TPDI Laporkan Oknum Jaksa Penjual Pupuk di Sikka ke Kejagung RI | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

TPDI Laporkan Oknum Jaksa Penjual Pupuk di Sikka ke Kejagung RI


LAPOR KEJAGUNG. Koordinator TPDI, Petrus Salestinus bersama advokat Silvester Nong Manis, SH (kiri) menyampaikan laporan dugaan penggelapan barang bukti oleh Jaksa Akbar Baharuddin ke Kejagung RI, di Jakarta, Senin (30/3). Laporan ini disampaikan juga ke Jamwas, Jamintel, dan Jampidum Kejagung RI sekira pukul 15.00 WIB. (FOTO: Istimewa)

PERISTIWA/CRIME

TPDI Laporkan Oknum Jaksa Penjual Pupuk di Sikka ke Kejagung RI


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang dikoordinir Petrus Selestinus, SH didampingi Silvester Nong Manis, SH dan sejumlah advokat TPDI melaporkan oknum jaksa di Kejaksaan Negeri Sikka, Abubakar Baharuddin (AB) ke Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Jakarta.

AB yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Sikka dilaporkan ke Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Kejagung RI karena kedapatan menjual barang bukti (BB) pupuk untuk bahan peledak, dimana kasus ini sementara dalam proses persidangan di pengadilan setempat.

Petrus Salestinus dalam keterangan tertulisnya yang diterima TIMEXKUPANG.com, Senin (30/3) menyebutkan, ia bersama Silvester Nong telah melaporkan AB ke Jamwas Kejagung RI pada Senin (30/3).

Menurut Petrus, dalam laporan yang disampaikan ke Kejagung RI itu, TPDI meminta Jaksa Agung untuk segera menonaktifkan dan memproses hukum terhadap Akbar Baharudin, SH lantaran diduga telah melakukan penggelapan Barang Bukti (BB).

“Kami minta agar Baharudin harus segera dinonaktifkan dan diproses hukum karena diduga kuat menggelapkan BB, bukan dipindah tugaskan,” tegas Petrus.

Petrus Salestinus menyebutkan, surat TPDI yang disampaikan ke Kejagung RI itu tidak dibawanya sendiri, melainkan bersama sejumlah Advokat TPDI, diantaranya Silvester Nong Manis SH, B. M. Ambardi Bapa, SH, MH, Steven Ayes Tesmau, SH, Slamet Zainuri, SH, dan Posma G. P. Siahaan, SH.

“Atas nama penegakan hukum dan keadilan, pada hari ini Senin, tanggal 30 Maret 2020, kami telah menyampaikan laporan kepada Jaksa Agung RI tentang dugaan Penggelapan Barang Bukti (BB), yang diduga dilakukan Akbar Baharuddin, SH (AB) seorang Jaksa dengan jabatan Kasi Pidum pada Kejaksaan Negeri Sikka, NTT,” jelas Petrus.

Petrus membeberkan, Kejari Sikka saat ini tengah menuntut pertanggungjawaban pidana terhadap lima orang nelayan Sikka, yakni Swandi, Junaidi dkk, sebagai terdakwa karena didakwa melakukan suatu perbuatan secara tanpa hak, “memasukan, membawa, mencoba, memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan dan seterusnya” suatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak sesuai pasal 1 UU nomor 12 Drt/1951 tentang senjata api, pada tanggal 13 Januari 2020 di Kampung Wuring, Kabupaten Sikka.

“Sekarang Kejari Sikka sedang menuntut 5 orang nelayan karena memiliki pupuk sebagai bahan peledak di PN Maumere. Tuntutan Jaksa ini sesuai pasal 1 UU No. 12 tahun 1951,” ungkap Petrus.

Petrus menyebutkan, BB yang disita dari 5 terdakwa pelaku pembawa bahan peledak diantaranya 1 unit perahu motor, 30 karung pupuk cap matahari ukuran 25 kg, 100 batang detonator dan 5 unit telpon genggam disita dan berada di Kejari Sikka.

BACA JUGA: Oknum Jaksa Diduga Jual BB Pupuk, Kajari Sikka: 3 Malam Saya tidak Bisa Tidur

Hal ini untuk memudahkan JPU dalam membuktikan kesalahan 5 orang terdakwa dalam persidangan atas tuduhan melakukan kejahatan sesuai pasal 1 UU No. 12 tahun 1951, tentang senjata api.

Petrus menambahkan jaksa yang menggelapkan BB pupuk adalah perbuatan korupsi. Dalam proses persidangan, lanjutnya, akan muncul permasalahan karena BB 30 karung pupuk berbahan peledak sebanyak 6 karung raib dari gudang penyimpanan BB pada 13 Januari 2020.

Namun secara tanpa senganja dua orang wanita Anisa dan Tia tertangkap tangan oleh Polantas Polres Sikka, lantaran kedapatan secara tanpa hak membawa 6 karung pupuk yang diangkut menggunakan mobil Honda Brio Nomor Polisi EB 1339 BH. Ternyata pupuk itu indentik dengan 6 karung BB yang raib di kejaksaan.

“Tertangkapnya Anisa dan Tia yang membawa 6 karung pupuk itu ternyata identik dengan BB yang hilang di kejaksaan itu,” beber Petrus.

Untuk kepentingan penyidikan, kedua wanita Anisa dan Tia, mobil honda Brio, 6 karung pupuk bahan peledak yang tertangkap tangan diamankan ke Polres Sikka untuk diproses lebih lanjut.

Dari hasil penyelidikan itu diperoleh informasi 6 karung pupuk itu identik dan merupakan BB perkara lain yang di peroleh dari AB seorang jaksa dengan jabatan Kasi Pidum yang menjual kepada Anisa melalui perantaraan Tia dengan harga Rp 3,5 juta per karung.

“Enam karung BB pupuk bahan peledak yang dijual AB identik dengan 30 karung pupuk yang ada di Kejaksaan,” jelas Petrus.

Sebelumnya Kajari Sikka, Azman Tanjung, SH kepada media ini mengakui adanya kehilangan 6 karung BB pupuk cap matahari dari gudang penyimpanan BB.

Bahkan Azman kecewa karena AB nekat menjual 6 karung BB BB pupuk itu kepada Anisa melalui perantaraan Tia, yang kemudian tertangkap tangan oleh Polantas di Nangahure kecamatan Alok Barat pada 13 Maret 2020 lalu.

“Saya kecewa dan malu AB bisa nekat menjual BB pupuk itu. Kalau kurang uang kenapa tidak minta pada saya,” ungkap Azman kepada wartawan belum lama ini. (Kr5)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top