Jumlah Negara yang Terapkan Lockdown Bertambah, WHO Uji Coba Vaksin | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Jumlah Negara yang Terapkan Lockdown Bertambah, WHO Uji Coba Vaksin


TERTAHAN DI BATAS. Para pelintas batas yang hendak masuk ke Timor Leste tak bisa masuk ke wilayah itu karena pemerintah setempat menerapkan penutupan perbatasan bagi pelintas batas sejak Kamis (19/3) siang. Tampak para pelintas batas saat berada di pos perbatasan Timor Leste di Batugade. (FOTO: Istimewa)

PERISTIWA/CRIME

Jumlah Negara yang Terapkan Lockdown Bertambah, WHO Uji Coba Vaksin


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Jumlah negara yang mengisolasi diri (Lockdown) terus bertambah. Begitu pula jumlah figur publik yang menjadi korban.

Mulai kemarin tengah malam (19/3), Selandia Baru menutup perbatasannya untuk semua warga asing. Sementara itu, di Monako, Pangeran Albert diumumkan positif tertular virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Di Selandia Baru, meski tidak ada korban meninggal dari 28 kasus, Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern punya pemikiran lain. ’’Saya tidak mau menoleransi risiko di perbatasan kami,’’ ujar Ardern dalam sesi konferensi pers.

Kebijakan serupa pernah diambil Taiwan dan Hongkong yang berbuah lumayan manis.

Meski dekat dengan Tiongkok yang merupakan pusat munculnya virus, angka kejadian di dua wilayah tersebut terbilang rendah.

Orang yang baru mendarat di Selandia Baru atau di tengah perjalanan menuju negara tersebut tetap boleh masuk. Yang tidak akan diizinkan masuk adalah yang baru berangkat setelah larangan berlaku.

Kapal-kapal kargo juga diperbolehkan masuk agar stok barang tetap aman. Dengan begitu, tidak ada alasan untuk melakukan panic buying.

Langkah serupa diambil Australia. Mereka tidak ingin menambah jumlah infeksi Covid-19 dari penularan lintas negara. Semua warga asing yang tidak memegang kartu kependudukan Australia dilarang masuk terhitung mulai pukul 21.00 malam ini.

BACA JUGA: Timor Leste Tutup Perbatasan, Pelintas Batas Tertahan di Batugade

Di Italia, lockdown diperpanjang. Seharusnya karantina satu negara itu berakhir 25 Maret, tapi diubah menjadi 3 April. ”Blokade total akan terus berlangsung,” tegas PM Italia Giuseppe Conte seperti dikutip CNBC.

Italia memang tak bisa berbuat banyak. Infeksi dan kematian akibat virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, tersebut terus melejit. Hingga Rabu (18/3), ada 35.713 orang yang tertular dan 2.978 lainnya meninggal.

Gubernur Lombardy Attilio Fontana mengungkapkan, rumah sakit di wilayahnya sebentar lagi tidak bisa menampung pasien baru. Lombardy menjadi pusat penularan di Italia.

”Sayangnya, jumlah penularan tidak kunjung turun. Ia malah terus naik,” ujar Fontana.

Meski tak separah Italia, nasib negara-negara Asia juga tidak lebih baik. Di Malaysia, penularan terus merangkak naik. Saat ini ada 790 orang yang positif tertular dan 2 orang meninggal. Lebih dari separonya adalah Jamaah Tabligh yang menggelar acara di Masjid Jamek Sri Petaling awal Maret lalu.

Pemerintah sudah menghubungi 10.553 jamaah yang ikut acara tersebut. Sebanyak 4.986 orang sudah diperiksa, 513 di antaranya dinyatakan positif. Salah seorang jamaah yang berusia 34 tahun termasuk korban meninggal. Kementerian Kesehatan menyerukan agar jamaah yang belum diperiksa segera datang ke rumah sakit.

Sebanyak 83 warga Malaysia yang hadir dalam acara Jamaah Tabligh di Gowa, Sulawesi Selatan, akan langsung dikarantina begitu sampai. ”Ini wajib karena mereka baru tiba dari negara yang memiliki banyak kasus Covid-19 (Indonesia, Red),” tegas Menteri Kesehatan Malaysia Adham Baba seperti dilansir Channel News Asia.

WHO Ujicoba Vaksin

Sampai detik ini, vaksin maupun obat untuk Covid-19 belum tersedia. Padahal, kasus di seluruh dunia mencapai 220 ribu orang dan angka kematiannya mendekati 9 ribu orang.

Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kemarin mengungkapkan bahwa uji coba pertama vaksin Covid-19 sudah dimulai. Pengetesan tersebut dilakukan 60 hari setelah mereka mendapat urutan genetik virus dari Tiongkok.

Namun, Ghebreyesus tidak mengungkap dengan persis lokasi uji coba. Vaksin itu tidak akan tersedia dalam waktu dekat. Kalau toh berhasil, dibutuhkan waktu 12–18 bulan agar vaksin tersebut tersedia untuk umum.

Ghebreyesus menegaskan bahwa banyak uji coba skala kecil dengan berbagai metodologi yang dilakukan. Tapi, itu tidak memberikan gambaran yang jelas dan kuat tentang perawatan untuk pasien Covid-19.

Karena itulah, WHO bekerja sama dengan beberapa pihak melakukan penelitian di beberapa negara. Pengobatan yang belum diuji dibandingkan satu dengan yang lain.

Sementara itu, Kerajaan Monako mengonfirmasi bahwa Pangeran Albert II positif tertular virus korona. Agence France-Presse melaporkan, kondisi kesehatan Pangeran Albert II masih bagus dan tidak perlu dikhawatirkan.

Pemimpin berusia 62 tahun itu akan tetap bekerja dari kediamannya. Dia tidak menjalani karantina di rumah sakit. Tiga hari sebelumnya Perdana Menteri Monako Serge Telle juga dinyatakan positif Covid-19. Dia dirawat di rumah dengan pengawasan dari Princess Grace Hospital Centre. (sha/c19/c11/ttg/jpg)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top