Ratusan Babi Mati Mendadak di TTU, Dinas Peternakan Kirim Sampel ke Medan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ratusan Babi Mati Mendadak di TTU, Dinas Peternakan Kirim Sampel ke Medan


VAKSIN. Tim dari Dinas Peternakan TTU melakukan pengobatan dengan memberikan vaksin sebagai langkah pencegahan terhadap maraknya kematian ternak babi di TTU akibat virus yang mewabah. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Ratusan Babi Mati Mendadak di TTU, Dinas Peternakan Kirim Sampel ke Medan


Ingin Pastikan Penyebabnya Virus ASF atau Hog Cholera

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Ratusan ekor babi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mati mendadak dalam beberapa hari terakhir. Dugaan sementara, penyebab kematian ratusan ekor babi itu akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.

Guna memastikan penyebaran virus tersebut, Dinas Peternakan Kabupaten TTU saat ini tengah berupaya melakukan pengiriman sampel ke Balai Veteriner Medan untuk memastikan penyebab kematian ternak babi di beberapa kecamatan tersebut, apakah karena ASF ataukah hog cholera.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTU, Fransiskus Fay kepada Timor Express, di Kefamenanu, Kamis (20/2) mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait matinya ratusan ekor ternak babi di beberapa wilayah kabupaten itu.

Setelah mendapat laporan itu, lanjut Fransiskus, pihaknya langsung mengerahkan pegawainya turun lapangan guna memastikan penyebab matinya ratusan ekor babi tersebut, apakah karena ASF atau hog cholera. Pasalnya kedua penyakit ini memiliki gejala yang mirip.

“Meskipun tidak membahayakan manusia, namun masyarakat khususnya para peternak babi diimbau tetap menjaga kebersihan terutama melakukan disinfektan sebelum dan sesudah berinteraksi dengan ternak babi,” tutur Fransiskus.

Fransiskus menjelaskan, pihaknya telah mengantongi data terkait adanya wabah yang menyerang ternak babi di sejumlah kecamatan di TTU. Di antaranya Kecamatan Biboki Anleu, Insana Utara, Insana Fafinesu, Bikomi Utara, Bikomi Selatan, dan Kecamatan Kota Kefamenanu.

Kuat dugaan wabah tersebut disebabkan oleh virus ASF atau demam babi afrika. Sejumlah ternak babi yang dilaporkan mati menunjukkan gejala yang sama yakni demam tinggi, muntah, diare, munculnya bintik-bintik perdarahan (eritema) di kulit atau daun telinga babi, kehilangan nafsu makan hingga kematian.

“Sampel pengiriman pertama, belum mengarah ke ASF dan saat ini kita melakukan pengiriman sampel kedua memastikan penyebab kematian ternak babi di beberapa kecamatan tersebut, apakah karena ASF ataukah hog cholera,” jelasnya.

Dikatakan, ASF dan hog cholera tidak menular dari babi ke manusia, tetapi menular antar sesama babi. Meskipun demikian, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi daging babi mati dan lebih berhati-hati membeli daging yang dijual bebas di pasaran.

Apabila ada ternak babi yang mati, masyarakat harus segera melapor ke petugas peternakan tingkat kecamatan agar ditangani dengan langkah yang tepat.

“Bila ada ternak sakit atau mati harus dilaporlan ke petugas tingkat kecamatan agar melakukan tindakan cepat. Ternak yang mati harus dikubur dan tidak boleh dikonsumsi. Petugas peternakan siap melayani masyarakat. Kalau susah ada satu atau dua ternak babi yang terjangkit wabah, maka kandang harus disterilkan minimal dua bulan. Itu dilakukan untuk memutus siklus hidup virus,” katanya.

Terkait Upaya yang dilakukan Dinas Peternakan, tambah Fransiskus, pihaknya juga telah mengambil langkah inspeksi mendadak di pasar dan melakukan pemeriksaan post mertem guna memastikan daging babi yang dijual di pasaran layak atau tidak untuk dikonsumsi masyarakat.

Apabila tim menemukan daging-daging yang tidak layak konsumsi, maka akan disita dan dimusnahkan. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisasi peluang masyarakat mengonsumsi daging yang tidak layak konsumsi.

Selain itu juga, katanya, tim dari Dinas Peternakan telah mendatangi lokasi wabah tersebut guna memberikan vaksi kepada sejumlah ternak babi yang masih belum terjangkit virus sehingga stamina tetap terjaga dan tetap sehat.

“Ada beberapa upaya yang kita lakukan yakni vaksin dan sidak di pasar untuk memastikan kondisi daging yang dijual tersebut sehingga daging dari babi yang mati karena virus itu tidak layak untuk dipasarkan,” pungkasnya. (mg26)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top