Covid-19 dan Potensi Hand Sanitizer Berbasis Alkohol Produk Lokal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Covid-19 dan Potensi Hand Sanitizer Berbasis Alkohol Produk  Lokal


Yulius Dala Ngapa. (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Covid-19 dan Potensi Hand Sanitizer Berbasis Alkohol Produk  Lokal


Oleh: Yulius Dala Ngapa *)

Secara global, jumlah pasien yang terinfeksi virus korona atau Covid-19 terus bertambah. Menurut data Satgas Covid-19 Indonesia yang dilaporkan secara resmi oleh Juru Bicara Achmad Yurianto, hingga tanggal 28 Mei 2020, jumlah kasus positif pasien terinfeksi Covid-19 mencapai 24.538 kasus. Perincinnya 1.496 orang meninggal dunia, 6.420 pasien sembuh, dan tercatat ada 16.802 pasien yang sedang menjalani perawatan.

Menyikapi situasi ini, pemerintah terus melakukan upaya untuk memutuskan penyebaran Covid-19 seperti menerapkan ibadah di rumah, belajar dari rumah, dan kerja di rumah atau Work From Home (WFH) baik bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun pegawai swasta.

Upaya lain yang telah dilakukan oleh masyarakat untuk pencegahan Covid-19 adalah menggunakan masker dan menghindari keramaian dengan menjaga jarak atau lebih dikenal dengan social distancing. Penerapan mencuci tangan dengan sabunatau menggunakan hand sanitizer juga sangat dianjurkan.

Di beberapa tempat, akses ke air mengalir bisa saja susah, sehingga kita mungkin akan mengandalkan pemakaian handsanitizer. Produk hand sanitizer dianggap praktis dan ampuh untuk membunuh virus yang berada di tangan. Sayangnya, larutan pencuci tangan itu sangat tidak mudah didapatkan ketika Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Pasalnya, salah satu bahan penyusun utama hand sanitizer yaitu etanol (etil alkohol) menjadi barang langka dan sangat sulit diperoleh.

Pada kondisi ini, kita perlu ingat bahwa NTT punya produksi lokal minuman yang mengandung alkohol yang hampir dapat ditemukan di seluruh kabupaten. Minuman ini dikenal dengan berbagai jenis nama yaitu sopi atau moke. Minuman ini sejatinya mengandung etanol yang menjadi bahan utama produksi hand sanitizer. Namun kandungan alkohol di dalam minuman ini sangat bervariasi. Jadi, bisakah kita mendapatkan bahan baku hand sanitizer dari minuman lokal ini?

Etanol Dalam Sopi dan Moke

Sopi dan moke umumnya diproduksi dari tanaman aren (Arenga pinnata MERR) dan lontar (Borassus flabelifer). Kedua tanaman ini menghasilkan nira. Di Flores, misalnya, masyarakat mengolah nira menjadi minuman beralkohol dengan cara fermentasi selama 2 – 3 hari. Kemudian dilakukan penyulingan dengan alat sederhana dari bambu. Hasil penyulingan berupa moke dan sopi dengan kadar alkohol (etanol) yang bervariasi, antara 20 – 40%.

Kandungan etanol yang ada dalam sopi dan moke terbilang rendah. Oleh karena itu, tidak memenuhi syarat untuk digunakan secara langsung dalam produksi handsanitizer. World Health Organization (WHO) menganjurkan bahwa kadar etanol yang terdapat dalam hand sanitizer adalah 70%. Oleh karena itu, perlu adanya tahapan tambahan untuk memperoleh kadar etanol yang dipersyaratkan. Namun campuran alkohol-air bersifat azeotrop; dimana ada kombinasi komponen-komponen atau senyawa kimia dengan titik didih tetap atau akan ada penguapan tanpa perubahan komposisi. Hal ini akan menjadi kendala utama dalam pembuatan etanol dengan kadar yang tinggi.

Untuk itu, perlu dilakukan destilasi atau penyulingan berulang agar diperoleh etanol dari minuman sopi dan moke dengan kemurnian tinggi. Proses destilasi adalah salah satu metode pemisahan senyawa kimia berdasarkan titik didih. Proses ini termasuk sederhana dan relatif murah karena tidak membutuhkan tambahan bahan lain sebagai pelarut. Dalam hal ini proses destilasi dilakukan akan memisahkan etanol dari air yang terdapat di dalam moke atau sopi. Semakin banyak jumlah kedua senyawa itu kita pisahkan, semakin tinggi kadar etanol yang kita peroleh. Hanya saja, suhu perlu dijaga agar stabil pada titik didih etanol (78 derajat Celcius). Suhu yang lebih tinggi akan menyebabkan penguapan bahan lain sehingga mengganggu kemurnian etanol yang kita hasilkan.

Proses destilasi pada moke Flores yang pernah kami lakukan telah menghasilkan kadar alkohol yang dapat dijadikan starting material pembuatan hand sanitizer. Sampel moke diambil dari beberapa tempat yang ada di Kabupaten Ende. Rata-rata kadar etanol moke dari situ sekitar 35,69%. Setelah destilasi terhadap 3.600 mL moke diperoleh 1.487 mL etanol dengan kadar sekitar 86,37%.

Beberapa Pertimbangan

Dari hasil penelitian ini, proses destilasi terhadap moke Flores cukup menjanjikan adanya produk etanol dengan kadar yang bisa dijadikan bahan baku pembuatan hand sanitizer. Kelangkaan bahkan kekosongan alkohol yang terjadi di pasaran seharusnya menjadi kesempatan untuk melirik dan memberdayakan potensi lokal sebagai produk unggulan di tengah menghadapi pandemi Covid-19. Hanya saja, perlu kita perhitungkan beberapa aspek antara lain: Bagaimana ketersediaan  fasilitas penyulingan yang standar serta alat untuk mengukur kadar etanol? Apakah produksi etanol berskala besar bisa kita lakukan demi menyokong ketersediaan etanol untuk hand sanitizer? Berapa banyak nira atau moke yang kita butuhkan untuk mendapatkan etanol dengan kadar sesuai kebutuhan? Bagaimana estimasi waktu pengerjaan dan biaya operasionalnya? Kontrol kualitas seperti apa yang harus kita terapkan selama produksi? Kita perlu memastikan aspek-aspek tadi dalam manajemen keadaan berisiko ini.

Kondisi pandemi ini mengingatkan kita bahwa perlu adanya pengembangan alkohol berbahan baku minuman tradisonal dalam hal ini moke atau sopi. Dengan demikian, kita dapat memutus ketergantungan kita terhadap hand sanitizer atau alkohol yang hanya diperoleh di beberapa apotek dan supermarket. Ini penting, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan dalam propinsi di tengah kondisi penutupan semua moda transportasi. Namun, pengelolaan potensi lokal ini tentunya membutuhkan kerja sama yang baik dan penting dibangun antara lembaga pemerintahan dan perajin minuman tradisional moke dan sopi.

Nira dari aren atau lontar yang selama ini fokus diproduksi sebagai moke dan sopi, bisa dikembangkan menjadi produk alkohol untuk kebutuhan kesehatan. Kerjasama ini diharapkan selain membantu pemerintah dalam mengatasi kelangkaanalkohol di Nusa Tenggara Timur juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat di tengah masalah yang disebabkan pandemi Covid-19. Jika ini dapat dilakukan, ke depan kita mampu memenuhi kebutuhan alkohol dan menjadi motivasi untuk tidak bergantung pada hand sanitizer impor. (*)

*) Dosen Kimia, Universitas Flores

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top