Sengketa Tanah di Flotim Berujung Duka, 6 Warga Tewas | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Sengketa Tanah di Flotim Berujung Duka, 6 Warga Tewas


IDENTIFIKASI. Anggota Polres Flotim sedang mengidentifikasi korban dan melakukan olah tempat kejadian perkara dalam pertikaian berdarah di Kebun Wulen Wata (Pantai Bani), Desa Baobage, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flotim, Kamis (5/3). (FOTO: Istimewa)

PERISTIWA/CRIME

Sengketa Tanah di Flotim Berujung Duka, 6 Warga Tewas


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Pertikaian antarwarga memperebutkan lahan garapan kembali pecah di Kabupaten Flores Timur (Flotim). Kamis (5/3) siang sekira pukul 10.45 Wita terjadi pertikaian berdarah di Kebun Wulen Wata (Pantai Bani), Desa Baobage, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flotim.

Kejadian berdarah ini mengakibatkan enam orang meninggal dunia, masing-masing dua orang dari suku Lamatokan dan empat orang dari suku Kwaelaga. Korban dari suku Lamatokan diketahui berasal dari Desa Tobitika, Kecamatan Witihama dan satunya dari Desa Sandosi. Dua korban meninggal ini, yakni Wilem Kewasa Ola, 80, warga Desa Tobitika, dan Yosep Helu Wua, 80, warga Desa Sandosi, Kecamatan Witihama.

Sementara korban dari suku Kwaelaga semuanya berasal dari Desa Sandosi, Kecamatan Witihama. Yakni Moses Kopong Keda, 80, Jak Masan Sanga, 70, Yosep Ola Tokan, 56, dan Seran Raden, 56.

Sementara Suban Kian, 69, warga Desa Sandosi, Kecamatan Witihama yang juga dari suku Kwaelaga berhasil menyelamatkan diri.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media ini dari sejumlah sumber, Kamis (5/3) petang, menyebutkan bahwa kejadian ini bermula ketika masing-masing korban mendatangi lokasi kebun Wulen Wata. Kedua pihak diketahui sudah lama bersengketa mengenai lahan tersebut sejak tahun 1990an.

Masing-masing pihak mendatangi lokasi kebun tersebut kemudian saling menyerang sehingga menimbulkan korban di dua pihak. Kedua suku ini berada dalam Desa Sandosi, Kecamatan Witihama. Awalnya masing-masing menempati lokasi yang ada. Suku Lamatokan berada di Sandosi 2, dan suku Kwaelaga di Sandosi 1. Dua wilayah ini kemudian digabung menjadi satu desa, yakni Desa Sandosi, Kecamatan Witihama.

Seiring waktu berjalan, kedua pihak saling klaim memiliki lokasi tersebut. Perebutan lahan oleh kedua pihak ini sudah berulangkali difasilitasi Pemerintah Kecamatan Witihama bersama Kapolsek Adonara untuk penyelesaian namun belum menemukan solusi atau keputusan bersama.

Sebelumnya pada Kamis (27/2/2020) tujuh orang dari suku Kwaelaga ke lokasi sengketa untuk melakukan kegiatan/berkebun menanam anakan jambu mente dan kelapa yang selama ini digarap oleh suku Wuwur dan suku Lamatokan.

Kegiatan yang dilakukan warga suku Kwaelaga tersebut memantik kekecewaan warga suku Lamatokan. Buntutnya, Kamis (4/3/2020), warga suku Lamatokan mendatangi lokasi dan mengecek tanaman yang ditanam suku Kwaelaga.

Para korban dari suku Kwaelaga mendatangi lokasi tersebut sehingga terjadi perdebatan terkait status lokasi tersebut dan berujung saling serang menggunakan senjata tajam hingga jatuhnya korban jiwa.

Dari informasi yang berkembang menyebutkan bahwa lokasi sengketa di Wule Wata, Pantai Bani, Desa Baubage, Kecamatan Witihama ini diklaim sebagai milik oleh suku Kwaelaga. Sementara dalam lokasi yang masih dipersoalkan itu telah digarap empat suku, yakni suku Lamatokan, suku Making, suku Lewokeda, dan suku Wuwur.

Informasi menyebutkan bahwa warga kesal karena suku Kwaelaga ditengarai selalu menebang tanaman yang ada di lokasi milik empat suku tersebut dengan alasan lokasi tersebut adalah milik mereka. Empat suku yang ada dilokasi tidak merespon dan mengupayakan jalan damai dengan melaporkan apa yang dilakukan suku Kwaelaga ke Pemerintah Kecamatan dan Polsek Adonara.

Kapolres Flores Timur, AKBP Deny Abrahams, SIK yang dkonfirmasi, Kamis (4/3) malam membenarkan peristiwa/pertikaian berdarah ini.

Deny Abrahams mengatakan, dirinya bersama sejumlah anggota Polres Flores Timur telah turun ke lokasi untuk mem-back up anggota Polsek Witihama ditambah bantuan keamanan dari aparat TNI untuk mengamankan pertikaian itu.

Hingga saat ini, aparat keamanan masih berjaga di sekitar lokasi kejadian. Kapolres mengimbau masyarakat tidak melakukan aksi balasan.

Hingga berita ini dipublish, Kapolres Flotim masih berada di lokasi kejadian. (aln)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top