KONI Dukung Pemprov Usul NTT jadi Tuan Rumah PON 2028, Andre Koreh: Harus Kerja Keras | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

KONI Dukung Pemprov Usul NTT jadi Tuan Rumah PON 2028, Andre Koreh: Harus Kerja Keras


AUDIENS. Jajaran Dispora NTT bersama KONI NTT saat audiens membicarakan persiapan NTT menjadi calon tuan rumah PON XXII/2028 di ruang rapat KONI, Stadion Oepoi, Senin (2/3). Tampak Ketua Umum KONI NTT, Andre W. Koreh dan jajaran serta Kadispora Hilda Bria Seran dan jajaran. (FOTO: RUDY MANDALLING/TIMEX)

SPORT

KONI Dukung Pemprov Usul NTT jadi Tuan Rumah PON 2028, Andre Koreh: Harus Kerja Keras


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan mendukung upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT yang ingin mencalonkan diri menjadi tuan rumah penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028 mendatang.

“Kita sangat mendukung NTT mencalonkan diri menjadi tuan rumah PON XXII/2028. Sebagai pengurus olahraga yang sudah 25 tahun mengurus organisasi olahraga, ini mimpi yang telah ditunggu-tunggu. Sebab menjadi tuan rumah PON, tidak saja sekadar melaksanakan pertandingan atau perlombaan, tapi ada multiplayer effect yang bisa kita peroleh,” ungkap Ketua Umum KONI NTT, Dr. Ir. Andre W. Koreh, MT saat audiens Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) NTT dengan unsur pengurus KONI NTT di ruang rapat KONI NTT, Stadion Oepoi, Senin (2/3).

Dalam audiens itu, Dispora NTT hadir Kadispora, Hildagardis Bria Seran bersama Sekretaris, Wellem Enga, dan para Kepala Bidang, yakni Aloysius Min, Johny Rohi, dan para kepala seksi. Sementara Andre Koreh didampingi Sekretaris Umum KONI, Umbu Saga Anakaka, Wakil Ketua, Lambert Tukan, Jimmy Sianto, Theo Widodo, Wakil Sekretaris, Eduard Setty, dan para Ketua Bidang/Wakabid seperti Dr. Frans Sales, Viktor Mado Watun dan Marthen Bana.

Menurut Andre, untuk menjadi tuan rumah PON 2028, NTT sangat bisa. Namun untuk mewujudkan itu perlu kerja keras, karena tahun depan NTT harus siap mengajukan diri sebagai calon tuan rumah dan memaparkan kesiapannya.

“KONI NTT tentunya memberikan dukungan penuh, karena untuk menjadi tuan rumah, NTT sangat bisa tapi tidak mudah. Butuh kerja keras,” kata Andre Koreh usai mendengar paparan Dispora NTT terkait draft Grand Desain Kesiapan NTT menjadi calon tuan rumah PON XXII 2028.

Andre dan pengurus KONI NTT lainnya banyak memberikan masukan untuk lebih menyempurnakan grand desain yang telah di buat Dispora NTT.
“Makro desainnya seperti apa, karena kita tidak mungkin mendesain tanpa melibatkan para ahli, misalnya ahli konstruksi, ahli kebijakan publik, ahli olahraga, sehingga bisa lihat sasarannya kemana dan akan terlihat program-programnya mengacu kemana,” urai Andre.

Sebuah grand desain lanjutnya, juga harus di studikan lebih dulu, baru bisa dilihat apakah bisa dijadikan program dan kegiatan, dengan melibatkan semua stake holder.

Andre mengatakan, sebagai tuan rumah, ada tiga tiga sukses yang harus dicapai, yakni sukses tuan rumah/penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses administrasi.

“Semua ini harus tergambar dengan jelas. 2021 kita sudah harus ajukan diri sebagai calon tuan rumah. Persyaratan yang harus di penuhi adalah dari 39 cabor yang kita ajukan, minimal kita sudah memiliki 50 persen venue dari 39 cabor tersebut,” terangnya.

Tak cuma itu, Andre juga mengingatkan Dispora bahwa untuk mengajukan diri sebagai calon tuan rumah, perlu menyiapkan anggaran Rp 6 miliar dimana bukti transfer harus diserahkan bersamaan dengan berkas pencalonan.

Andre menjelaskan bahwa, sesuai regulasi pengajuan calon tuan rumah PON, saat mendaftar harus menyetor anggaran senilai Rp 6 miliar. Ini sebagai uang pot. Dari Rp 6 miliar ini, Rp 1 Miliar pastinya akan habis karena digunakan KONI Pusat untuk menyurvey kesiapan calon tuan rumah. Sedangkan Rp 5 miliar sebagai jaminan, jika terpilih sebagai tuan rumah PON, dana itu menjadi dana awal bagi operasional Penitia Besar PON, jikalau tidak terpilih menjadi tuan rumah, dana Rp 5 miliar itu akan dikembalikan ke daerah.

Tim pemenangan juga harus di bentuk yang akan disebar ke seluruh provinsi, untuk “menjual” kesiapan NTT menjadi tuan rumah.

“Prasarana kita seperti apa, Kesiapan Venue seperti apa, penyelenggaraanya sendiri bagiamana. Sebagai tuan rumah ada yang harus kita tawarkan,” urai Andre.

Andre melanjutkan, Papua misalnya, sebagai tuan rumah PON XX/2020, saat mengajukan diri sebagai calon tuan rumah mereka menawarkan memberikan kemudahan transportasi gratis bagi seluruh kontingen ke setiap venue, juga konsumsi dan akomodasi gratis.

“Itu bagian dari jualan atau promosi. Semua ini harus disampaikan saat kita mengajukan diri sebagai tuan rumah tahun 2021. Itu Gubernur yang akan mempresentasikan secara langsung dihadapan 34 KONI se Indonesia dalam Musornas KONI. Nah, kita NTT yang mau jadi tuan rumah menawarkan apa? Ini harus dipikirkan dan dipersiapkan secara matang,” jelas Andre.

Menurut Andre, Waktu untuk NTT mengajukan diri menjadi tuan rumah tidak banyak karena tahun depan sudah harus diajukan. Hal lain, kata Andre adalah bagaimana mewujudkan sukses prestasi. Bagaimana persiapan atlet untuk meraih prestasi di 2028 pada rencana 39 cabang olahraga yang mau diusulkan itu.

“Jangan sampai ada cabornya dipertandingkan, namun atletnya tidak ada lalu kita hanya jadi penonton. Prestasi harus kita pikirkan bersama sehingga sukses prestasi harus bisa diwujudkan,” beber Andre.

Dikatakan, pembinaan atlet tentunya harus dibina mulai sekarang. Dari 39 Cabor yang mau dimainkan, sebagaimana paparan Kadispora, hanya 29 cabor yang merupakan anggota KONI NTT. 10 cabor lainnya belum ada pengurusnya.

KONI NTT, kata Andre juga menyarankan kepada pemerintah dalam hal ini Dispora NTT, untuk benar-benar memastikan, apakah ingin mengajukan diri sebagai tuan rumah tunggal atau tuan rumah bersama. Misalnya NTT bersama Bali dan NTB. Ini juga harus dipikirkan dari saat ini dan diputuskan juga dalam tahun ini, sehingga ketika mengajukan diri tahun 2021 nanti sudah jelas, mengajukan secara tunggal atau tuan rumah bersama. Kalau mau mengajukan tuan rumah bersama, harus dilobi lagi, NTT dapat cabor apa. Semua ini harus dituntaskan tahun ini untuk menuju 2021.

Andre mengisahkan, peluang NTT menjadi tuan rumah terbuka lebar. Pasalnya jika melihat pembagian wilayah, pada PON XX/2020 ini tuan rumah Papua masuk wilayah Timur. PON XX1/2024 tuan rumahnya Aceh dan Sumatera Utara tuan rumah bersama, dan diwilayah barat. Maka NTT untuk tahun 2028 sangat terbuka lebar karena ada diwilayah tengah.

“Inilah pertimbangan yang saya lakukan saat pemilihan Aceh dan Sumut jadi tuan rumah waktu itu. Saat itu kan Bali-NTB juga mengajukan diri untuk tuan rumah PON XXI/2024. Kita mau ikut gabung waktu itu, sudah terlambat. Jadi saya lapor Pak Gubernur waktu itu, saya memilih tidak dukung Bali-NTB tapi dukung Aceh-Sumut dengan tujuan kalau usul untuk tuan rumah PON 2028, NTT juga bisa ikut, misalnya kalau bersama Bali-NTB, kita juga bisa ikut. Jadi niat Pak Gubernur (Viktor Laiskodat, Red) untuk NTT jadi tuan rumah kita sangat mendukung,” kata Andre.

Menurut Andre, menjadi tuan rumah PON perlu desain besar. “Tapi kita bisa dan dan perlu kerja besar. Tidak sekedar bisa pak, bisa pak, tapi tidak bisa berikan gambaran pahit. Waktu kita cuma setahun untuk mempersiapkannya, mulai sarana prasarana, pembiayaan, sukses prestasi dan juga dampak ekonominya juga harus bisa dihitung.

Andre juga mengingatkan, soal anggaran harus juga tergambar dalam RPJMD Pemprov NTT, kalau mau menggunakan APBD.

Pengurus KONI NTT lainnya, Victor Mado watun yang juga anggota DPRD NTT dalam kesempatan tersebut juga mengatakan, dalam membuat perencanaan, harus juga melibatkan pihak kabupaten/Kota calon tuan rumah dan juga dengan badan keuangan daerah.
Sehingga jika nantinya terjadi pergantian kepala daerah, karena PON baru dilaksanakan 2028, tetap bisa berjalan.

“Kalau menjadi tuan rumah tunggal harus mulai dari sekarang dan kalau tuan rumah bersama harus segera bangun komunikasi,” Kata Victor.

Sebelumnya, Kadispora NTT, Hilda Bria Seran dalam paparannya menyatakan, draft grand desain yang sudah disiapkan itu pemerintah mendesain bahwa untuk tuan rumah PON XXII/2028 nanti, pertandingan/perlombaan akan dipusatkan di tiga pulau besar, yakni Timor, Flores dan Sumba.

Jumlah cabor yang dipertandingkan/dilombakan rencananya 39 cabor. Yakni Futsal, Karate, Taekwondo, Muaythai, Wushu, Bola Volli, Angkat Besi/Angkat Berat, Binaraga, Pencak Silat, Kempo, Bulu Tangkis, Atletik, Anggar, Tenis Meja, Panjat Tebing, Hoki, Panahan, Sepatu Roda, Catur, Billiard, Brigde, Bermotor, Aerosport, Baseball/Softball, Dayung, Layar, Sepak Bola, Akuatik, Tarung Derajat, Sepak Takraw, Senam, Gulat, Gateball, Menembak, Criket, Basketball, Berkuda, Tinju dan Selam.

Menurut Hilda, dengan gambaran ini, stadion utama untuk pembukaan dan penutupan akan dibangun di Tilong, Kabupaten Kupang. Rancangan anggaran untuk membangun sejumlah venue, melalui APBD dianggarkan senilai Rp 4 triliun lebih. (rum/aln)

Komentar

Berita lainnya SPORT

To Top