Diduga Kerja Asal Jadi, Drainase Mirip Kolam, Sumber Hidup Jentik Nyamuk | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Diduga Kerja Asal Jadi, Drainase Mirip Kolam, Sumber Hidup Jentik Nyamuk


MIRIP KOLAM. Saluran drainase yang baru dibangun di wilayah Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Timur tampak seperti kolam renang. Air tidak bisa mengalir diduga akibat salah perencanaan. (FOTO: Karel Pandu/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Diduga Kerja Asal Jadi, Drainase Mirip Kolam, Sumber Hidup Jentik Nyamuk


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Sejumlah saluran drainase yang baru saja dibangun di Kota Maumere, Kabupaten Sikka menjadi area genangan air dan menimbulkan banjir. Air yang menggenang di saluran drainase ini sepintas terlihat mirip kolam, bahkan menjadi area berkembangnya jentik nyamuk aedes agypti, nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) yang kini dalam kategori kejadian luar biasa (KLB) di Sikka.

Sejumlah warga Maumere yang diminta pendapatnya akhir pekan kemarin menduga proyek ini dikerjakan asal jadi. Bagaimana tidak, saluran drainase yang mestinya menjadi wadah mengalirnya air, justru tampak menjadi wadah penampungan air.

Lorens Ritan, warga Sikka yang tinggal di Kelurahan Kota Uneng menilai, tergenangnya air di saluran drainase yang baru dibangun itu karena pengerjaannya tidak direncanakan secara baik sehingga aliran air tidak lancar.

Lorens mencontohkan di wilayah pelabuhan Elsay, drainase yang ada tidak berfungsi sehingga air meluap hingga ke badan jalan dan rumah-rumah warga.

“Ini akibat perencanaan pembangunan drainase yang tidak betul karena air tidak bisa mengalir dan tetap tergenang babkan meluap hingga ke jalanan umum dan rumah warga,” kata Lorens.

Selain di wilayah pelabuhan Elsay, hal yang sama juga terjadi di wilayah Kelurahan Wolomaramg. Drainase yang baru dibangun bagaikan kolam renang. Airnya tidak bisa mengalir.

“Salah satu pemicu DBD di Sikka ya karena banyak air hujan yang tergenang di saluran drainase. Banyak jentik nyamuk berkembang biak di salurah itu,” kata Lorens.

Vin, seorang ibu rumah tangga di Kota Maumere mengaku, orang yang akan memasuki pelabuhan Elsay, akan langsung berhadapan dengan genangan air hujan yang menggenangi jalanan.

Hal ini mencerminkan citra buruk bagi warga masyarakat kabupaten Sikka. Dipintu masuk pelabuhan seperti kolam renang dan drainase tidak berfungsi.

“Semestinya pemerintah malu, warga masyarakat malu dengan kondisi ruas jalanan umum digenangi air seperti kolam renang,” ungkap Vin.

Memurut Vin drainase seputar kota Maumere menjadi sarang jentik nyamuk sehingga tidak heran ketika DBD menyerang Sikka.

“Akibat drainase yang buruk menyebabkan banyak air tergenang dan itu menjadi sarang jentik nyamuk. Karena itu tidak heran banyak korban meninggal adalah anak-anak akibat DBD,” katanya.

Solusi menyelesaikan masalah ini lanjut Vin, saluran drainase harus dibenahi terlebih dahulu dan menghukum warga yang membuang sampah ke saluran drainase baik itu secara sengaja maupun tak sengaja.

Terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlimus mengatakan, hingga saat ini, KLB DBD di Sikka terus bertambah jumlah kasusnya.

Data terkini, menurut Petrus, jumlah kasus DBD yang tadinya 1.130 kita bertambah menjadi 1.190 dengan kejadian meninggal dunia 13 orang.

“Sampai dengan hari ini, Senin (9/3) kasus DBD mencapai 1.190. Hal ini berarti lasus DBD terus meningkat dan yang sudah meninggal dunia berjumlah 13 orang,” pungkas Petrus. (Kr5)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top