Koronanisasi dan Lemahnya Social Distancing di Kota Kupang | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Koronanisasi dan Lemahnya Social Distancing di Kota Kupang


Ambrosius Dedi Adji Sinu (FOTO: Istimewa)

OPINI

Koronanisasi dan Lemahnya Social Distancing di Kota Kupang


Oleh: Ambrosius Dedi Adji Sinu, S.I.P.,M.I.Pol *)

Dalam konteks tertentu, penguasa adalah pemegang kendali dalam polarisasi kebudayaan. Dengan segala aturan dan kebijakannya dalam suatu wilayah kekuasaan, diharapkan dapat meminimalisir gesekan horisontal (antarkebudayaan) maupun vertikal (kebudayaan dengan aturan, kebijakan). Sejalan dengan itu, tugas etis paling utama dari partisipan (masyarakat) adalah “sadar”. Kesadaran bahwa setiap individu sedang didorong untuk mampu bertahan dalam menghadapi tantangan global.  Dengan kata lain,  kerjasama sangat penting antara penguasa dan partisipan, sehingga menjadi hasil yang positif bahkan romantis. Bagi penulis, tentunya hal ini tidaklah mudah.

Koronanisasi

Mcdonaldisasi pada dasarnya adalah proses yang menerapkan prinsip-prinsip restoran siap saji (Ritzer, 2012). Restoran siap saji asal Amerika ini, kian menjamur diseluruh penjuru dunia. Homogenisasi kebudayaan seluruh dunia dapat dilihat pada kesereragaman perilaku individu sebagai akibat dari keberadaan restoran yang dimaksud. Dengan demikian jika McDonald mampu memengaruhi kebudayaan suatu wilayah, maka tidak tertutup kemungkinan wabah korona yang mendunia mampu menyelaraskan perilaku individu hampir di seluruh dunia.  Hal ini dapat diamati aturan-aturan yang sama dibuat untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Wabah korona bisa datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali. Bagi penulis, korona merekonstruksi kebudayaan sampai ke pelosok negeri seperti yang dirasakan penulis saat ini, di Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Kota Kupang. Berkumpul dibubarkan, Ibadah ditiadakan, sampai pada kecurigaan terhadap pihak luar (individu lain).

Tentunya hal ini dilakukan dengan alasan kemanusiaan dan dapat dimaklumi. Akan tetapi, korona seolah menggiring kita menjadi manusia individualistik, manakala kondisi masyarakat yang tidak jauh dari beragam kelompok etnis, agama dan sebagainya. Wabah ini muncul sebagai tantangan global, sepertinya menggilas setiap kebudayaan.

Berbicara tentang kebudayaan, kebudayaan mana yang harus dipertahankan khususnya di Kota Kupang? Kebudayaan masyarakat Kota Kupang ataukah kebudayaan baru yang diciptakan korona itu sendiri? Pada fase ini, barulah kita akan menyadari tentang “Grobalisasi”, seperti yang sudah dijelaskan oleh Ritzer (Ritzer 2012), Grobalisasi adalah keuntungan sepihak yang mana kebudayaan luar menelan habis kebudayaan lokal. Lalu apa urgensinya untuk masyarakat?

Seperti yang sudah dipaparkan, masyarakat Kota Kupang memiliki solidaritas yang kental dalam hal kehidupan berkelompok. Bagi penulis  keunikan ini bisa saja hilang termakan cara-cara hidup baru, sebagai suatu akibat dari trauma wabah corona yang menelan banyak korban di seluruh dunia.

Lemahnya Social Distancing di Kota Kupang

Melihat perkembangan Covid-19 di Indonesia, penulis memberanikan diri untuk berpendapat bahwa ada kelemahan dalam strategi social distancing atau pembatasan hubungan sosial. Bisa diamati bahwa Sejak adanya imbauan social distancing sampai saat ini, malah terjadi eskalasi penyebaran Covid-19 (WA: Covid-19). Puji Tuhan sampai saat ini di NTT bebas Covid-19.

Terlepas dari pertimbangan ekonomi, penulis melihat social distancing sebagai suatu strategi yang sia-sia (perspektif kebudayaan). Sebab social distancing membutuhkan kesadaran individual yang memungkinkan individu sadar akan bahaya diri sendiri dan bahaya terhadap orang lain.

Bagi penulis, hal ini tidaklah mudah jika melihat kebudayaan masyarakat di Kota Kupang. Secara sederhana, penulis beranggapan sebagian besar individu tidak benar-benar mengisolasikan diri dan keluarga dari bahaya Covid-19. Hal ini dapat diamati, masih banyak pembubaran kerumunan orang yang dilakukan oleh pihak berwenang. Dengan kata lain, tradisi masyarakat untuk berkumpul dan menjalankan aktifitas, seolah sulit dikendalikan oleh pihak berwenang. Dengan demikian, strategi social distancing di Kota Kupang seolah tidak berpengaruh sepenuhnya dalam upaya pemutusan rantai penyebaran virus korona.

Diakui penulis bahwa, petugas berwenang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam meminimalisir penyebaran Covid-19, salah satunya membubarkan kerumunan. Hal ini patut diapresiasi. Tetapi, akan muncul pertanyaan: sampai kapan social distancing akan berlangsung? Atau sampai kapan kerumunan orang akan dibubarkan? Bahkan mungkin akan muncul pertanyaan yang paling ekstrem, sampai kapan kita hidup dalam kekhawatiran bahkan ketakutan?

Dengan melihat eskalasi penyebaran Covid-19 di Indonesia, maka batasan waktu dapat ditentukan hanya dengan mengira-ngira. Selain itu, kita begantung pada pengawasan orang-orang yang masuk, mempersiapkan rumah sakit, alat pelindung diri (APD), tenaga medis dan sebagainya. Bagi penulis, kita seolah menunggu untuk menghadapi Covid-19 dengan segala kemampuan, dari pada menghindar dari “peperangan” antara kita versus Covid-19.

Kota Kupang adalah salah satu gerbang masuk dari beberapa titik lainnya di NTT. Sejalan dengan itu, status bebas korona di NTT memberi peluang bagi siapa saja untuk melirik NTT sebagai tempat “pelarian” untuk berlindung. Tentunya bukan melarang orang untuk datang ke NTT, akan tetapi sebagai sebuah signal untuk semua dari kita agar memahami situasi yang terjadi saat ini. Pada akhirnya penulis beranggapan, bahwa korona sedang “mengawasi” kebudayaan kita yang nampaknya rapuh, bila hanya disandingkan dengan strategi social distancing. Tentunya tulisan ini atas dasar kemanusian. Salam hormat. (*)

*) Alumni Prodi Ilmu Politik UNDANA; Alumni Prodi Magister Ilmu Politik UNPAD

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top