COVID-19: Tantangan Iman dan Nalar (Sebuah Catatan Reflektif) | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

COVID-19: Tantangan Iman dan Nalar  (Sebuah Catatan Reflektif)


Gabriel A. I Benu. (FOTO: Istimewa)

OPINI

COVID-19: Tantangan Iman dan Nalar  (Sebuah Catatan Reflektif)


Oleh: Gabriel A. I Benu *)

Pengantar

Memulai tulisan ini saya mengucapkan turut berbelasungkawa bagi keluarga para korban jiwa akibat wabah virus corona (Covid-19). Tulisan ini adalah sebentuk refleksi atas wabah virus corona yang menjadi duka dan kecemasan dunia saat ini.

Di tengah kecemasan dan duka mendalam atas perisiwa ini, saya terdorong untuk menuliskan betapa pentingnya kesadaran kita akan bahaya virus yang mengancam kesehatan dan menantang iman, cara beragama dan cara bernalar kita.

Perlu saya tegaskan, tulisan ini tidak bermaksud untuk memaksakan korelasi logis wabah ini dengan cara hidup beriman dan beragama, tetapi lebih sebagai pembacaan reflektif yang berguna bagi penataan kehidupan beriman dan beragama yang tidak mengabaikan peran pertimbangan akal sehat guna mengantisipasi bahaya yang mengintai kehidupan kita hari ini.

Beberapa hari lalu dalam sebuah postingan di salah satu media sosial seorang teman menulis demikian, “Buat apa takut corona. Hidup dan mati ada di tangan Allah. Allah pasti tidak akan mengirimkan virus untuk umatnya. Mengapa kita dilarang pergi ke tempat-tempat ibadah? Allah tidak akan mengirim virus ke tempat-tempat ibadah”.

Postingan ini sejenak membuat saya berpikir dan bertanya, ada apa dengan cara beriman dan beragama kita? Bagaimana menentukan kadar keberimanan kita di tengah wabah epidemi ini? Dan kalaupun iman dipandang
menjamin keselamatan dari wabah ini, pertanyaannya, dengan varian apa kita menentukan keakuratannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini sulit dijawab sebab tidak proporsional dan terkesan mengandung bahaya kesesatan berpikir. Postingan ini tentu tidak bisa dijadikan pedoman generalisasi tetapi upaya untuk mengubah pola berpikir “sesat” di tengah wabah ini adalah mendesak dan itulah yang saya maksudkan dalam tulisan ini.

Covid-19, hari Ini Pada 11 Maret 2020 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus telah menetapkan coronavirus disease (Covid-19) sebagi pandemi. Artinya statusnya beralih menjadi wabah dunia.

Penetapan ini berkenaan dengan pesebaran virus yang kini tersebar di 141 negara yang terkonfirmasi (https://www.kompas.com). Indonesia sendiri berdasarkan rilis terakhir terdapat 227 pasien positif dan pasien meninggal 25 orang (detik.com).

Fakta lapangan dan laporan statistik ini menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam memutus pesebaran virus melalui penetapan libur, pemerikasaan kesehatan dan social distancing yakni menjaga jarak dan menghindari keramaian mengingat laju pesebaran covid-19 yang cukup cepat dan signifikan.

Bentuk-bentuk penanganan dan upaya pencegahan ini urgen untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Kembali pada isi postingan tadi, saya ingin mengatakan bahwa kesadaran kita untuk bekerjasama dalam memutus laju pesebaran virus adalah hal yang sangat diperlukan saat ini.

Pelarangan ke tempat ibadah sebagai salah satu sentrum keramaian tidak berarti bahwa pemerintah berusaha untuk membatasi prinsip-prinsip iman dan tata ritual agama kita dalam arti tegas dan esensil. Hal yang sama berlaku juga ketika pemerintah menetapkan social distancing. Penjarakan dalam interaksi sosial (social distancing) tidak dimaksudkan oleh pemerintah untuk membatasi relasi sosial kita dalam arti tegas. Penetapan-penetapan ini tak lain adalah upaya untuk mencegah peningkatan jumlah korban.

Tantangan Iman dan Nalar

Beberapa waktu belakangan ini, secara khusus dalam konteks Indonesia, ruang publik kita dijejali dengan berbagai isu primordial suku, agama dan ras yang memantik rupa-rupa aksi secara rasional maupun irasional. Hal yang paling nampak adalah terjadinya retakan religius-keagamaan berbau politis yang berimbas pada terjadinya beberapa konflik antar umat beragama.

Di sisi lain, jawaban atas ragam persoalan berbangsa dan bernegara tak jarang dicari pada ruang-ruang privat keagamaan. Di sinilah letak kekeliruan berpikir dan bertindak yakni ketika jawaban atas persoalan publik dicari dalam ruang-ruang privat keagamaan.

Saya mengemukakan persoalan ini sebagai pembanding untuk melihat bagaimana cara berpikir kita masih terhimpit di ruang-ruang sempit. Kita terjebak pada ekstrim fideisme sebagai ekspresi fundamentalisme iman keagamaan.

Kita terperosok jauh dalam “kebutaan” beragama dengan membangun persepsi bahwa cukup dengan iman dan pelaksaan ritual keagamaan, keselamatan dan kesehatan telah menjadi milik paripurna yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun dan apapun termasuk Covid-19. Pola pikir seperti ini perlu segera dibenahi.

Beriman memang penting tetapi di pihak lain mengunakan akal sehat dalam menimbang dan memutuskan apa yang terbaik bagi diri dan kesehatan juga penting. Thomas Aquinas, salah satu filsuf sekaligus teolog mengemukakan betapa pentingnya peranan akal budi dan iman.

Keduanya berasal dari Tuhan. Korelasi keduanya membantu manusia untuk mencapai pengertian tertinggi akan manusia di satu pihak dan Allah di lain pihak. Iman di satu pihak menyempurnakan pemahaman manusia yang tak dapat dijangkau akal budi tetapi di pihak lain juga akal budi membantu manusia dalam memahami iman juga dalam tataran praktis pelaksanaannya.

Wabah Covid-19 menjadi tantangan bagi iman dan nalar kita. Di satu pihak kita mengandalkan iman dan prinsip-prinsip keagamaan sebagai upaya membangkitkan kesadaran sebagai manusia yang terbatas dan membutuhkan Tuhan seperti berdoa tetapi serentak di pihak lain, kita ditantang untuk secara rasional memberdayakan akal budi dalam membangun pola pikir yang aktif dan pro-aktif guna menjamin kesehatan dan keselamatan kita yang sedang terancam seperti menghindari keramaian dan sebagainya.

Beriman tanpa berakal adalah sesat dan berakal tanpa beriman adalah buta. Mari berbenah dan tetap menjaga kesehatan! Semoga.

*) Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top