Pasar Corona yang Sexy | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pasar Corona yang Sexy


Frits O Fanggidae (FOTO: Dok. TIMEX)

OPINI

Pasar Corona yang Sexy


Oleh: Frits O Fanggidae *)

PASAR adalah diri kita sendiri. Pasar bisa menjadi gaduh, harga-harga melambung, barang menjadi langka, karena ulah kita sendiri. Pasar bisa juga jadi tenang, bergerak dinamis tanpa kekacauan, karena ulah kita juga. Pasar akan bergolak, merugikan kita, karena kita tidak tertib.

Mengapa demikian? Di dalam Pasar, sebagaimana didalilkan Adam Smith, terdapat dua kekuatan, yaitu permintaan dan penawaran. Ketika kedua kekuatan ini biisa diseimbangkan (saling megalah), Pasar akan bekerja sempurna, sehingga masyarakat akan menikmati kesejahteraan. Karena itu, menurut Smith, Pemerintah tidak boleh terlibat didalam pasar (perekonomian). Tugas pemerintah adalah bangun fasilitas umum, perkuat keamanan dan buat aturan hukum untuk menciptakan ketertiban umum. Untuk urusan ekonomi, pasarlah yang menentukan.

Kekuatan permintaan dan penawaran tersebut, sejatinya terdapat  didalam diri kita, entah sebagai konsumen yang memiliki kekuatan permintaan, atau sebagai produsen/penjual yang memiliki kekuatan penawaran.Barang apa yang diproduksi dan dijual di pasar, sangat tergantung dari apa yang diinginkan konsumen (permintaan). Jadi, silahkan semua pelaku ekonomi masuk pasar dan berkompetisi, karena melalui kompetisi, masyarakat akan memperoleh barang berkualitas dengan harga yang murah.

Ketika permintaan meningkat dan penawaran tetap, harga akan naik. Ketika penawaran berlimpah sementara permintaan tetap, harga akan turun. Mekanisme pasar akan bekerja untuk menstabilkan gejolak harga, agar kembali pada titik keseimbangan (equilibrium). Kata Adam Smith, mekanisme pasar itu akan bekerja otomatis untuk menyeimbangkan pasar, karena didalam mekanisme pasar tersebut, ada suatu kekuatan yang kasat mata (invisible hand) yang akan menyeimbangkan pasar. Jika semua bekerja pada tingkat full capacity atau sesuai batas kemampuannya, pasar akan befungsi baik dalam mengalokasi dan mendistribusikan faktor produksi secara effisien dan effktif, sehingga tidak ada pengangguran.

Dalam kenyataannya, pasar ideal yang didalilkan Adam Smith tersebut, ternyata tidak berfungsi alias gagal (market failure). Maka timbullah kekacauan berupa depresi besar tahun 1928-1932. Mengapa pasar tidak berfungsi alias gagal? Karena kita sebagai konsumen dan produsen, bertindak diluar batas kemampuan, alias tidak patuh atau tidak tertib.

Maka datanglah John Maynard Keynes, dengan dalil: pemerintah harus intervensi, karena pasar tidak sempurna, alias kita sebagai produsen dan konsumen tidak tertib, mau untung sendiri, mau seenaknya sendiri. Maka lahirlah mazhab Neoklasik, yang memperbolehkan pemerintah terlibat di pasar untuk menstabilkan atau menertibkan pasar. Demikianlah riwayat singkat pasar.

Jika Corana menjadi komoditas, maka pasar Corona akan menjadi sangat sexy, lantaran komoditas ini dibicarakan dan dipertunjukkan diseluruh dunia. Promosi yang masif dan ekstensif. Dalam kondisi demikian, pasar Corona akan semakin gaduh, tidak tertib dan susah diatur. Komoditas ini akan diburu dimana-mana. Harganya akan naik, pasarnya menjadi sangat gaduh, karena kita yang mencari Corona, bukan Corona yang mencari kita…! Berbeda dengan China, ketika diserang Corona, mereka semua senyap, tetapi bertindak tertib untuk menghindari Corona, dan syukurlah fase krusial telah mereka lalui.

Kini giliran Italy, dan akan diikuti sejumlah negara, termasuk Indonesia. Keluh kesah rakyat Italy ketika hari-hari ini sedang menjalani kurungan (lockdown), penuh penyesalan, betapa mereka begitu cuek dan lebih mengutamakan diri sendiri, ketika pemerintah menyampaikan peringatan bahaya Corona. Ketika mereka terkurung didalam rumah masih-masing, barulah timbul kesadaran, dan kepada dunia mereka katakan taatilah anjuran pemerintah. Hindarilah Corona !

Di Indonesia, kelompok-kelompok tertentu menggunakan Corona untuk panggung politik mereka. Sungguh bukan tindakan politik yang beradab. Banyak pula lapisan masyarakat yang masih bertindak seenaknya. Sekolah diliburkan, orang tua membawa anaknya keliling area publik penuh kerumunan. Seharusnya mereka menghindari Corona, justru Corona didatangi. Orang tidak mau tertib.

Di Kota Kupang, kondisinya tidak berbeda, bahkan ajakan social distance seolah menjadi ajakan untuk berkumpul. Beberapatitik area publik tetap ramai, ketika anjuran social distance dikumandangkan. Ketidaktertiban sosial menjadi sesuatu yang sangat krusial dan kondusif bagi penyebaran Corona.

Sampai tanggal 19/02/2020, OPD telah mencapai 41, suatu kenaikan yang sangat cepat dari 2 OPD pada tanggal 03/03/2020. Yang positif belum ada, tetapi bukan mustahil akan ada. Situasi ketidaktertiban ini harus berubah menjadi tertib. Dengan analogi pasar sebagai telah dikemukakan, kita sebagai konsumen dan produsen, cenderung memburu pemenuhan diri sendiri, tanpa peduli orang lain. Didalam teori Adam Smith tentang pasar, telah terbukti bahwa, kesadaran konsumen dan produsen untuk bekerja pada batas kemampuannya tidak bisa dipenuhi, akhirnya pasar menciptakan malapetaka bersama.

Untuk itu pemerintah harus terlibat menciptakan ketertiban yang dimaksud. Gubernur telah mengiinstruksikan agar sekolah-sekolah diliburkan, kegiatan belajar dilakukan dirumah, mulai tanggal 20 Maret untuk 14 hari kedepan. Sejumlah kampus telah melaksanakan perkuliahan online sejak beberapa hari lalu.

Akan tetapi instruksi Gubernur tersebut, hanya akan menciptakan kesempatan yang lebih banyak untuk berlalulalang, bila tidak diikuti pengawasan dari aparat keamanan secara ketat. Karena itu, supaya kita tidak berurusan dengan aparat keamanan, dan yang paling utama untuk keselamatan kita bersama,  ada baiknya kita menyimak dan mengikuti pesan warga Italy yang sedang menjalani kurungan saat ini, taatilah pemerintah, bertindaklah tertib dan bijaksana untuk kepentingan bersama. (*)

*) Dosen Fak Ekonomi – UKAW Kupang

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top