Politik Incognito: Pencitraan atau Keberpihakan? | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Politik Incognito: Pencitraan atau Keberpihakan?


Stef Sumandi (FOTO: Istimewa)

OPINI

Politik Incognito: Pencitraan atau Keberpihakan?


Oleh: Stef Sumandi *)

Setiap pemimpin memiliki gaya dan cara pandang berbeda dalam hal mengurusi rakyat. Cara pandang itupun melahirkan praktik berpolitik para pemimpin. Di sana dapat kita temukan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurusi kepentingan umum demi kesejahteraan bersama itulah politik.

Politik Incognito

Setidaknya satu dekade terakhir, politik Indonesia diwarnai oleh kecenderungan para pemimpin sekelas bupati/walikota, gubernur bahkan presiden sekalipun untuk senantiasa “meninggalkan” kursi kekuasaanya lalu datang menemui rakyat terutama mereka yang miskin, menderita, terpinggirkan dan korban ketidakadilan sistematis.

Begitupun perjumpaan penuh makna dengan para pemilik ekonomi kelas menengah hingga kelas elit. Langkah populer itu diramaikan oleh Presiden Joko Widodo semenjak menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi Presiden RI.

Teladan seorang Joko Widodo itu kemudian dibiasakan oleh para pemimpin lainnya semisal Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan lain-lain.

Di Nusa Tenggara Timur, tentunya juga ada banyak orang yang melakukan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan para pemimpin yang saya sebutkan sebelumnya. Namun, ada dua orang yang saya kenal lebih dekat yang dapat saya gambarkan kepada pembaca budiman.

Tahun 2003-2008 ada seorang bupati yang namanya cukup terkenal karena menjadi orang pertama di Kabupaten Sikka yang menjadi Bupati dari kader PDI-PDI Perjuangan yang menjadi Bupati sekaligus memecahkan mitos menjadi bupati harus dari unsur birokrat.

Dia adalah Drs. Alexander Longginus. Gaya kepemimpinannya cukup fenomenal dengan Filosofi GEMBIRA (Gerakan Membangun Berbasiskan Inisiatif Rakyat).
Berbekal filosofi itu, Alex terus mendorong rakyat untuk membangun daerahnya dengan inisiatif dari kapasitas lokal yang dimiliki rakyat.

Begitupun pendekatan yang dilakukan Alex berbeda dengan para pemimpin lainnya. Sewaktu sore hingga malam tiba, Bupati Alex Longginus tidak lekas tidur melepas lelah. Ia menyetir mobil sendirian mengelilingi Kota Maumere bahkan sampi ke desa-desa untuk melihat dari dekat tentang keadaan kota, desa dan rakyatnya.

Keesokan harinya, beliau memanggil para pimpinan SKPD (Sekarang OPD) terkait kemudian memerintahkan pembenahan kota semisal lampu jalan yang rusak, membersihkan tumpukan sampah dan atau mengurusi orang-orang miskin yang dijumpainya.

Orang berikut adalah Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si. Bupati yang terpilih lewat jalur perseorangan namun sesudahnya memilih bergabung bersama partai politik lewat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Sebelum maupun sesudah menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, pria yang biasa disapa Roby Idong itu tetap dengan gayanya yang selalu dekat dengan rakyat.

Ia mengelilingi Kabupaten Sikka entah berkendaraan maupun berjalan kaki itu sudah biasa. Banyak kesan bahwa ia rajin menjumpai rakyat meski di daerah yang sangat terpencil sekalipun.

Ia datang melihat, mendengar suara hati rakyat dengan tanpa memandang suku, ras maupun agama. Entah kaya atau miskin semuanya dianggap saudaranya.

Berpolitik baginya bukan hanya bersama tetapi lebih dari itu kita adalah sesama saudara. Dasar persaudaraan itulah pembangunan harus berpihak pada rakyat dengan mengutamakan Pemenuhan Hak-hak Dasar Rakyat Menuju Sikka Bahagia 2023.

Gaya politik yang dekat dengan rakyat dengan selalu turun ke bawah tanpa menciptakan situasi resmi itu sesungguhnya juga sudah dilakukan Bung Karno pada zamannya.

Ibu Megawati Soekarnoputri menyebutnya sebagai incognito yang biasa dilakukan sang ayah Bung Karno, Putra sang Fajar pada zaman perjuangan maupun semasa menjadi presiden RI.

Dikutip dari buku Kesaksian tentang Bung Karno (Grasindo-1999) yang dilansir Tribunnews.com, salah satu kegiatan blusukannya itu dilakukan pada suatu siang di Istana Kepresidenan Jakarta.

Bung Karno tiba-tiba memanggil Mangil Martowidjoyo, Komandan Detasemen Kawal Pribadi Soekarno (sekarang Paspampres). “Mangil, Bapak ingin keluar sebentar. Bapak ingin melihat umpyeke wong golek pangan di Jakarta (Bapak ingin melihat kesibukan orang mencari nafkah di Jakarta)”.

Kata incognito dalam bahasa Inggris artinya penyamaran. Namun, dalam perspektif politik zaman sekarang disebut blusukan. Kami orang Sikka menyebutnya dengan Lako Lalong, Groo Genang Tora Riwun(g) Nagsun(g).
Sementara Politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani ta p???t??? (politika – yang berhubungan dengan negara) dengan akar katanya p???t?? (polites – warga negara) dan p???? (polis – negara kota).

Politik Incognito saya maksudkan dengan upaya mendekatkan diri para pemimpin dengan rakyatnya melalui cara-cara tidak resmi agar dapat mendengarkan, melihat dan mengamati dari dekat apa sesungghanya yang dikehendaki rakyat dari kepemimpinannya. Keadaan tidak resmi tanpa susunan acara protokoler kedinasan itu membuat rakyat menjadi sangat dekat dengan pemimpinnya.

Incognito Sebatas Pencitraan

Sistem pemilu langsung membuat para pihak yang bergelut memenangkan hati rakyat harus senantiasa ada bersama rakyat setiap waktu. Sehingga janganlah heran menjelang pemilu/pilkada/pilpres tiba, banyak kandidat nyaris melupakan rumahnya. Dan menjadikan rumah rakyat selayaknya rumah sendiri.

Tidak hanya itu, segala kebaikan pun diumbar di hadapan rakyat. Penjahat sekalipun dalam kontelasi politik itu ia tetap menunjukkan yang terbaik dari dirinya. Orang Sikka menyebut Donen Modung.

Namun, apa yang terjadi pasca pemilu? Kalau kalah memang wajar orang itu tidak datang kembali dan rakyat pun memahaminya. Syukurlah kalau itu menjadi kebiasaan pasca pemilu meski kalah. Tetapi ketika menang, rakyat menuntut agar senantiasa dekat dengan rakyat.

Ada banyak pemipin melakukannya dengan sungguh-sungguh. Setidaknya dapat membangun citra diri agar tetap terlihat baik di mata publik. Kehadiran menjadi sangat penting baginya demi mengobati dahaga batin rakyat.

Memang rakyat butuh kehadiran sehingga wajarlah demikian. Hanya yang menjadi soal dalam perspektif pencitraan ini adalah kedatangan pemipin bukan membawa solusi melainkan menanamkan rasa sesal yang mendalam.
Awalnya terlihat baik dengan janji-janji manis, sesudahnya kembali tanpa kebijakan secuilpun untuk rakyat. Kemudian datang lagi dan datang lagi seraya menumpuk janji-janji manis di hati rakyat. pemipin seperti ini wajar kalau dikatakan hanya pencitraan. Hanya tebar pesona agar dikira dekat dengan rakyat.

Laman Kompas.com menayangkan ulasan Limas Sutanto Psikiater Konsultan Psikoterapi di Malang dalam artikelnya berjudul “Pencitraan Hanya Membuahkan Kekecewaan yang Mendalam”.

Dalam artikel itu Limas Sutanto menggambarkan dengan lebih menukik bahwa pencitraan menghadirkan ketidakjujuran dan ketidakbenaran, yang kemudian selalu berbuahkan kerentanan psikososial.

Hal itu oleh psikoanalis Karen Horney disebut disillusionment. Suatu bentuk kekecewaan mendalam di hati sanubari karena ”citra-citra hebat”, yang ternyata hanyalah ilusi-ilusi, itu secara sedikit demi sedikit tetapi pasti rontok, hanya menyisakan wajah dan keadaan sebenarnya yang begitu banyak kekurangan, kesalahan, dan dosanya.

Incognito itu Keberpihakan Dalam Perjuangan

Sastrawan W.S. Rendra dalam Sajaknya berjudul “Paman Doblang” pada bait terakhir mengulas tentang kesadaran, kesabaran, keberanian dan perjuangan. // Kesadaran adalah matahari // Kesabaran adalah bumi // Keberanian menjadi cakerawala // Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata //. (Depok, 22 April 1984).

Dari keseluruhan bait terakhir saya tertarik dengan baris pertama dan baris terakhir. Hemat saya, WS Rendra menggugat hati para pemimpin agar memiliki kesadaran penuh yang menjadi penerang agar perjuangan sesungguhnya adalah pelaksanaan kata-kata.

Dengan demikian segala pekerjaan yang dilakukan dalam kegiatan baik yang cognito maupun incognito senantiasa diorientasikan demi kemaslahatan rakyat banyak. Untuk itu, perlu diapresiasi untuk para pemipin yang senantiasa dengan kesadaran penuh bahwa jabatan yang diemban bukan untuk meningkatkan citra diri melainkan menderita demi kepentingan rakyat.

Arah keberpihakan itu harus jelas dalam keputusan-keputusan politik yang diambil. Hemat saya, ada dua hal yang menjadi bukti keberpihakan para pemimpin seudah melakukan kegiatan dalam bentuk incognito.

Pertama, Membuat aturan yang berpihak pada rakyat. Artinya, keputusan-keputusan politik dalam membuat regulasi setingkat undang-undang, peraturan perundang-undangan atau peraturan daerah harus dilakukan demi kepentingan rakyat terutama menyelesaikan masalah rakyat.

Pemimpin perlu meminimalisir peraturan yang dibuat dengan orderan sekelompok orang. Semisal kepala daerah hendak membuat peraturan kepala daerah untuk memudahkan investasi harus lebih mengutamakan kepentingan kesejahteraan rakyat ketimbang kekayaan pemilik modal.

Kedua, Politik Anggaran. Saya menyebut politik anggaran agar rancangan APBN/D sebagian besar mesti diarahkan untuk belanja-belanja publik yang menyelesaikan permasalahan rakyat. Hasil komunikasi dengan rakyat lewat politik cognito harus terwujud dalam politik anggaran.

Sebaiknya postur APBD mesti lebih gemuk pada belanja publik dan kurus pada belanja pegawai. Keberpihakan itu terbukti lewat berkurangnya orang miskin sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Ketimbang pertumbuhan ekonomi kita meningkat tetapi jumlah penduduk miskin makin bertambah.

Di ini kita koreksi, bisa jadi orientasi belanja kita hanya untuk kepentingan pegawai, didukung dengan regulasi yang berpihak pada pemilik modal maka sumber daya terbanyak berpusat pada masyarakat ekonomi menengah ke atas.

Para pemimpin yang saya sebut dalam ulasan terdahuluh merupakan para tokoh politik yang sering melakukan politik incognito. Selanjutnya, dalam mengambil keputusan berupa regulasi dan anggaran justru lebih berpihak pada rakyat.

Sebut saja, Pak Joko Widodo, Ibu Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang berhasil merubah daerahnya menjadi sangat maju dengan segudang prestasi yang tidak dapat saya ulas dalam catatan singkat ini.

Di kabupaten Sikka Drs. Alexander Longginus (2003-2008) berhasil membangun Universitas Nusa Nipa begitupun Bupati Fransiskus Roberto Diogo yang berani mengalokasikan anggaran untuk kepentingan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi, mahasiswa kurang mampu dan mahasiswa kedokteran.
Ada juga lembaga SIC (Sikka Inovation Center) yang dibangun oleh Bupati Drs. Yoseph Ansar Rera (2013-2018) sebagai tempat pengembangan produk lokal pertanian dan perikanan kelautan Sikka. Saat ini sudah ada hasil dengan produk unggulan kakao yang diberi nama Chosik (Choklat Sikka).

Sebagai catatan penutup, ada catatan sejarah bahwa Nusantara (NTT) ini sangat kaya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Kita lihat saja dahuluh kala tahun 1500an para pedagang Eropa sudah mendatangi tanah Flobamora untuk mengambil rempah-rempah untuk dibawah ke negara asalnya.

Sudah saatnya jalur pemasan rempah ini dibuka kembali diawali dengan kebijakan inovasi terhadap produk lokal kita sehingga dapt berharga di pasar dunia.

Inovasi di berbagai bidang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh mulai dari ketersediaan bahan mentah yang berkualitas hingga produk-produk domestik yang dapat bersaing di pasar global.

Itu hanya mungkin kalau para pemimpin di NTT duduk bersama dan berdiskusi bersama tentang NTT secara kesatuan bukan tentang Flores, Lembata, Timor, Sumba, Sabu, Alor dan Rote masing-masing. Sebab rakyat sesungguhnya mengharapkan hal itu dan para pemimpin sudah tau tetapi masih saja ingin ego sektoral. Disana keberpihakan kita akan berubah hanya sebatas pencitraan. Salam! (*)

*) Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sikka

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top