Produktivitas Pertanian Dibawah Standar, Wabup Matim Beber 9 Penyebab | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Produktivitas Pertanian Dibawah Standar, Wabup Matim Beber 9 Penyebab


FOTO BERSAMA. Wabup Matim, Stef Jaghur (kelima kanan), Anggota DPR RI Dapil NTT I, Julie Sutrisno Laiskodat (kelima kiri) pose bersama pimpinan Bank dan para penerima bantuan KUR usai pembukaan Rakor di aula Kevikepan Borong, Rabu (11/3). (FOTO: Fansi Runggat/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Produktivitas Pertanian Dibawah Standar, Wabup Matim Beber 9 Penyebab


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur (Matim) mengakui produktivitas komuditas pertaniannya selama ini masih dibawah standar. Hasil identifikasi, terdapat sembilan masalah yang menjadi penyebab utama.

“Untuk produktivitas pertanian kita di Matim masih rendah. Berada dibawah potensi yang sebenarnya dan jauh dibawah standar nasional. Ini karena ada sedikitnya sembilan masalah utama dan harus kita tangani secara bersama-sama,” ungkap Wakil Bupati (EWabup) Matim, Stef Jaghur saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Pembangunan Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Matim tahun 2020, di aula Kevikepan Borong, Rabu (11/3).

Pembukaan Rakor itu dihadiri langsung anggota Komisi IV DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat, unsur Forkopimda, pimpinan BUMN/BUMD, pimpinan OPD, pimpinan DPRD Matim, dan 238 orang petugas penyuluh lapangan dari tiga instansi, yakni Dinas Pertanian, Peternakan, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan.

Stef Jaghur membeberkan, sembilan masalah utama rendahnya produktifitas komuditas pertanian di Matim, antara lain, pertama, rendahnya produktivitas hasil pertanian per satuan luas. Kedua, rendahnya kualitas mutu hasil pertanian dan peternakan. Ketiga, persediaan pakan ternak yang tidak kontinyu sepanjang tahun.

Masalah keempat, yakni sulit mendapat hijauan yang berkualitas, terutama pada musim kemarau. Kelima, masih banyak kasus gigitan rabies. Keenam, pola konsumsi pangan yang kurang beragam. “Distribusi pupuk dan benih yang tidak tepat waktu ini menjadi persoalan ketujuh di Matim,” ungkap Wabup Stef Jaghur.

Selanjutnya, masalah kedelapan, demikian Stef Jaghur, yakni terbatasnya jumlah penyuluh/pengamat organisme pengganggu tanaman, pengawas benih tanaman dan petugas kesehatan hewan.

Masalah kesembilan, lanjut Stef Jaghur, yakni rendahnya minat generasi muda pada bidang pertanian.

“Kenyataan menunjukkan bahwa banyak generasi muda sekarang ini tidak mau lagi bekerja di sektor pertanian seperti petani. Sekarang memang zaman milenial, dimana anak-anak muda kita sudah tidak tahu lagi kerja di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Banyak yang sekolah Pertanian dan jadi sarjana Peternakan, tapi tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat petani. Tidak bisa ciptakan lapangan kerja, malah orientasi jadi pegawai di kantor,” beber Stef Jaghur.

Seandainya, generasi muda ini, terutama mereka yang memiliki latar belakang pendidikan pertanian dan peternakan bisa menciptakan lapangan pekerjaan, tentu ilmunya bisa dibagikan kepada petani dan peternak yang lain untuk mengembangkan potensi yang ada.

Kondisi ini, demikian Stef Jaghur, ikut menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas tanaman pangan. Hal ini tentu akan berdampak kepada terjadinya rawan pangan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Wabup Stef Jaghur meminta kepada semua pimpinan OPD di Matim, terutama Dinas Pertanian, Peternakan serta Ketahanan Pangan dan Perikanan, juga petugas lapangan agar mengambil langkah cepat dan strategis guna memecahkan masalah-masalah ini.

Stef Jaghur juga meminta agar jajarannya meningkatkan fungsi koordinasi dengan komisi pengawas peternakan, pendistribusian pupuk, pengawas peredaran pupuk dengan produsen, distributor dan pengecer pupuk, serta mengoptimalkan fungsi Balai Penyuluhan Kecamatan juga menggalakkan kerjasama dengan lembaga perbankan.

“Khusus untuk petugas pengamat hama, agar aktif melakukan deteksi dini terhadap timbulnya hama dan penyakit tanaman. Setiap PPL mengembangkan demplot-demplot pertanian organik di wilayah kerjanya masing-masing,” imbau Stef Jaghur.

Anggota DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat dalam kesempatan mengaku beruntung dirinya bisa bertemu para petugas penyuluh lapangan dari tiga dinas di acara Rakor tersebut.

Dengan dirinya hadir di pertemuan itu, Julie mengaku bisa mendapatkan banyak masukan terkait peran dan fungsinya sebagai wakil rakyat yang kini duduk di komisi yang membidangi Pertanian, Peternakan, kehutanan, serta Ketahanan Pangan dan Perikanan.

“Terima kasih karena saya bisa diundang ke acara ini. Jadi cocok juga saya hadir, karena pas dengan komisi saya. Jadi ini saya sekarang, bukan hanya sebagai Bunda NTT yang dijuluki selama ini sebagai isteri Gubernur NTT, tapi juga bundanya kakak-kakak dorang yang hadir disini, yakni bunda ikannya, bunda tanamannya, dan bunda ternaknya,” ungkap sosok yang akrab disapa Bunda Julie ini.

Bunda Julie mengaku, bahwa NTT termasuk Matim memiliki potensi yang luar biasa. Sehingga dengan kegiatan Rakor yang digelar oleh tiga dinas di Matim itu, menjadi sebuah kekuatan membangun Matim, dan NTT ke depan.

“Kita punya ternak yang terbaik. Potensi laut kita luar biasa. Kita juga punya hasil kopi terbaik. Lahan pertanian kita juga luas dan cocok untuk semua tanaman komiditi. Tapi salahnya dimana? Jujur saja, saya yakin bukan karena petugas lapangan tidak pernah melakukan tugas dengan maksimal. Tapi mereka punya suara dari bawa tidak pernah didengar,” ujar Bunda Julie.

Oleh karena itu, Bunda Julie menekankan bahwa ujung tombak bidang Pertanian, Peternakan, Ketahanan Pangan dan Perikanan, berada pada petugas lapangan. Pada tingkat dinas, hanya bisa fasilitasi dari atas. Tapi yang eksekutor serta mengawasi sampai tuntas ada di tingkat lapangan.

“Untuk bangun daerah ini, kita harus bergandengan tangan dan berkoordinasi. Prinsipnya seperti sapu lidi. Intinya kita ini harus keroyokan dan tidak bisa sendiri-sendiri. Sapu lidi juga ukuran semua sama panjang. Berarti kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bersama masyarakat,” kata Bunda Julie.

Ketua Panitia Kegiatan Rakor, Yohanes Dalung, menjelaskan maksud dari penyelenggaraan Rakor itu untuk meningkatkan koordinasi, sinkronisasi dan sinergitas program dan kegiatan berbasis pertanian berkelanjutan, pariwisata, industri kecil, koperasi dan UMKM. Serta mewujudkan, pembangunan desa berbasis budaya lokal.

“Tujuan Rakor ini untuk menjalin kerjasama horizontal yang berkelanjutan antara dinas-dinas lingkup pertanian, dengan menyamakan persepsi tentang strategi dan kebijakan dalam upaya merealisasikan target-target kinerja pembangunan Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan di kabupaten Matim,” jelas Yohanes.

Terpantau, usai acara pembukaan Rakor, Wabup Jaghur dan Julie, secara simbolis menyerahkan bantuan kredit usaha rakyat (KUR) bagi sejumlah kelompok tani di Matim. Bantuan KUR itu bersumber dari tiga lembaga Bank, yakni Bank NTT, BNI, dan BRI. Tampak para penerima KUR senang mendapatkan bantuan untuk modal mengembangkan usaha mereka. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top