Atasi Covid-19, Pemprov Siagakan TransNusa Mobilisasi Dokter Keliling | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Atasi Covid-19, Pemprov Siagakan TransNusa Mobilisasi Dokter Keliling


KETERANGAN PERS. Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr. Domi Mere (kiri) bersama Karo Humas Setda NTT, Marius Ardu Jelamu memberi keterangan pers kepada awak media terkait perkembangan penanganan pandemik Covid-19 di NTT, di kantor Dinkes NTT, Senin (23/3). (FOTO: Istimewa/Humas Setda NTT)

KABAR FLOBAMORATA

Atasi Covid-19, Pemprov Siagakan TransNusa Mobilisasi Dokter Keliling


Wacanakan Hotel Sasando dan RSJ Naimata untuk Tampung Pasien

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Sebagian besar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik pemerintah di NTT masih terbatas tenaga dokter untuk penanggulangan Coronavirus Disease (Covid-19). Saat ini di NTT, tenaga dokter spesialis paru berjumlah empat orang. Tiga orang bertugas di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang, dan satu orang dokter lainnya bertugas di salah satu RSU Daerah.

Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr. Dominikus Minggu Mere kepada wartawan di Kupang, Senin (23/03), mengatakan, terbatasnya jumlah dokter spesialis paru di NTT yang merupakan daerah kepulauan memaksa Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat mengambil langkah strategis memobilisasi dokter keliling ke RSUD.

Untuk tujuan itu, lanjut dr. Domi Mere, Pemprov NTT menyiagakan maskapai penerbangan Trans Nusa memobilisasi tenaga medis yang jadwal rutenya akan diatur sesuai kebutuhan daerah yang prioritas angkanya meningkat.

Dokter Domi juga mengatakan, Pemprov NTT terus berupaya memenuhi kebutuhan fasilitas pendukung untuk penanggulangan Covid-19. Misalnya pengadaan alat pengaman diri (APD), pesanan 10.000 unit alat rapid test dan sarana penunjang lainnya.

Ia mengatakan Gubernur NTT sudah memerintahkan Dinas Kesehatan untuk mengganggarkan semua kebutuhan fasilitas pendukung karena saat ini sudah ada jaringan untuk pengadaan alat rapid test dan APD yang akan didistribusikan untuk semua kabupaten/kota di NTT.

“Kita diminta untuk anggarkan semua kebutuhan. Suda ada jalur untuk pengadaan APD,” ungkap dr. Domi.

Guna mewujudkan hal tersebut, kata dr. Domi Mere, pihaknya sudah mengundang berbagai organisasi kesehatan antara lain ikatan dokter, ikatan perawat, laboratorium dan sanitasi untuk merumuskan kebutuhan masing-masing.

Dokter Domi Mere kembali menegaskan bahwa, NTT hanya memiliki empat orang dokter spesialis paru. Sementara untuk dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis patalogi klinik tidak ada masalah karena hampir semua rumah sakit pemerintah di NTT punya sumber daya itu.

Hal lain yang menjadi perhatian serius Pemprov NTT, kata dr. Domi Mere, adalah kesiapan menyediakan fasilitas penampungan pasien Covid-19 seandainya jumlahnya banyak.

Menurut dr. Domi, Pemprov NTT mewacanakan untuk menyiapkan beberapa tempat untuk konsentrasi pasien Covid-19, diantaranya Hotel Sasando dan RSJ Naimata, dan RSUD Prof. Dr. W. Z. Johanes.

“Kita sudah pikirkan seperti di RSU Johannes, ruang-ruang yang ada tentu harus dipakai dengan modivikasi agar sesuai standard penanganan pasien korona. Begitu juga di kabupaten tentu sudah dipikirkan dari sekarang,” katanya.

Sementara Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Ardu Jelamu mengatakan, Gubernur sudah ingatkan agar kebutuhan sarana fasilitas di RSU harus dipenuhi dan lengkapi.

Pemprov NTT, katanya, terus melakukan persiapan sehingga bisa mengatasi bencana kemanusiaan yang sedang melanda masyarakat saat ini. “Bapak Gubernur sudah ingatkan tidak boleh ada keluhan dari posko gugus tugas. Sehingga harus disiapkan semua kebutuhan untuk hadapi kasus Covid-19,” tandasnya.

Ia mengatakan, penanggulangan pandemik Covid-19 harus diselesaikan serius, tidak boleh meremehkan seperti yang terjadi di Italia. Social distancing menjadi penegasan untuk masyarakat NTT, hindari keramaian, kerumumanan, yang melibatkan banyak orang. “Sebab virus bisa melalui udara dan rentan terjadi menyerang siapa saja,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Marius, koordinasi Bupati, Walikota dan Polres perlu dilakukan menindaklanjuti maklumat Kapolri untuk melarang tidak ada aktifitas yang melibatkan masyarakat banyak. Penertiban penting dilakukan untuk menekan terjadinya penyebaran virus.

“Lebih baik dicegah sebab satu orang saja positif tentu eskalasi sangat tinggi sehingga sebaiknya hindari agar tidak terjadi potensi penyebaran. Sebab Negatif bukan bearti tidak ada positif tetapi sebaiknya waspada lakukan pencegahan. Social distancing penting sekali. Harus dilakukan sungguh-sungguh. Semua masyarakat perlu memproteksi diri, perlu pencegahan dini,” tandasnya. (mg33)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top