Membangun Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga yang Bermartabat | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Membangun Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga yang Bermartabat


Joni Manhitu (FOTO: Istimewa)

OPINI

Membangun Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga yang Bermartabat


Refleksi Atas APP 2020

DALAM tradisi Gereja Katolik Indonesia, setiap kali memasuki masa prapaskah yang diawali dengan perayaan hari Rabu Abu, umat diajak untuk melakukan olah rohani dalam rangka tobat dengan apa yang disebut APP (Aksi Puasa Pembangunan).

Kegiatan ini merupakan satu situasi yang dihadirkan oleh Gereja bagi umat beriman katolik dalam mewujud nyatakan tindakan tobat. Esensi dari puasa ialah pertobatan yang menghantar pada transformasi diri. Dengan pertobatan manusia menanggalkan pola hidup lama yang terkurung dalam kebiasaan-kebiasaan buruk dan kembali menata hidup sesuai dengan nilai-nilai Injil.

Dalam masa prapaskah semangat yang mengayomi ialah ungkapan rasa tobat pribadi yang melingkupi doa, puasa, pantang, dan amal. Setiap usaha pemurnian diri ini menuju pada satu tujuan ialah tercapainya transformasi hidup baik secara pribadi maupun sosial.

Tema Aksi Puasa Pembangunan Nasional tahun 2020 adalah “Membangun Kehidupan Ekonomi Keluarga Yang Bermartabat”. Uskup Agung Kupang dalam surat gembalanya menegaskan keterbukaan manusia terhadap karya Roh Kudus yang membantu persekutuan iman guna melibatkan diri dalam upaya-upaya kesejahteraan hidup manusia yang bermartabat dan berkelanjutan.

BACA JUGA: “Membangun Hidup Ekonomi Yang Bermartabat”

Membangun sikap hidup yang terbuka, aktif dan kreatif dalam menyokong program penyejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan, dalam perihal sosial-ekonomi. Kepedulian terhadap sesama hendaknya terlaksana dalam bimbingan Roh Kudus, agar kerjasama dan kemurahan hati semakin meliputi gaya hidup kita selaras dengan gaya hidup Yesus yang penuh belas kasih.

Dalam konteks Keuskupan Agung Kupang, tema nasional APP tahun 2020 direnungkan selama masa puasa dengan lima sub tema, yaitu 1. Keluarga di Tengah Persoalan Sosial Ekonomi, 2. Manusia sebagai Pusat dan Tujuan Ekonomi, 3. Keluarga, Kehidupan Ekonomi dan Kerja, 4. Keluarga, Kehidupan Ekonomi dan Keutuhan Lingkungan Ekologis, dan 5. Mewujudkan Kehidupan Ekonomi Keluarga yang Bermartabat.

Keluarga di Tengah Persoalan Sosial Ekonomi

Situasi zaman yang dinamis mengarahkan manusia pada relativitas hidup. Situasi yang tampak dalam kehidupan kini menuntut manusia untuk mengoptimalkan potensi dalam diri, sehingga memungkinkan manusia untuk tetap bereksistensi sebagaimana mestinya di tengah dunia dengan berbagai persoalan sosial ekonomi yang dihadapi.

Hal yang perlu dihindari ialah menjadi pribadi atau individu yang tidak produktif. Karena pribadi yang tidak produktif menciptakan keadaan khaos dalam kebersamaan. Hal ini juga ditegaskan oleh St. Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Tesalonika, “kami memberi peringatan ini kepada kamu: Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (lih 2 Tes 3: 10).

Eksistensi orang beriman katolik dalam menyikapi berbagai persoalan hidup dituntut untuk berbasis pada nilai-nilai luhur Kristiani. Keseimbangan antara doa dan kerja merupakan hal yang penting bagi orang beriman. Rezeki diatur oleh Allah, sedangkan kewajiban manusia adalah berdoa dan menyelesaikan pekerjaannya.

Manusia sebagai Pusat dan Tujuan Ekonomi

Manusia adalah makhluk ekonomis. Manusia dalam keberadaannya senantiasa terarah pada usaha mengoptimalkan setiap potensi diri dalam dunia pendidikan atau dunia kerja demi mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Manusia senantiasa membutuhkan makanan, minuman, rumah dan fasilitas pendukung lainnya demi memperlancar aktivitasnya. Situasi sekarang menjadikan uang sebagai hal yang urgen. Segala kebutuhan jasmaniah manusia dapat dipenuhi dengan uang. Pertanyaannya adalah: bagaimana manusia menghasilkan serta menggunakan uang? Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah uang untuk manusia dan bukan manusia untuk uang.

Keluarga, Kehidupan Ekonomi dan Kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi baik dalam lingkup keluarga maupun hidup bernegara. Perekonomian yang baik membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas. Kualitas selalu merujuk pada potensi yang dimiliki setiap orang dalam bekerja. Pertumbuhan ekonomi keluarga tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan, namun kreativitas menciptakan lapangan pekerjaan serta cara dan ketekunan dalam menyelesaikan pekerjaan.

Cara dan ketekunan dalam menyelesaikan pekerjaanlah yang menegaskan status ekonomi dalam lapisan masyarakat. Perspektif diri yang keliru terhadap jenis pekerjaan dapat menghantar manusia pada titik di mana manusia hanya menjumpai dirinya sebagai pribadi yang nonproduktif. Gengsi terkadang menjadi tameng kreativitas dan aktualisasi diri dalam kerja.

Keluarga, Kehidupan Ekonomi dan Keutuhan Lingkungan Ekologis

Dalam pemenuhan kebutuhan manusia, manusia senantiasa bergantung pada alam ciptaan lainnya. Dengan akal budi, manusia mengelola kekayaan alam demi mewujudkan situasi hidup yang lebih baik. Keserakahan manusia berakibat pada mengeksploitasi kekayaan alam yang berlebihan. Eksploitasi alam yang berlebihan dapat menimbulkan masalah lingkungan hidup.

Untuk memenuhi tuntutan kehidupan ekonomi, manusia memanfaatkan alam, namun prinsip ekologis hendaknya menjiwai tindakan ekonomi terkait alam, agar keutuhan lingkungan ekologis tetap terjamin untuk kehidupan keluarga yang berkelanjutan.

Keserakahan adalah akar dari semua tindakan ekonomi yang tidak mempertimbangkan aspek ekologis dengan konsekuensi pada kerusakan lingkungan. Keluarga hendaknya menjadi pionir dalam ikhtiar sinergis dengan pelbagai komponen masyarakat untuk menggerakkan kegiatan ekonomi berwawasan ekologis, agar bumi sebagai rumah bersama dapat dihuni berkelanjutan oleh generasi berikut.

Mewujudkan Kehidupan Ekonomi Keluarga yang Bermartabat

Manusia selalu hidup dalam persekutuan. Manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan yang lainnya untuk dapat bertahan hidup. Ketergantungan adalah hal mutlak yang harus diterima oleh manusia sebagai kebenaran. Oleh karena itu dalam menjalani kehidupan, manusia hendaknya menyadari pentingnya hidup bersolider dengan sesama.

Bagaimana menciptakan kerjasama yang berlandaskan cinta kasih untuk mencapai kesejahteraan bersama. Solidaritas dikedepankan, egoisme dikesampingkan demi terciptanya kebebasan dalam kreativitas mengekspresikan diri. Saling tergantung antar manusia menjadi titik tolak ikhtiar solidaritas, namun tetap dijaga agar prinsip subsidiaritas juga dikedepankan demi martabat pribadi manusia itu sendiri dalam membangun kehidupan dengan potensi yang dimiliki.

Keluarga adalah kekuatan setiap orang dalam bereksistensi. Keluarga sebagai tempat persiapan bagi manusia baru sebelum mengalami dimensi kehidupan secara utuh. Dalam keluarga setiap orang tumbuh dan berkembang, memahami makna kehidupan melalui pendidikan orang tua dan dapat dipahami pula bahwa pembentukan kepribadian serta kualitas setiap pribadi dalam keluarga pertama-tama ialah oleh orang tua.

Secara moral orang tua menjadi pendidik pertama bagi setiap beradanya individu baru. Kualitas individu dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh ekonomi keluarga. Ekonomi yang baik dapat menghantar manusia untuk mengoptimalkan akal budinya melalui pendidikan. Keadaan ekonomi keluarga yang memadai juga dapat menghantar pada hidup yang bebas dan bermartabat. (*)

*) Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top