8 WNI di RDTL Dalam Pantauan, Ini Permintaan KBRI Dili untuk Pemprov NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

8 WNI di RDTL Dalam Pantauan, Ini Permintaan KBRI Dili untuk Pemprov NTT


Konsul RI di Oecusse, Timor Leste, Maria Oni Silaban. (FOTO: Istimewa)

NASIONAL

8 WNI di RDTL Dalam Pantauan, Ini Permintaan KBRI Dili untuk Pemprov NTT


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Sebanyak delapan Warga Negara Indonesia (WNI) di Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) masuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) oleh pemerintahan setempat lantaran melintasi batas negara RI-RDTL melalui jalur ilegal atau jalan tikus.

Akibatnya, delapan WNI tersebut kini menjalani masa karantina di wilayah Timor Leste. Dari delapan WNI itu, sebanyak 5 WNI menjalani karantina di Dili, Ibu Kota Negara Timor Leste Negara, sedangkan tiga WNI lainnya menjalani karantina di Distric Oecusse selama 14 hari kedepan.

Sesuai data yang dihimpun Timor Express dari KBRI Dili, tercatat hingga 30 Maret 2020, terdapat 815 orang warga Timor Leste berstatus ODP terkait Covid-19. Besaran jumlah ODP tersebut sebagian besar baru kembali dari daerah atau negara yang sudah terpapar Covid-19.

Konsul RI di Distric Oecusse, Timor Leste, Maria Oni Silaban kepada Timor Express, Rabu (1/4) mengatakan, jumlah ODP di RDTL terus bertambah. Tercatat per tanggal 31 Maret 2020 sebanyak 815 orang kini harus menjalani karantina di dua tempat baik itu di Dili maupun di Oecusse.

Dikatakan, tingginya angka ODP tersebut disebabkan oleh masuknya warga negara setempat maupun WNI melalui jalur darat yakni PLBN Mota’ain, PLBN Motamasin, dan PLBN Wini. Sejumlah warga tersebut baru datang dari daerah yang terpapar covid-19 sehingga harus menjalani masa karantina untuk 14 hari kedepan.

“Hingga saat ini, terdapat 1 (satu) warga yang positif terinfeksi Covid-l9 dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di Dili. Sedangkan untuk ODP sebanyak 815 orang kini menjalani Karantina terpusat di Dili dan Oecusse,” ungkap Maria Silaban.

Maria Silaban menambahkan, dari 815 Orang yang menjalani karantina itu terdapat delapan WNI yang ikut menjalani masa karantina di Dili dan Oecusse.

Dijelaskan, salah satu pemicu utama tingginya angka ODP di Timor Leste ditenggarai cukup banyak warga Timor-Leste dan WNI yang masuk melalui jalur tikus untuk menghindari proses karantina dan menyiasati pengurangan jam operasi di beberapa PLBN.

“Ada 8 WNI yang ikut dikarantina karena baru datang daerah terpapar Covid-19. Sehingga Perbuatan melintas batas secara ilegal di perbatasan dinilai sangat berbahaya bagi kedua negara dan dikhawatirkan penyebaran wabah Covid-19 tidak terpantau dengan baik,” ujar Oni Silaban.

Menurut Oni Silaban, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT dan Pemerintah Kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Timor Leste sebagai garda terdepan NKRI dapat terus memperketat pengawasan lalu lintas manusia sehingga tidak menularkan Covid-19 bagi kedua negara ini.

Untuk itu, lanjut Oni Silaban, KBRI di Dili mengimbau agar masyarakat kedua negara terus diberikan pemahaman atas dampak wabah Covid-19 dari perlintasan ilegal di perbatasan sehingga diperlukan kerja sama yang baik dalam pencegahan wabah ini.

“Kiranya Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten perbatasan NTT sebagai garda terdepan NKRI dapat terus memperketat pengawasan lalu lintas manusia guna mencegah penyebaran wabah Covid-19 di kedua negara ini,” pinta Maria Oni Silaban. (mg26)

Komentar

Berita lainnya NASIONAL

To Top