri, saya stres selama satu bulan telanjang tidak sadarkan diri, saya tidak tahu kalau saya berada di panti ini. Saya masuk panti ini pada 10 Oktober 2018, dan saat ini saya sudah sembuh, saya berterimakasih kepada Suster Lucia dan seluruh perawat yang sudah merawat saya,” ungkap Vina.

Salah seorang koordinator program Yasbida Cabang Sikka, Dion Ngeta, mengatakan, dalam penanganan pasien dilakukan dengan berbagai tahapan terapi. Diantaranya terapi motorik kasar, terapi bicara, terapi psikologi, dan terapi prilaku. Bahkan ada pendekatan sosial. Semuanya berlaku sama untuk seluruh pasien.

“Ada beberapa terapi yang kami lakukan untuk membantu para pasien. Semua tahapan terapi itu beralku sama. Upaya ini kami lakukan sampai pasien sadar dan sembuh,” ujar Dion. (Kr5)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top