Bank NTT Hadirkan Kopi Flores Rp 2 Ribu/Sachet | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Bank NTT Hadirkan Kopi Flores Rp 2 Ribu/Sachet


Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi, Ketua DPRD Ngada, Berny Dhey Ngebu, saat peresmian pabrik kopi Wolowio, Bajawa. Bank NTT memfasilitasi kredit lunak sehingga hadir industri kopi yang memproduksi dalam bentuk sachet 12 gram seharga Rp 2 ribuan. (FOTO: Istimewa)

Advetorial

Bank NTT Hadirkan Kopi Flores Rp 2 Ribu/Sachet


Terobosan Cerdas Bank NTT, Diapresiasi Bupati-DPRD, Diberinama WOLOWIO

BAGI para penikmat kopi, cita rasa yang original adalah segalanya. Apalagi itu kopi lokal. Aromanya yang khas,  memacu rasa ingin segera menyeruputnya hingga dasar cangkir. Di berbagai wilayah di Provinsi NTT, kedai-kedai kopi, warung kopi ibarat jamur. Tumbuh dimana-mana. Sayang, banyak kopi luar merajalela di pasaran sehingga para penikmat kopi pun menggadaikan rasa itu. Asal ada kopi untuk diseruput.

Namun Bank NTT melakukan kajian yang luar biasa. Mereka menganalisa tingkat kebutuhan pasar akan kopi local yang benar-benar original. Pasarnya lumayan bagus, sangat menjanjikan. Karena tak sedikit pencinta kopi yang terus memuja aroma kopi yang asli. Salah satunya kopi Bajawa-Flores.

Kajian itu pun  merekomendasikan untuk dihadirkannya satu pabrik kopi di Warusoba, Desa Beiwali Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, di daratan Flores-NTT. Industri itu diberinama Rumah Produksi Kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) dengan jenis produk yang diberinama Wolowio, Kopi Bubuk Organik.

“Kami memilih memfasilitasi Kopi Bubuk Organik Wolowio di Bajawa karena sudah menjadi komitmen Bank NTT untuk membangun industry sesuai potensi local di sebuah daerah. Apalagi Kopi Bajawa terkenal dengan aroma dan cita rasanya yang khas,”tegas Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi, kepada Timor Express belum lama ini di ruang kerjanya.

Dalam diskusi itu, Izhak mengatakan, dihadirkannya industry kopi organic Wolowio adalah bagian dari skenario sistem pembiayaan yang diciptakan oleh Bank NTT. Yakni mulai dari menanam kopinya sampai pada proses industri pengolahannya. “Dengan terobosan  ini maka mitigasi resikonya kian menurun.

Kemudian, ini menyentuh langsung pada potensi unggulan di Ngada. Dengan pasar yang ada dan semakin baik untuk kopi, maka tentu saja akan memaksa dia untuk terus berproduksi ke volume yang lebih besar,”tambah Izhak lagi.

Terobosan ini menjadi model baru yang dilakukan Bank NTT kedepan sehingga pihaknya berharap nantinya tidak saja kopi melainkan potensi lain seperti kemiri serta sector pertanian yang lain pun diperlakukan sama.

“Kami berterimakasih kepada Pak Bupati Ngada yang sangat responsif dengan ekosistem baru yang kita terapkan ini.  Sesuai dengan grand strategy kita, kedepan kita akan bagi NTT ini kedalam beberapa wilayah kerja sesuai unggulannya. Misalnya Bajawa sampai Labuan Bajo itu ada industri Kopi, Ende sampai ke Lembata kita dorong kelapa, perikanan, lalu Sumba kita dorong peternakan dan pariwisata, dan Timor kita juga dorong hal yang sama yakni tenak dan pariwisata,”tegas Izhak. “Ini harus terus diproteksi sehingga member nilai manfaat kepada masyarakat,” tambahnya.

Dia menyebut, berkurangnya angka pengangguran, komoditas menjadi tinggi nilainya, dan yang terpenting, industry ini menghidupi banyak orang. Untuk tahun ini, Bank NTT sudah mendesain ekosistem pembiayaan terhadap potensi-potensi lokal yang menjadi promadona, agar semakin banyak industru yang bertumbuh agar ke depan, bukan produk mentah yang dikirim, melainkan yang sudah jadi.

Untuk diketahui, Kopi Organik Wolowio yang diproduksi oleh Rumah Produksi Kopi AFB Wolowio ini adalah jenis kopi yang ditanam di seluruh lahan masyarakat Kabupaten Ngada. Kepada Timor Express saat diwawancarai dari Kupang, Manager Rumah Produksi Kopi AFB Wolowio, Leo Suri tak mampu menyembunyikan rasa terimakasih mereka kepada Bank NTT. Dijelaskan, Bank NTT memberikan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada kelompok UPH Primavera selaku pengelola sebesar Rp 300 juta.

Bantuan kredit ini digunakan untuk pengadaan mesin penggorengan 20 kg dan 5 kg, mesin bubuk dan mesin sachet serta pembangunan rumah produksi kopi. “Dana langsung masuk ke rekening dan dikelola oleh kelompok dengan jangka waktu pengembalian selama lima tahun. Kami merasa terbantu karena skema pembiayaannya mudah, dan masuk kategori kredit lunak sehingga kami tidak diberatkan dengan bunga. Dengan dorongan Bank NTT ini, maka kami mulai berproduksi terhitung Januari 2020 dengan proses akhir sudah dalam bentuk sachet,”tegas Leo.

Satu sachet ukuran 12 gram, mereka jual seharga Rp 2 ribuan saja, dan harga ini bersaing dengan kopi luar yang menurut masyarakat setempat, belum dipastikan komposisi campurannya.

“Kalau kopi Wolowio, seluruh isinya adalah kopi local. Jadi, kami hanya jual kopi asli,d engan ukuran 12 gram atau satu cangkir, seharga Rp 2 ribu. Ini sangat luar biasa. Hanya dengan nilai uang dua ribuan, Anda sudah menikmati secangkir kopi asli Bajawa, tentu ini terobosan yang luar biasa dari Bank NTT, dan kami sangat apresiasi,”tegas Leo lagi.

Tak hentinya dia berterimakasih kepada Bank NTT yang sudah membantu mereka. Apalgi, ketika ada industry, dia sudah mempekerjakan sejumlah karyawan baik itu di pabrik maupun divisi pemasaran. “Kami benar-benar terbantu dengan model penyertaan usaha seperti ini, karena kredit lunak dan diberi waktu pengembalian selama lima tahun dengan bunga yang kecil. Bank NTT sudah memberi pada kami akses modal yang sangat mudah, dan tentunya bagi kami ini sebuah anugerah. Kami syukuri. Kami apresiasi perhatian Bank NTT dan kami yakini bahwa dengan bantuan ini, usaha kami pasti maju,”tegas Leo sembari menambahkan, selama ini kopi-kopi asli Flores yang beredar, adalah kemasan 250 gram, namun dengan alat produksi yang baru ini, mereka bisa memproduksi kopi dengan kemasan kecil, satu sachet berukuran 12 gram. “Dengan cukup harga dua ribuan, masyarakat sudah bisa menikmati kopi asli Bajawa. Ini sebuah terobosan bisnis yang sangat cerdas, dan kami yakin usaha ini akan sukses,”tutupnya.

Diapresiasi Bupati-DPRD Ngada

Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, sangat bangga atas hadirnya industri kopi baru di wilayahnya. Selasa (28/1) lalu, Bupati Soliwoa hadir dan meresmikan Rumah Produksi Kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) yang berlokasi di Warusoba Desa Beiwali Kecamatan Bajawa. Peresmian tersebut ditandai dengan pengguntingan pita pintu masuk dan peninjauan rumah produksi Kopi.

Bupati Soliwoa didampingi Ketua DPRD Ngada, Berni Dhey Ngebu, Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi dan pimpinan Bank NTT Cabang Bajawa, Stefanus Tuga. Momen itu dihadiri sejumlah pimpinan perangkat daerah Kabupaten Ngada, jajaran Direksi Bank NTT dan karyawan, serta pengurus UPH Primavera, anggota dan masyarakat Desa Beiwali.

Bupati Ngada, Paulus Soliwoa dalam sambutannya mengatakan bahwa pembangunan rumah Produksi Kopi AFB Bajawa yang merupakan bantuan modal usaha dari Bank NTT merupakan wujud dan dukungan nyata lembaga ini untuk terus mendorong Kopi AFB sebagai sebuah industri yang sangat menjanjikan. Apa yang dilakukan oleh Bank NTT sebenarnya ingin membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat hanya dapat mencapai kemajuan kalau didukung kegiatan ekonomi yang nyata, salah satunya melalui industri-industri kecil seperti pengolahan kopi. Menurut mantan Kadis Sosial Ngada ini, Pemerintah Kabupaten Ngada telah menempuh empat kebijakan dalam rangka mempertahankan kualitas Kopi AFB yakni produksi, keberlanjutan, pemasaran dan perlindungan.

“Kopi AFB kita harus diproteksi sehingga kualitasnya tetap terjaga. Dalam rangka mempertahankan kualitas kopi kita, belum lama ini sebuah lembaga dari Jerman bernama GIZ berkunjung ke Ngada dan bertatap muka dengan Pemerintah. Dalam pertemuan itu telah disepakati beberapa rencana tindak lanjut salah satunya untuk membangun sebuah sistem perkopian kita dari hulu sampai hilir melalui aplikasi sehingga memberikan nilai tambah bagi petani kita. Ini tentu mendukung empat kebijakan kita dalam produksi, keberlanjutan, pemasaran dan yang paling penting adalah proteksi,”katanya.

Dan itu juga berarti Kopi yang dijual dan diproduksi hanya Kopi Arabika Flores Bajawa. Bupati juga memberikan informasi kepada masyarakat terkait dana Pemda yang sejak tahun anggaran 2020 telah dipindahkan ke Bank NTT. Pemda mengembalikan semua dana ke Bank NTT sebab semua persoalan antara Bank NTT dan Pemkab Ngada yang menganjal pada beberapa tahun lalu telah selesai.

Soal uang pemda yang bermasalah pada saat lalu akan menjadi penyertaan modal Pemerintah ke Bank NTT yang akan dikuatkan dengan Peraturan Daerah. Selain itu, pemindahan dana Pemda ke Bank NTT karena Bank ini adalah Bank milik daerah yang harus dikuatkan oleh pemerintah dan masyarakat.

Disampaikannya, saat ini, pemerintah dan masyarakat Ngada mendapatkan dukungan yang luar biasa dari Bank NTT. Dukungan ini harus dibuktikan dengan kesiapan masyarakat. Misalnya dalam pemberian kredit, kalau pinjam cepat maka pengembaliannya harus tepat waktu pula. Kepada semua UPH di Ngada yang mengelola Kopi, Bupati Paulus berpesan untuk terus menata manajemen dan kepengurusan, sehingga dapat bersaing di dunia usaha dalam mengelolah komoditi Kopi sebagai potensi unggulan daerah.

Ketua DPRD Ngada, Berni Dhey Ngebu dalam sambutannya mengatakan kehadiran Rumah Produksi Kopi Wolowio yang dikelola oleh UPH Primavera tentu dapat meningkatkan daya saing dalam kegiatan pengolahan kopi di daerah ini. Oleh karenanya, peningkatan kualitas kopi menjadi hal mutlak yang harus dilakukan oleh kelompok UPH.

Menurut Berni Dhey Ngebu, salah satu persoalan mendasar yang sering dihadapi kelompok pengolah kopi adalah akses modal. Modal menjadi masalah utama karena biaya untuk pengadaan mesin pengolahan saja misalnya bukan sedikit tetapi sangat besar. Dan solusinya hanya satu yaitu mengakses modal berupa pinjaman ke lembaga keuangan. Dirinya memberikan apresiasi dan terima kasih kepada Bank NTT yang telah memberikan kredit usaha kepada UPH Primavera untuk pengolahan kopi.

Dikatakannya, Bank NTT bisa memberikan pinjaman ini karena memang kesulitan modal yang dihadapi petani kita ataupun kelompok pengolah kopi. Dia berharap ke depan, Bank NTT juga bisa membantu untuk usaha industri masyarakat tidak saja komoditi kopi, tetapi komoditi pertanian lain seperti kelapa dan kemiri misalnya.

Dalam sambutannya, mantan Komisioner KPU Ngada ini mengingatkan UPH Primavera untuk memperluas jaringan dan terus mempertahankan kualitas Kopi AFB Bajawa. “Meskipun saat ini ada 14 UPH yang mengelolah kopi, tetapi kalau kita pertahankan kualitas, maka pasar akan membeli produk kita,”tegasnya.

Dirut Bank NTT, Izhak Eduard Rihi melakukan pengguntingan pita saat peresmian pabrik kopi Wolowio, Bajawa, dimana Bank NTT ikut menyupport industri ini. (FOTO: Istimewa)

Bank NTT Hadir untuk Kesejahteraan Masyarakat

Direktur Bank NTT, Izhak Eduard Rihi dalam sambutannya mengatakan Bank NTT hadir tidak saja berpikir untuk pelayanan perbankan pada angka-angka semata, tetapi juga berpikir agar bagaimana pertumbuhan daerah, ekonomi dan pembangunan termasuk infrastruktur sebuah daerah harus lebih baik lagi. Bank NTT hadir bukan sekedar sebagai Bank yang sehat, kuat dan terpercaya, tetapi untuk memastikan kesejahteraan rakyat di setiap Kabupaten/Kota dan Provinsi NTT terwujud. “Bank NTT juga hadir menjadi rumah untuk mencapai kesejahteraan rakyat,”tegasnya.

Menurutnya, untuk mencapai kesejahteraan rakyat, salah satu caranya adalah dengan menjual produk yang menjadi potensi unggulan daerah melalui kegiatan industri. Kabupaten Ngada potensinya sangat hebat dan menjanjikan baik alam maupun sumber daya manusia. Potensi ini bisa bermanfaat kalau ada industrialisasi, sebab potensi tidak akan menjadi hasil kalau tidak ada industri.

“Karena itu, Bank NTT bersama pemerintah terus mendorong agar semua produk unggulan daerah harus dimasukkan dalam sentra industri. Kalau ada sentra industri, maka akan ada hasil produk unggulan daerah yang keluar dari daerah ini. Dengan demikian hasilnya akan berdampak pada kesejahteraan rakyat,”demikian Izhak dalam release Bank NTT Bajawa kepada Timor Express.

Masih menurut Dirut, pembangunan Rumah Produksi Kopi Wolowio yang didanai oleh Bank NTT melalui skema perkreditan membuktikan keseriusan Bank tersebut dalam mengangkat produk unggulan daerah yaitu Kopi Arabika Flores Bajawa Wolowio. Pembangunan Rumah Kopi ini adalah sebuah mimpi yang mulai terwujud, dan bukan tidak mungkin suatu saat Kopi AFB Bajawa akan menggantikan produk produk kopi lainnya. Ini tentu akan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Ngada karena produk ini.  Namun demikian, menurut dia, yang paling penting dari kegiatan ini adalah keberlanjutan. Jangan sampai dalam perjalanannya, lalu berhenti.

Menurutnya, Bank NTT akan terus mensuport pengembangan produk unggulan daerah Ngada ke depan tidak saja kopi, tetapi juga sektor-sektor lainnya.

“Selain kopi, kita juga perlu mendorong revitalisasi bidang pariwisata, sehingga ketika wisatawan datang ke Ngada mereka terlayani dengan baik. Saya juga berterima kasih atas dukungan pemerintah dan masyarakat Ngada sehingga Bank NTT Cabang Bajawa boleh bertumbuh dengan baik. Ini dibuktikan dengan asset yang terus bertumbuh, penyaluran kredit yang semakin meningkat serta laba yang cukup baik pula,”katanya.  (boy/**)

Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top