Warga Bealaing Galar Ritual Tolak Bala Agar Bebas dari Ancaman Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Warga Bealaing Galar Ritual Tolak Bala Agar Bebas dari Ancaman Covid-19


RITUAL KHUSUS. Para tua adat dan warga Kampung Bealaing saat menggelar ritual adat tolak bala di hutan Bangka Pau, kampung pertama leluhur orang Bealaing, Minggu (5/4). (FOTO: Istimewa)

KABAR FLOBAMORATA

Warga Bealaing Galar Ritual Tolak Bala Agar Bebas dari Ancaman Covid-19


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Warga Kampung Bealaing, Desa Bangka Pau, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Minggu (5/4) menggelar ritual adat tolak bala. Ritual ini dilakukan untuk meminta perlindungan leluhur agar warga Matim terbebas dari serangan virus korona (Covid-19). Dengan ritual ini, warga setempat meyakini, para leluhur akan menerima doa warga.

Tradisi unik ini berlangsung di kampung sejarah, Hutan Bangka Pau, desa setempat. Bangka Pau itu sendiri, lokasi kampung pertama dari warga Bealaing. Disana semua leluhur generasi pertama dimakamkan. Termasuk batu mezbah atau sebutan setempat “compang”. Sekarang lokasi itu diaggap sangat keramat.

“Semua warga Bealaing ikut dalam ritual tolak bala. Anak-anak dan orang tua. Sekitar ribuan orang jumlahnya. Dengan ritual itu, kami berdoa dan memohon kepada Tuhan melalui nenek moyang alias “ema-en’de lopo”, menjauhkan mereka dari virus corona,” ujar salah satu warga Bealaing, Martinus Ambal, kepada media ini di Bealaing, Minggu (5/4) sore.

Menurut Martinus, dalam ritual tolak bala itu, semua warga dan tokoh adat setempat, bersila menghadap mezbah yang ada dan mendaraskan doa adat yang dipimpin tokoh adat yang dipercaya. Di atas mezbah itu, diletakkan sesajen. Inti permohonan agar semua warga masyarakat Bealaing dijauhi dari virus korona.

Mujizatnya, dari seluruh rangakaian ritus itu, leluhur memberinya melalui air yang muncul mengalir di lokasi digelarnya ritus tolak bala. Lalu air yang ada, digayung ke tempat berupa jerigen yang sudah disiapkan oleh warga untuk diminum. Air yang ada dipercaya suci untuk tangkal sejumlah penyakit atau virus, termasuk korona yang didoakan dalam ritus itu.

“Air itu muncul, setelah digaruk pakai pisau peninggal nenek moyang. Air yang ada langsung digayung ke jerigen masing-masing warga untuk diminum. Sebagianya kita bawa ke rumah untuk minum. Air itu tidak muncul sembarangan, tapi saat warga sekampung buat ritual. Selesai ritual, airnya kering kembali,” beber Martinus.

Dikatakanya, sesajian dalam ritus tolak bala virus korona itu berupa empat ekor ayam. Dimana awal sebelum ke lokasi Bangka Pau yang jarak dari Bealiang sekira 1 kilometer itu, semua warga bersama tua adat berkumpul di rumah adat guna melakukan satu ritual adat. Begitu juga saat pulang, semua berkumpul di rumah adat kampung Bealaing.

BACA JUGA: Melihat Cara Unik Warga Malaka Gelar Ritual Adat Tolak Virus Korona

“Sebelum kita berangkat, kami semua kumpul di rumah adat atau “mbaru gendang”, untuk buat acara. Waktu pulang juga. Benda saat doa adat itu, ayam. Waktu di lokasi Banga Pau, kita lakukan doa adatnya di tumpukan batu mezbah, dan juga di mata air suci yang kami timba untuk minum. Benda dalam doa itu semua pakai ayam,” papar Martinus.

BACA JUGA: Pemdes Bitefa dan Tokoh Adat Gelar Ritual Tolak Covid-19

Menurutnya, dari sejumlah tokoh adat yang hadir, termasuk pemimpin doa adat dalam ritual itu, mereka melihat para leluhur hadir dan sempat berkomunikasi dengan mereka. Inti dalam komunikasi itu, para leluhur menerima doa dan permohonan warga yang dilaksanakan dalam ritual tolak bala.

Bahkan ada satu warga asing yang ikut dalam ritual tersebut, juga turut melihat sejumlah leluhur yang menghuni di lokasi Bangka Pau. Pembicaraan para leluhur saat itu, warga asing itu bisa mendengar. Dibuktikan juga lewat munculnya rembesan air dari dalam tanah.

“Tua adat dan warga asing yang bisa melihat dan mendengar langsung pembicaraan leluhur saat ritual itu. Saat itu leluhur berkata, semua permintaan akan dikabulkan. Mereka pun menyuruh untuk minum air yang ada. Supaya bisa menangkis virus penyakit. Para leluhur juga selalu siap untuk melindungi kami semua warga Bealaing,” tutur Martinus.

Toko adat Bealaing, Damianus, kepada media ini mengatakan, lokasi Bangka Pau itu dipercaya sebagai sesuatu yang sakral. Karena para leluhur generasi pertama orang Bealaing, ada di Bangka Pau. Sehinga leluhur yang ada sudah menjadi petunjuk atau penolong hidup bagi warga Bealaing. Ritual tolak bala yang baru dibuat itu diyakini dapat mengusir marabahaya yang datang, khususnya virus korona.

“Dari dulu apabila terjadi wabah penyakit, orang-orang tua bersama warga melaksanakan ritual di kampung pertama itu. Karena kami sudah yakin, para leluhur berdiam disana. Kuburan mereka ada disana,” ungkap Damianus.

Harapan semua warga dalam ritual tolak bala, agar wilayah Matim, khususnya warga Bealaing, terbebas dari virus korona yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat. Sehingga ritual tolak bala itu sebagai bentuk keyakinan dan kepercayaan masyarakat. Juga sudah diwariskan sejak dulu kala apabila adanya wabah penyakit.

“Ritus adat tolak bala seperti ini, merupakan warisan nenek moyang. Kalau ada acara adat penti atau syukuran atas hasil, kami juga buat acara adat di Bangka Pau. Kalau ada ancaman penyakit juga, kami buat acara adat. Pulang dari lokasi itu, kita bawa air yang dipercaya, air suci. Ajaibnya, air itu tiba-tiba muncul dan tanda doa kita diterima,” pungkas Damianus. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top