Hama Belalang Serang Tanaman Jagung, Distan Libatkan Babinsa Semprot Insektisida | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Hama Belalang Serang Tanaman Jagung, Distan Libatkan Babinsa Semprot Insektisida


PERANGI HAMA. Babinsa dari Kodim 1618/TTU bersama mantri tani Distan TTU menyemprot hama belalang dan hama ulat grayak di kebun jagung milik para petani di Desa Sapaen, Kecamatan Biboki Utara. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Hama Belalang Serang Tanaman Jagung, Distan Libatkan Babinsa Semprot Insektisida


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Hama belalang kumbara dan hama ulat grayak mulai menyerang dan merusak tanaman jagung milik petani di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Tanaman jagung yang mulai berbulir dipastikan tidak akan dipanen lagi karena sudah mati akibat serangan hama tersebut.

Guna mengantisipasi penyebaran hama tersebut, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten TTU menggandeng Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Kodim 1618/TTU yang bertugas di masing-masing desa dan kelurahan untuk bersama melakukan penyemprotan insektisida.

Sesuai data yang dihimpun TIMEXKUPANG.com, serangan hama belalang dan ulat grayak ini terjadi di Desa Sapaen, Kecamatan Biboki Utara, Desa Humusu Wini, Kecamatan Insana Utara, dan Desa Susulaku B, Kecamatan Insana. Luas lahan pertanian tanaman jagung yang rusak akibat serangan hama tersebut mencapai lebih kurang 20 hektare.

Petani Desa Sapaen, Kecamatan Biboki Utara, Leonardus Malafu kepada TIMEXKUPANG.com, Selasa (3/3) menuturkan, serangan hama belalang dan ulat grayak pada tanaman jagung milik petani di Desa Sapaen itu berlangsung sangat cepat. Sekali hinggap, daun dan batang ludes dilalap hama itu.

Leonardus menambahkan, upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran hama tersebut yakni dengan melakukan penyemprotan insektisida yang dilakukan oleh mantri tani bersama Babinsa dari Kodim 1618/TTU.

“Di desa Sapaen ini juga ada serangan hama belalang kumbara dan hama ulat grayak namun Tim dari Mantri Tani dan Babinsa dari Kodim 1618/TTU sudah melakukan penyemprotan insektisida untuk mencegah penyebaran hama tersebut,” ungkapnya.

Seorang petani jagung di Desa Humusu Wini, Kecamatan Insana Utara, Timotius Fallo, menuturkan, serangan hama belalang dan ulat grayak terjadi sejak beberapa hari terakhir ini dan berlangsung sangat cepat.

Timotius mengatakan, tanaman jagungnya yang diserang hama itu dipastikan tidak akan bisa dipanen lagi. Pasalnya, dalam hitungan hari sebagian besar daun jagung di kebunnya dan juga kebun milik petani lainnya habis dimakan belalang dan ulat grayak.

Menurut Timotius, para petani di wilayah tersebut hanya bisa pasrah dengan keadaan itu. Serangan hama serupa pun pernah terjadi dua tahun lalu. Meskipun Pemerintah telah mengambil langkah untuk melakukan penyemprotan hama belalang, namun hal itu tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Timotius menjelaskan, salah satu upaya tradisional yang dilakukan oleh masyarakat setempat dengan melakukan ritual adat guna mengusir hama-hama tersebut.

“Dua tahun lalu juga ada hama belalang dan ulat. Semua jagung kami rusak. Kami semprot juga tidak mempan. Kami lalu buat ritual adat agar hama-hama iru bisa hilang dari kebun jagung kami,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTU, Gregorius Ratrigis, ketika dikonfirmasi media ini Selasa (3/3) membenarkan adanya serangan hama belalang tersebut.

Gregorius menyebutkan, berdasarkan data yang dihimpun para petugas pendamping lapangan, wilayah yang paling parah terkena serangan hama belalang dan ulat grayak adalah Desa Susulaku B, Desa Humusu Wini dan Desa Sapaen.

“Sekitar 20 hektare lebih lahan jagung yang menyebar di tiga desa itu diserang hama belalang dan ulat grayak. Sementara untuk daerah lainnya sudah ada hama namun belum dalam skala besar,” tutur Gregorius.

Menurutnya, serangan hama belalang dan ulat grayak bisa bersifat endemik di wilayah yang tanahnya berpasir dan berkelikir. Hama tersebut akan menyimpan telurnya di struktur tanah demikian.

Gregorius menjelaskan, masa inkubasi telur belalang sekitar dua minggu bahkan bisa 3 sampai 13 tahun. Telur belalang akan menetas bila suhu tanah dan iklim dalam kondisi tertentu. Jumlah telur per ekor belalang bisa mencapai kisaran antara 750 sampai 1200 butir telur.

Saat ini, lanjut Gregorius, pihaknya bekerja sama dengan lintas sektor seperti Kodim 1618/TTU untuk melakukan upaya intervensi dengan penyemprotan insektisida. Pihaknya telah menggunakan puluhan liter insektisida untuk mencegah penyebaran hama belalang dan ulat grayak.

gregorius berharap agar cuaca dapat segera berubah misalnya hujan besar di wilayah-wilayah yang terserang hama sehingga penyebarannya dapat diminimalisasi. Para petani diimbau untuk tetap berwaspada terhadap serangan hama khususnya hama belalang, mengingat penyebarannya bisa melalui angin.

“Hama belalang penyebarannya lewat angin. Tindakan antisipasi yang lain adalah pengelolaan hama secara baik. Harus melihat manfaat hama bagi manusia. Inilah yang ke depan dipikirkan untuk antisipasi. Yang saya sampaikan ini belum dilakukan di TTU. Harus dilakukan pelatihan pengelolaan hama bagi masyarakat terlebih dahulu,” pungkasnya.

Terpisah, Dandim 1618/TTU, Letkol Arm Roni Junaidi, mengatakan Pihaknya telah memginstruksikan seluruh Babinsa di setiap desa untuk bekerja sama dengan mantri tani guna mengatasi penyebaran hama belalang dan ulat grayak di TTU.

Dikatakan, pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap para petani jagung dengan melakukan kegiatan penyemprotan terhadap hama belalang kumbara dan hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung milik para petani.

“Saya sudah instruksikan kepada Babinsa di tingkat Desa untuk melakukan pendampingan dan juga membantu untuk melakukan penyemprotan terhadap hama yang menyerang tanaman jagung milik petani,” pungkasnya. (mg26)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top