Murni Lakalantas, Polres TTU SP3 Kasus Kematian Sekdes Oenak | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Murni Lakalantas, Polres TTU SP3 Kasus Kematian Sekdes Oenak


AUTOPSI. Jenazah Siprianus Lafi Kosat, warga Desa Oenak, Kecamatan Noemuti, TTU saat dikeluarkan dari Kuburan untuk dilakukan autopsi beberapa waktu lalu. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Murni Lakalantas, Polres TTU SP3 Kasus Kematian Sekdes Oenak


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Penyidik Satreskrim Polres TTU akhirnya mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus dugaan penganiayaan berat yang mengakibatkan Sekertaris Desa Oenak, Kecamatan Noemuti, Siprianus Lafi Kosat meninggal dunia.

Perhentian penyidik terhadap kasus tersebut lantaran tidak terbukti secara hukum bahwa korban meninggal karena dianiaya namun murni laka lantas sesuai hasil autopsi dan hasil keterangan dari tim ahli dokter forensik Mabes Polri.

Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Tatang Prajitno Panjaitan kepada TIMEXKUPANG.com, Senin (9/3) menuturkan, penyidik telah bekerja maksimal mengungkap kasus dugaan penganiayaan yang mengakibatkan Siprianus Lafi Kosat meninggal dunia.

Dikatakan, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan juga telah melakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian korban. Dari hasil keterangan saksi dan juga keterangan ahli tidak ada yang menjurus dan mengarah bahwa korban meninggal karena dianiaya.

“Kita sudah berupaya untuk ungkap kasus ini. Kita sudah periksa 16 saksi bahkan kita sudah lakukan autopsi namun hasilnya tidak ada yang mengarah bahwa korban meninggal karena dianiaya,” tutur Tatang.

Tatang menambahkan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap dokter ahli forensik Mabes Polri guna menjelaskan terkait hasil autopsi namun hasilnya pun tetap sama bahwa korban meninggal karena benturan keras dengan benda yang permukaannya luas.

Dari sejumlah keterangan saksi dan juga hasil autopsi itu, lanjut Tatang, pihaknya telah memutuskan untuk mengeluarkan SP3 terhadap perkara tersebut karena tidak cukup bukti untuk mengungkap kasus tersebut sesuai dengan laporan keluarga korban.

Menurut Tatang, penyidik telah memanggil keluarga korban dan juga para saksi untuk menyampaikan hasil penyelidikan awal atas kasus tersebut sesuai keterangan dari para saksi juga keterangan ahli yang tidak cukup bukti sehingga kasus tersebut dihentikan.

BACA JUGA: Siprianus Kosat Diduga Meninggal Akibat Benturan Benda Keras

“Karena tidak cukup bukti untuk kasus tindak pidana umum maka kita sudah panggil keluarga korban untuk menyampaikan hasil kerja penyidik hingga SP3. Kasus ini sudah kita serahkan ke unit laka lantas untuk diproses lebih lanjut,” jelasnya.

Sementara, perwakilan keluarga korban, Zakarias Eli Kosat ketika dikonfirmasi media ini mengatakan, pihak keluarga memberikan apresiasi atas kerja keras pihak Kepolisian dalam menangani kasus yang menimpa anggota keluarga mereka beberapa waktu lalu.

Menurut Zakarias, kematian korban sangat tidak wajar dan tidak murni laka lantas. Motor yang digunakan oleh korban saat kecelakaan pun tidak rusak bahkan tidak ada goresan sedikit pun pada bagian motor seperti kejadian kecelakaan lainnya.

Selain itu juga, luka yang dialami oleh korban itu pun tidak seperti luka saat orang mengalami kecelakaan. Luka yang dialami oleh korban itu mengalami patah tulang rusuk, tulang tengkuk dan juga memar dibagin pelipis dan perut korban.

“Kecelakaan maut apa yang korban meninggal tapi kendaraan tidak lecet, Ini kan tidak wajar. Apalagi luka yang dialami korban itu patah tulang dan memar bukan luka goresan seperti biasanya orang mengalami kecelakaan,” beber Zakarias.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres TTU, AKP Tatang Prajitno Panjaitan kepada Timor Express, Minggu (12/1) lalu menuturkan, penyidik Satreskrim Polres TTU telah menerima hasil autopsi dari tim dokter forensik Mabes Polri yang dipimpin AKBP dr. Wahyun Hidayat dibantu Petugas RS Bhayangkara Kupang, Aiptu Pius Pala.

Dikatakan, sesuai hasil autopsi, pihaknya menemukan adanya tanda bahwa korban diduga meninggal akibat terkena benturan benda keras yang permukaanya luas. Sehingga besar kemungkinan korban meninggal akibat laka lantas atau tindak pidana lain.

Terkait adanya dugaan korban meninggal akibat adanya tindak pidana lain selain laka lantas, jelas Tatang saat itu, dari hasil autopsi bisa mengarah pada dugaan itu juga namun pihaknya belum cukup bukti untuk bisa melakukan penyelidikan. (mg26)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top