WNA Peserta Ijtima Ulama Dunia sebelum Pulang Harus Jalani Karantina | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

WNA Peserta Ijtima Ulama Dunia sebelum Pulang Harus Jalani Karantina


SEMPROTKAN DISINFEKTAN. Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa melakukan sterilisasi di lokasi Ijtima Ulama Dunia Zona Asia 2020 dengan menyemprotkan disinfektan, Rabu (18/3). (FOTO: DINKES FOR FAJAR/JawaPos.com)

NASIONAL

WNA Peserta Ijtima Ulama Dunia sebelum Pulang Harus Jalani Karantina


Di Malaysia Picu Lonjakan Kasus Covid-19

MAKASSAR, TIMEXKUPANG.com-Di tengah kampanye bekerja dari rumah dan menjauhi kerumunan untuk mencegah penularan virus korona (Covid-19), sebuah kegiatan yang melibatkan ribuan peserta justru digelar. Padahal, izin untuk acara tersebut juga tak dikeluarkan pihak berwenang.

Acara serupa di Petaling, Malaysia, pada 28 Februari sampai 1 Maret lalu juga mengakibatkan penularan virus korona ke ratusan orang. Kegiatan bertitel Ijtima Ulama Dunia Zona Asia 2020 itu sesuai rencana dihelat mulai hari ini (19/3) sampai Minggu (22/3) mendatang di Gowa, Sulawesi Selatan. Diperkirakan melibatkan sekitar 8 ribu peserta dari puluhan negara juga provinsi di Indonesia, termasuk dari NTT.

Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan menyampaikan, tadi malam pihaknya bersama Kapolres dan Dandim menemui panitia lokal ijtima ulama Asia. Namun, panitia lokal tak bisa mengambil keputusan.

”Mereka punya dewan syura yang terdiri atas beberapa daerah dan negara. Hari ini (kemarin, Red) semua baru hadir,” kata Adnan. Karena itu, pemerintah meminta acara tersebut ditunda. ”Katanya setelah Subuh mereka akan rapat untuk membicarakan itu, kita beri kebijakan kalau toh memang harus dilaksanakan, kita minta satu hari saja baru bubar,” sambungnya.

Adnan menambahkan, untuk peserta warga negara asing (WNA), setelah dari Pakatto, mereka tidak dibolehkan langsung pulang ke negara asal. Mereka harus tinggal selama 14 hari di markas Jamaah Tabligh di Jalan Kerung Kerung, Kecamatan Makassar, Kota Makassar. ”Jika selama 14 hari itu mereka aman, baru dipulangkan,” tutur putra Ichsan Yasin Limpo itu.

Pemda Gowa juga telah mengirim tim kesehatan ke lokasi pelaksanaan Ijtima itu. Tim itu sekaligus melakukan sterilisasi dengan penyemprotan disinfektan. ”Karena kita juga tidak bisa langsung bubarkan paksa, sehingga kita lakukan pendekatan. Laporan yang masuk ke kita, kurang lebih sudah delapan ribu lebih orang di sana,” jelas Adnan.

Seperti dilaporkan Fajar kemarin (18/3), Pemkab Gowa tidak mengeluarkan izin. Namun, ribuan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa negara lain sudah berada di Kelurahan Pakatto, Kecamatan Bontomarannu.

Kemarin siang kendaraan-kendaraan yang mengangkut peserta ijtima terus berdatangan. Baik itu minibus, mobil, maupun truk.

Adnan menambahkan, sejak awal, dari hasil rapat koordinasi, Pemkab Gowa sudah memutuskan tak memberikan izin dilaksanakannya kegiatan tersebut. Apalagi, kegiatan itu dihadiri pula oleh peserta dari luar negeri. ”Dari Malaysia dan Thailand, misalnya, sudah ada beberapa yang datang. Mungkin sudah telanjur beli tiket,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Bontomarannu Muh. Sabir Bangsawan kemarin siang bersama Kapolres Gowa mendatangi lokasi pelaksanaan Ijtima. ”Kami berniat untuk mencari penanggung jawab kegiatan, tapi tidak ada yang mengaku. Saling tunjuk-tunjuk,” ungkapnya kepada Fajar.

Sabir mengaku bingung untuk berkoordinasi dengan pihak penyelenggara guna menghentikan kegiatan tersebut. ”Besok siang (hari ini, Red) pembukaan. Kami terus pantau,” katanya.

Sabir mengimbau seluruh masyarakat Bontomarannu, terutama warga yang ada di sekitar lokasi dilaksanakannya kegiatan itu, untuk tak mendekat, apalagi mengikuti kegiatan tersebut. ”Sebenarnya kegiatan itu bagus. Hanya, saat ini kan pemerintah sedang melakukan upaya pencegahan persebaran virus korona,” tuturnya.

Indonesia semestinya belajar dari apa yang dialami Malaysia. Negeri yang kini dipimpin Perdana Menteri Muhyiddin Yassin itu terpaksa mengambil keputusan lockdown setelah penularan Covid-19 meluas.

Mengutip AFP, acara Ijtima Ulama Dunia Zona Asia 2020 di Sri Petaling pada 27 Februari sampai 1 Maret lalu mengakibatkan jumlah pasien melonjak tajam. Ada 790 kasus dan 2 kematian di Malaysia, sekitar dua pertiganya berasal dari acara yang dihadiri sekitar 16 ribu orang tersebut. Beberapa jamaah dari luar negeri akhirnya pulang dengan membawa virus.

Kegiatan di Indonesia dan Malaysia sama-sama diselenggarakan anggota Tablighi Jama’at (Jamaah Tabligh), tapi dari kelompok yang berbeda. Total ada 411 warga negara asing yang sudah tiba. Mereka berasal dari sembilan negara. Yaitu Pakistan 58 orang, India (35), Malaysia (83), Thailand (176), Brunei Darussalam (1), Timor Leste (24), Arab Saudi (8), Bangladesh (24), dan Filipina (2).

Seluruh peserta asing datang lewat jalur udara. Sebagian sempat transit di sejumlah hotel dan penampungan di Kota Makassar. Sementara itu, warga Indonesia yang hadir sebanyak 8.283 orang, berasal dari berbagai wilayah di penjuru Nusantara.

Pertemuan tersebut berpotensi besar untuk menularkan SARS-CoV-2 yang mengakibatkan Covid-19. Mereka yang sudah tertular akan kembali pulang ke kampung halaman masing-masing dan membuat penularan kian luas. Persis seperti yang terjadi di Malaysia.

Meski tahu risikonya, penyelenggara enggan untuk membatalkan acara tersebut. Mengutip The Star, pihak penyelenggara menolak permintaan resmi dari pemerintah setempat untuk menunda acara itu. Mayoritas peserta juga sudah tiba di lokasi.

Di akun Facebook yang mempromosikan acara tersebut, tampak ulama Tabligh asal India Sheikh Maulana Ibrahim Dewla bertolak dari Bandara Internasional Kuala Lumpur Selasa (17/3) menuju Indonesia. Para peserta dari negara-negara teluk juga datang lebih awal untuk membantu mendirikan tenda.

Diberitakan sebelumnya, acara yang digelar di Malaysia turut membuat Covid-19 menyebar ke negara-negara tetangga. Kasus pertama di Brunei Darussalam adalah jamaah dari acara tersebut. Saat ini ada 50 orang yang positif Covid-19 di Brunei dan semuanya berkaitan dengan acara itu.

Banyak juga jamaah di Kamboja, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam yang tertular. Singapura bahkan harus menutup masjid-masjid untuk sementara waktu akibat penularan masif itu. (bay/sha/c9/c10/oni/ttg/jpg)

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top