4 Anggota DPRD NTT Kunjungi SMAN 2 Borong, Begini Harapan Sekolah | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

4 Anggota DPRD NTT Kunjungi SMAN 2 Borong, Begini Harapan Sekolah


MOTIVASI. Yohanes Rumat (Berdiri, kanan) bersama anggota DPRD Provinsi NTT lainnya saat berkunjung ke SMAN 2 Borong, Kamis (20/2). (FOTO: Fansi Runggat/TIMEX)

PENDIDIKAN

4 Anggota DPRD NTT Kunjungi SMAN 2 Borong, Begini Harapan Sekolah


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Empat anggota DPRD Provinsi NTT, Kamis (20/2) mengunjungi SMA Negeri 2 Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Kehadiran para wakil rakyat tersebut, yakni Yohanes Rumat, Inosensius Fredi Mui, Yohanes Halut, dan Jimur Siena Katarina, membawa angin segar bagi pengembangan maupun peningkatan mutu di sekolah itu.

Kehadiran empat legislator di sekolah yang berlokasi di Kembur, Kelurahan Satar Peot itu diterima secara adat Manggarai “Kepok Sundu” oleh para guru. Mereka juga disambut dengan tarian kreasi Manggarai.

Hadir dalam kunjungan para politisi itu, Ketua Komite SMAN 2 Borong, Vinsen Haliman, para guru, pegawai sekolah, dan seluruh siswa-siswi.

“Kami hadir disini, tentu fokus mau bicara tentang pendidikan. Lembaga SMA, SMK, dan SLB, harus bertuan. Tuannya itu, kami yang DPRD dan juga Gubernur. Kalau guru dan pelajar disini tidak kenal tuannya, maka celakalah sekolah itu,” ujar anggota DPRD Provinsi, Yohanes Rumat, di depan para guru, pegawai, dan siswa-siswi SMAN 2 Borong.

Yohanes Rumat mengatakan, jika sudah tahu tuannya, tentunya harus menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik.

“Banyak orang yang pukul dada karena memiliki jaringan di pusat, dan mengabaikan pemerintah provinsi. Padahal tanpa sadar, segala urusan administrasi seperti input data pokok pendidikan (Dapodik), tetap harus lewat provinsi,” katanya.

Yohanes mengakui bahwa proses peralihan pendidikan SMA/SMK dari kabupaten/kota ke provinsi bukan perkara mudah. “Ini seperti hidup enggan, mati tak mau. Prosesnya semuanya tidak gampang. Sekarang kami di provinsi lagi pikir, endingnya ke depan seperti apa. Tapi semua itu yang penting kita pahami dulu tuannya,” tandas Yohanes Rumat.

Yohanes mengatakan, kehadiran mereka ke sekolah tersebut membawa kabar baik, dimana untuk tahun anggaran 2020 ini, SMAN 2 Borong mendapat bantuan perangkat komputer sebanyak 15 unit dan satu unit server. Untuk guru non PNS, DPRD dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT sudah mengalokasikan anggaran untuk insentif.

“Sementara untuk bangun gedung akan diperjuangkan tahun depan. Untuk gedung tahun ini belum dapat. Tapi dapat komputer dan server. Sementara SMA, SMK dan SLB yang ada di Matim, ada alokasi anggaran untuk bangun ruang kelas dan sarana lainya. Berdoa saja dan mari kita terus berkomunikasi, agar tahun depan sekolah ini dapat alokasi untuk bangun gedung,” ungkap Yohanes.

Legislator Jimur Siena Katarina yang ikut hadir menambahkan bahwa pada prinsipnya DPRD pasti memperjuangkan apa yang menjadi usulan dari rakyat, termasuk usulan dari SMAN 2 Borong. Terkait usulan bangun pagar, Seina menyarankan pihak SMAN 2 mengajukan proposal ke dinas terkait di provinsi.

“Sebagai wakil rakyat, kami siap membantu. Saya juga berharap kepada sekolah untuk betul-betul persiapkan Dapodik. Perkuat administrasi, sehingga apa yg diinginkan bisa terwujud. Salah satu untuk dapat kue pembangunan, yang dituntut Dapodiknya harus benar,” kata Siena.

Anggota DPRD lainnya, Inosensius Fredi Mui meminta para siswa SMAN 2 Borong agar siap dengan situasi perekembangan teknologi. Dimana saat ini, terjadi pergeseran yang luar biasa. Sehingga para siswa harus gunakan waktu dengan baik untuk belajar. Selain itu siswa juga harus gunakan media sosial yang ada manfaatnya atau ada dampak untuk peningkatan ilmu pengetahuan.

Selain itu kata Fredi, proses peralihan SMA/SMK ke provinsi, bukan soal guru tapi menyangkut kependidikan secara keseluruhan. Untuk provinsi NTT, dari jumlah SMA/SMK, Kabupaten Matim paling banyak. Persoalanya saat ini, ternyata banyak sekolah yang berdiri tidak berdasarkan analisis yang betul.

“Awalnya, sekolah ini didirikan tidak berdasarkan analisis, tapi atas dasar lele tuak. Terkait guru komite dan kontrak, kami tetap berusaha kedepan untuk lebih baik. Kami minta jangan patah arang, tetapi guru itu selalu semangat. Kami dan Pemprov NTT yang pasti memperhatikan nasib guru honor atau komite di NTT,” ujar Fredi.

Wakil Kepala SMAN 2 Borong, Adriana P. Sarana, menjelaskan SMAN 2 Borong berdiri sejak 2010. Saat ini terdapat 21 rombongan belajar (Rombel) dengan jumlah siswa seluruhnya 584 orang. Sementara guru berjumlah 40 orang. Guru PNS 17 orang dan non PNS 23 orang.

Adriana menjelaskan, dari 23 guru non PNS itu, sebanyak 4 orang berstatus guru kontrak sedangkan yang lainnya merupakan guru komite. Sementara pegawai atau non guru berjumlah 6 orang. Dengan banyaknya rombongan belajar, sekolah membutuhkan tambahan 6 ruang kelas baru. Termasuk ruangan guru dan kantor/ruang kepala sekolah. Ada tiga kelas di sekolah itu yang gunakan gedung darurat.

“Kami disini belum memiliki ruang guru. Padahal sekolah ini berdiri sejak 2010. Sehingga untuk sementara, ruangan guru kami pakai ruangan kelas. Saat ini ada 16 ruang kelas, dan saat ini kami butuh lagi 6 ruang kelas. Kami juga saat ini lagi butuh untuk bangun pagar. Sehingga butuh dukungan DPRD,” pinta Adriana. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya PENDIDIKAN

To Top