Banyak Usulan Menutup Penerbangan dan Pelayaran ke NTT, Begini Pertimbangan Pemprov | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Banyak Usulan Menutup Penerbangan dan Pelayaran ke NTT, Begini Pertimbangan Pemprov


Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. (FOTO: Istimewa)

KABAR FLOBAMORATA

Banyak Usulan Menutup Penerbangan dan Pelayaran ke NTT, Begini Pertimbangan Pemprov


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Berbagai perhatian dan masukan disampaikan banyak kalangan termasuk Perhimpunan Ikatan Dokter Umum Indonesia Provinsi NTT agar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menutup jalur penerbangan dan pelayaran dari dan ke Kupang dan sejumlah bandara serta pelabuhan lainnya di Provinsi NTT guna mengantisipasi penyebaran Virus Korona (Covid-19). Berbagai masukan ini mendapat tanggapan balik pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) yang diwakili Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si kepada pers di depan pelataran Kantor Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Minggu (22/3) menyebutkan, salah satu cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan membatasi penerbangan.

Meski demikian, lanjut Marius, Pemprov NTT harus bijak dalam menyikapi berbagai masukan, usul dan saran dari berbagai pihak terkait penanganan Covid-19 di NTT.

Menurut Marius, Pemprov NTT bisa saja melaksanakan berbagai masukan itu, namun ketika hal tersebut dilakukan, tentu memunculkan dampak yang lain.

“Barang dan jasa ke Provinsi NTT, kita harapkan tetap berjalan. Mengingat NTT sangat bergantung pada wilayah lain di luar NTT, sembako dan sebagainya. Khusus untuk NTT, kita membutuhkan sarana prasarana kesehatan, membutuhkan Alat Pelindung Diri (APD), fasilitas obat-obatan dan sebagainya yang harus cepat didistribusi dari luar ke NTT, termasuk ketika kita mengirim sampel darah pasien ke Jakarta ke Litbang Kementerian Kesehatan RI. Ini semua tentu membutuhkan kecepatan yaitu transportasi udara,” ucap Marius, berargumen.

Selain alasan-alasan sosial ekonomi lainnya, mantan Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT juga menyinggung akses melalui pelabuhan. “Kita tetap membuka jalur-jalur kapal yang masuk ke NTT, kapal barang dan sebagainya. Karena memang kebutuhan masyarakat NTT 60 – 70 persen masih berasal dari luar. Kita belum mandiri secara ekonomi untuk memenuhi semua kebutuhan itu seperti gula, garam, beras dan sebagainya,” ucap dia.

Dia berjanji akan mengkaji hasil pemikiran dari para pengamat, para dokter tetapi juga perlu menjelaskan secara keseluruhan agar dapat dipahami oleh publik.

“Jadi kita tidak melihat dari satu variabel saja tetapi banyak variabel, dan akan dianalisis lalu dari hasil analisis tersebut kita buat dan memutuskan sebuah kebijakan. Tentu maksudnya baik tetapi kita juga menganalisis dari berbagai variabel yang lain,” kata doktor penyuluh pertanian lulusan IPB Bogor itu.

Perlu Dipikirkan

Di tempat yang sama, Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka, ST, MM mengaku, mengetahui adanya permintaan tersebut dari media. “Hari-hari terakhir ini di media kita baca paling tidak ada permintaan untuk penghentian penerbangan yang diminta oleh Persatuan Dokter Umum Indonesia wilayah Kupang. Terkait penutupan ini tentu tidak serta merta misalnya kita melarang penumpang dari kota-kota yang masuk ke NTT. Misalnya dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makasar. Masuknya kemana, Bandara El Tari, Tambolaka, Bandara Komodo, dan Frans Seda. Itu tidak bisa serta merta kita tutup. Hal ini tentu perlu dipikirkan,” jelas dia.

Sementara itu GM Angkasa Pura Bandara El Tari Kupang, Barata belum berani mengambil keputusan. “Kita belum putuskan. Namun, untuk sementara mengantisipasi ini karena data memang menunjukkan ODP terbanyak itu berasal dari beberapa kota seperti Denpasar terbesar jumlahnya,” kata Barata.

Berdasarkan data itu lanjut dia, pihaknya akan coba mencari jalan keluar terbaik. “Karena kalau kita tutup, itu sama saja dengan kita lockdown. Namun hal itu bukan tidak mungkin. Mungkin saja. Namun perlu kita pikirkan dan diskusikan secara baik dengan semua stakeholder. Tidak bisa langsung, katakan saja dinas perhubungan, bandara maupun pihak maskapai,” jelas dia diamini Kepala Kesehatan Pelabuhan (KKP) Wilayah Kupang, Putu Sudarma.

“Kami di KKP, berlakukan yang namanya HAC (Health Allert Card) atau Kartu Kewaspadaan Kesehatan. Ini sudah dilakukan,” ungkap Putu Sudarma. (*/yl)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top