Warga Lela Mengadu, Bupati Sikka Berhentikan Kades, Lantik Camat Jadi Pjs | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Warga Lela Mengadu, Bupati Sikka Berhentikan Kades, Lantik Camat Jadi Pjs


PELANTIKAN. Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo saat melantik Yosefus A. Yance Padeng sebagai Pejabat sementara Kepala Desa Lela di Maumere, Jumat (22/5). (FOTO: KAREL PANDU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Warga Lela Mengadu, Bupati Sikka Berhentikan Kades, Lantik Camat Jadi Pjs


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Kepala Desa (Kades) Lela, Fredrik Frans Baba Djoedye harus menerima kenyataan diberhentikan sementara dari jabatannya karena dinilai tidak mampu menjalankan roda pemerintahan di desa tersebut.

Selain itu, Kades yang akrab disapa Ivan ini juga dinilai selama menjabat diduga melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dalam sejumlah hal, termasuk penempatan aparat di desanya. Penyerapan Dana Desa selama Ivan memimpin sejak 2016 juga tak berjalan maksimal. Akibatnya, pengelolaan Dana Desa di wilayah tersebut menghasilkan Silpa senilai Rp 3 miliar lebih.

Proses pembangunan di desa nyaris tak dirasakan warga setempat. Hal ini berbuntut pada protes keras warga Desa Lela kepada Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo.

Keluhan warga itu akhirnya dikabulkan Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo pada Rabu (13/5) dengan mencopot kepala desa. Pada Jumat (22/5), Bupati melantik Yosefus A. Yance Padeng sebagai Pejabat sementara (Pjs) Desa Lela menggantikan Ivan. Dengan demikian, Yosefus selain sebagai Camat Lela juga merangkap Pjs Kepala Desa Lela.

Pemberhentian itu sesuai Peraturan Daerah Sikka Nomor 3 tahun 2015, tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pengangkatan, Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa. Penonaktifan Kades Ivan juga dikuatkan dengan Peraturan Bupati (Perbup) Sikka Nomor 22 tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Sikka nomor 3 tahun 2015.

“Kami berhentikan Kades Lela sementara, dan melantik Pjs agar dapat menjalankan roda pemerintahan desa. Jika setiap hari berhadapan dengan persoalan di desa dan tanpa ada penylesaian maka kadesnya kami berhentikan dulu sambil menunggu penyelesaiannya,” tegas Bupati yang akrab disapa Robi Idong itu.

Ihwal penonaktifan Kades Lela ini bermula ketika sekira 30 warga Lela mengadu ke Bupati Sikka beberapa waktu lalu. Para warga ini menilai Kades Ivan memimpin secara otoriter, tak mampu mengelola dana desa dengan baik.

Juru Bicara Warga Desa Lela, Kristoforus Gregorius, mengatakan, mereka mengadukan kepemimpinan Kades Ivan ke Bupati lantaran proses pembangunan di wilayah itu tak berjalan maksimal. Karena itu, mereka meminta Bupati menonaktifkan Ivan, agar pembangunan di desa tersebut dapat berjalan normal, layaknya desa lainnya di Sikka.

“Kami warga datang bersama anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) ke kantor Bupati guna menyampaikan mosi tidak percaya kepada kepala desa Lela,” ungkap Kristo.

Kristo menjelaskan, mereka terpaksa mengadu ke Bupati karena sejak 2016 hingga 2019, pembangunan di desa itu tidak berjalan. Akibatnya Dana Desa itu menghasilkan Silpa sebesar Rp 3 miliar lebih.

Pembangunan di desa itu, kata Kristo, diduga syarat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Disamping itu Kepala Desa Lela juga sangat otoriter. Ini dibuktikan dengan adanya pergantian perangkat desa yang dilakukan sesuai keinginaannya.

Bukan cuma itu saja. Menurut Kristo, dana yang diperuntukan untuk anak sekolah melalui swadaya pengadanan babi yang setiap ekor babi dihargaai Rp 3 juta, namun oleh kepala desa diduga dimanipulasi, dan harga babipun hanya senilai Rp 1,5 juta. “Itu pun harus dipotong PPN,” bebernya.

Terpisah, Kades Lela nonaktif, Fredrik Frans Baba Djoedye kepada media ini menjelaskan, pengaduan warga Desa Lela ke Bupati Sikka sama sekali tidak berdasar.

Menurutnya mestinya warga mendatangi kantor desa Lela, karena kantor desa terbuka 1 x 24 jam. Warga boleh menyampaikan langsung kepada kepala desa apa yang menjadi keluhannya, tidak perlu harus ke bupati.

“Kenapa harus ke bupati? Kantor Desa Lela buka 1 x 24 jam, silakan datang dan bertemu saya secara langsung,” kata Ivan.

Ivan bahkan mengajak wartawan untuk datang ke kantornya guna melihat langsung sejumlah dokumen berkaitan dengan pembangunan di desa itu.

Ivan mengatakan, pengaduan yang disampaikan warga kepada Bupati Sikka adalah hoax alias bohong semata. “Yang warga adukan kepada Bupati itu hoax dan tidak benar,” tegas Ivan. (Kr5)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top