Kabar Gembira, Operasi Tulang Belakang Sudah Bisa Dilakukan di NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kabar Gembira, Operasi Tulang Belakang Sudah Bisa Dilakukan di NTT


SUKSES. Tim dokter bedah saraf RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes saat melakukan operasi bedah saraf tulang belakang terhadap pasien di rumah sakit itu beberapa hari lalu. (FOTO: Istimewa)

KABAR FLOBAMORATA

Kabar Gembira, Operasi Tulang Belakang Sudah Bisa Dilakukan di NTT


Di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Kemajuan teknologi dibidang kesehatan terus ditingkatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT melalui penyediaan fasilitas penunjang maupun tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Hal itu ditandai dengan keberhasilan tim dokter bedah saraf rumah sakit itu melakukan operasi tulang belakang terhadap pasien di rumah sakit milik Pemprov NTT ini. Bahkan kesuksesan operasi bedah saraf tulang belakang yang untuk pertama kali di NTT ini dilakukan terhadap tiga pasien oleh tim dokter bedah saraf RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang, yakni dr. Elric Malelak, SpBS bersama dr. Donny Argie, SpBS.

“Operasi bedah saraf tulang belakang ini merupakan operasi pertama kalinya di NTT dan berhasil. Jadi, selama ini pasien yang datang hanya diberi obat saja. Tidak ada penanganan karena keterbatasan alat. Kalau dirujuk ke luar NTT dan keluarga pasien tidak punya uang, maka mereka bawa pulang ke rumah,” jelas dr. Elric Malelak saat diwawancarai di kediamannya, Rabu (18/3).

Dokter Elrik mengungkapkan, awalnya tiga kasus pasien dengan masalah tulang belakang ini dilaporkan ke manajemen rumah sakit untuk dibicarakan tentang bagaimana mekanisme penanganannya. Manajemen rumah sakit pun mendukung penanganan tiga kasus tersebut dengan melakukan pengadaan alat implan.

Alat Implan, kata dr. Elric, merupakan perangkat medis yang ditempatkan sebagai pengganti tulang untuk menyangga fraktur. Saat alat ini ada, tim dokter pun melakukan operasi dan berhasil. Maka seterusnya, manajemen mendukung untuk menyiapkan implan agar bisa menangani kasus tulang belakang di rumah sakit.

“Operasi perdana dilakukan pada 10 Maret 2020 dengan lama operasi lima jam. Dilanjutkan operasi tanggal 11 Maret 2020 dengan lama operasi lima jam, dan pada 12 Maret 2020 dengan lama operasi empat jam,” beber dr. Elric sambil menambahkan, tindakan medis yang dilakukan terhadap tiga pasien itu yakni Laminectomy Dekompresi plus tindakan stabilisasi posterior.

Dokter Elric menjelaskan, Laminectomy Dekompresi merupakan tindakan medis pembebasan saraf terjepit, sedangkan stabilisasi posterior dimaksudkan untuk menstabilkan tulang belakang. Usai operasi, pasien akan menjalani rehabilitasi dengan waktu yang berbeda-beda. Pasien akan menjalani rawat jalan dengan melakukan fisioterapi dan latihan yang bisa dibuat di rumah.

“Kalau pasien datang dalam keadaan lumpuh, kekuatan motoriknya sudah tidak ada lagi, maka tujuan operasi ini untuk menstabilkan tulang belakangnya agar pasien bisa latihan duduk, atau melanjutkan hidupnya meski dengan kursi roda,” tambahnya.

BACA JUGA: Kabar Gembira, Tim Dokter Bedah Syaraf RSUD Johannes Kupang Sukses Lakukan Microvascular Decompression

Elric mengakui bahwa operasi ini memang tidak memberikan kesembuhan seratus persen kepada pasien. Sebagai seorang dokter, ia menjelaskan bahwa risiko penyakit pada tulang belakang tersebut diantaranya lumpuh dan nyeri.

Sehingga, kata Elric, ketika pasien datang dalam keadaan yang sudah parah, sulit untuk mengembalikan ke kondisi semula. Namun, operasi ini bisa memberi kemudahan kepada pasien dan keluarga untuk tetap melanjutkan hidup, meski dengan pilihan memakai kursi roda.

“Tujuan kita, meringankan gejala sisa seminimal mungkin. Kalau datang dalam keadaan sudah lumpuh, setidaknya setelah operasi dia bisa pakai kursi roda dan melatih diri semandiri mungkin. Paling tidak enak kalau kita hanya tidur-tiduran dan hidup kita bergantung pada orang lain kan. Umur tujuh belas tahun itu usia produktif kan, kebayang kalau tidak operasi, nanti dia tiduran saja sepanjang hidupnya. Kalau begini, kita stabilkan tulang belakangnya, dia di kursi roda, tapi bisa produktif. Meski melanjutkan hidup sebagai penyandang disabilitas, tapi tetap bisa produktif, ketimbang hanya tidur saja,” urainya.

Dokter Elric mengakui bahwa kendala yang dihadapi ketika menangani kasus tulang belakang ialah keterbatasan alat. Salah satunya karena ketiadaan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI).

“Sebenarnya yang paling dibutuhkan untuk menangani kasus-kasus tulang belakang adalah MRI. Di NTT memang belum ada MRI, tapi kalau tunggu MRI datang, kapan baru dimulai penanganannya? Sedangkan tidak semua orang punya uang untuk rujuk. Ya kita kerjakan dengan apa yang ada dulu. Kasihan orang dari daerah, sudah sampai sini, kita kirim lagi ke luar,” lanjutnya.

Ia berharap, masyarakat yang mengalami kasus tulang belakang seperti kecelakaan atau saraf terjepit tidak perlu ragu lagi untuk datang ke rumah sakit dan memeriksakan diri. Untuk kasus kecelakaan, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih dini.

“Biasanya habis kecelakaaan langsung ke tukang urut, nanti sudah parah baru datang ke sini. Jangan bawa ke tukang urut, nanti jarak tulang semakin jauh, padahal saat celaka mungkin geser sedikit. Kalau sudah bawa ke tukang urut dulu baru ke rumah sakit, jauh gesernya, jadinya operasi makin susah. Risiko operasi makin besar karena perbaikannya makin banyak. Jadi, langsung bawa ke rumah sakit, jangan ke tukang urut,” imbau dr. Elric Malelak. (mg25)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top