Laboratorium, Sains, Data, dan Decision-Making di Era Pandemi Covid-19 | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Laboratorium, Sains, Data, dan Decision-Making di Era Pandemi Covid-19


Vebronia Solo (FOTO:: Dok. Pribadi)

OPINI

Laboratorium, Sains, Data, dan Decision-Making di Era Pandemi Covid-19


Oleh: Vebronia Solo *)

DI tengah pandemi Covid-19 ini, sains dan data laboratorium punya peran krusial. Kita sudah melihat, betapa pentingnya laboratorium biomolekuler di NTT. Kini NTT sedang membuat satu langkah maju dengan mengembangkan pooled-test. Jika rencana itu lancar, kita bakal kaya data. Hanya saja, analis dan laboratorium ibarat koki terampil di sebuah dapur. Peran mereka eksis sejauh kita merasa lapar dan enggan jajan makanan cepat saji.

Kita perlu keduanya jika data penting. Untuk itu, nyawa laboratorium adalah komitmen bukan rupiah. Tapi mengandalkan sains kadang seperti berjudi sebab laboratorium perlu uang untuk beroperasi.  Di titik ini, sains selalu cemas menunggu dukungan.

Tidak Ada Data, Tidak Ada Informasi

Laboratorium bekerja untuk menyediakan data bagi proses-proses pengambilan keputusan (decision-making). Tidak ada data, tidak ada informasi dasar bagi perumusan manajemen dan kebijakan. Sayangnya, kita sering mengimplementasikan pola terbalik; manajemen dan kebijakan hadir mendahului data. Akibatnya tujuan, target manajemen, dan pendekatan-pendekatan yang kita pakai tidak saling berkaitan.

Pandemi ini telah memberi bukti. Laboratorium biomolekuler hanya ada di beberapa tempat. Sampel-sampel swab tes menumpuk dan mengantri disana selagi kita gelisah menanti hasil dalam ketidakpastian. Upaya-upaya manajemen sepenuhnya mengandalkan adopsi pola-pola yang diterapkan di tempat lain. Kita menghabiskan terlalu banyak waktu menebak-nebak risiko. Kita lambat membuat keputusan tepat karena lambat punya data.

Di negara lain, sains mungkin lebih beruntung bagi ruang implementasi dan terintegrasi dengan kebijakan pemerintah. Tidak demikian di Indonesia. Di kampus saya menimba S2, segala sesuatu tersedia untuk analisa cepat. Di kampus NTT, sampel-sampel penelitian perlu mencari laboratorium yang punya alat atau bahan kimia. Banyak laboratorium pemerintah kewalahan bernapas karena tidak ada situasi sekarat yang membuat orang menagih data. Tidak ada komitmen dalam pemanfaatan data akan membuat laboratorium tidak beruntung bahkan untuk satu botol reagen kalibrasi seharga 1 juta.

Maka, kita patut berterima kasih kepada suara-suara keras yang mendesak berdirinya sebuah laboratorium biomolekuler di NTT. Kita juga patut bangga pada usaha cepat pemerintah untuk membangun laboratorium dan mendatangkan bahan kimia yang dibutuhkan. Krisis telah menjadi katalis yang meringkas proses.

Jika RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes punya alat PCR dan analis, saya yakin mereka telah lama menanti kehadiran satu laboratorium biosafety level 2. Jika kita punya dokter dan analis yang tahu kegunaan PCR, bukan tidak mungkin kebutuhan laboratorium itu sudah pernah direncanakan.

Tapi sepanjang sepuluh tahun terlibat dalam tim yang membangun sebuah laboratorium, saya belajar bahwa laboratorium tidak berdiri karena kebutuhan para praktisi sains, melainkan terpusat pada kepentingan para pemanfaat data; masyarakat dan pemerintah. Spirit sains akan terus bernyala selagi ada saintis di laboratorium. Tapi saintis tidak bekerja untuk lulus uji proficiency dan laboratorium tidak eksis untuk status akreditasi. Laboratorium dibentuk agar daerah punya data untuk menjawab persoalan lokal yang ada!

Sains terlalu mewah tapi tidak menggoda seperti aspek ekonomi dan sosial. Karena itu, sains selalu di daftar tunggu ketika kita merumuskan kebijakan. Sains kemudian rentan dipakai sebagai aspek yang meluluskan kepentingan, bukan yang memberi petunjuk atau pertimbangan. Tidak hanya pengambil kebijakan, praktisi sains dan akademisi Indonesia bisa saja terjebak disini.

Perlu kita ingat, laboratorium bertanggung jawab untuk menyediakan data. Begitu data keluar dari sana, pemanfaatan data tergantung pada sektor apa yang butuh data itu dan untuk apa. Di dalam laboratorium, sains mendapat ruang lapang untuk memastikan data bisa dipakai sebagai sumber informasi yang terpercaya dan handal (reliable). Di luar laboratorium, kita memanfaatkan data sesuai target manajemen pada bidang masing-masing. Untuk itu, kerja-kerja kolaboratif memainkan peranan penting disini.

Peluang-Peluang di Masa Krisis

Terkait kerja kolaboratif, apresiasi besar patut kita berikan kepada Forum Academia NTT (FAN) yang selama pandemi ini telah berhasil menginisiasi berbagai diskusi publik. Berkat diskusi ini, kita telah mengidentifikasi aset-aset sosial yang selama ini tercecer.

Bertahun-tahun kita hidup dengan keyakinan bahwa NTT adalah provinsi yang tertinggal, namun ruang diskusi yang digagas FAN telah membantu kita melihat kekayaan intelektual yang kita punya. Ini aset berharga untuk membangun NTT. Siapa sangka kita punya ahli biomolekuler, biostatistik, teknik mesin, dan para praktisi lokal di berbagai bidang ilmu. Alat steril masker medis dan bilik swab bahkan bisa diproduksi disini. Orang-orang itu telah berkontribusi ide dan membagi pengetahuan bermanfaat sepanjang masa krisis.

Jika kita sepakat sains perlu dilibatkan dalam decision-making, pooled-test adalah langkah inovatif yang patut kita dukung. Inisiatif ini menjanjikan penyediaan data masal yang murah di tengah kegalauan kita menyongsong new normal. Ketika tujuan ini disepakati, inisiatif direstui, sekelompok orang muda kemudian dilatih agar NTT punya data yang cukup untuk membuat keputusan yang tepat.

Sayangnya, kita masih saja tersenggal biaya mahal untuk operasional sebuah laboratorium biomolekuler. Disini, komitmen para pemimpin daerah diuji. Data bukan barang habis pakai. Nilai ekonomis data bergantung pada nilai manfaat data. Kita menggandakan nilai data lewat pemanfaatan data. Tapi intervensi anggaran bukan perkara mudah. Praktisi sains juga mesti waspada agar laboratorium tidak berakhir sebagai lahan tidur dan data laboratorium tidak menjadi harta karun yang menunggu pemburu.

Beberapa Catatan

Selanjutnya, sebagai praktisi sains yang juga gelisah sepanjang masa pandemi, izinkan saya memberi beberapa catatan. Pertama, peran penting sains dan laboratorium sebagai penyedia data terlegitimasi lewat pemanfaatan data. Siapapun yang mendukung peran laboratorium dalam penyediaan data, jangan sampai meninggalkan lembaga itu sebagai pejuang yang tertatih sendiri di tengah jalan. Kita tidak butuh laboratorium karena ada krisis. Kita butuh laboratorium yang eksis bahkan setelah masa krisis.

Jika satu pakar biomolekuler bisa membantu kita menggandakan jumlah pengujian dan mereduksi biaya operasional, bayangkan jika kita punya beberapa ahli dan beberapa laboratorium. Maka angka 4M untuk operasional laboratorium tidak semata porsi kecil dalam postur besar anggaran covid-19. Angka 4M bisa menjadi investasi jangka panjang yang memberi harapan untuk meningkatkan kepercayaan publik kepada pemerintah, peran-peran penting sains, dan jika bisa peluang kerja bagi lulusan sains yang banyak banting setir karena minimnya lembaga yang mengakomodir keahlian mereka.

Investasi ini juga berharga dalam membantu NTT mempersiapkan diri jika ada situasi berisiko lagi di masa depan. Anggaran besar tidak akan sia-sia jika kita punya analis, fasilitas laboratorium yang memadai, dan tahu memanfaatkan data. Jika begitu, kita akan terus menagih data laboratorium setelah pandemi ini selesai. Jika tidak, laboratorium selalu menjadi ruang berandai-andai; ‘bagaimana jika kita punya data?’

Jika satu laboratorium biomolekuler berhasil beroperasi, eksistensi sains di berbagai lembaga pemerintah ikut dipertegas. Pada titik ini, kita sudah melek, data perlu bagi decision-making. Data-data akan dirujuk jika kita sadar sains harus dilibatkan dalam decision-making atau kritik-kritik konstruktif.

Kedua, setiap ilmu dan keahlian punya batas cakupan. Harapan kita tidak bertumpuh pada orang, adopsi metode, atau alat canggih. Inovasi, manajemen, dan kebijakan akan efektif karena support system yang kita bangun untuk mewujudkan data bagi decision-making.

Dalam sistem itu, sains biasanya ranah yang kalem dan enggan membuat janji muluk. Tapi ruang bagi sains mungkin tidak terlapangkan jika kita tidak mengestimasi 30 ribu rupiah per sampel atau 1000 orang sekali tes. Angka itu masih berpeluang dikoreksi. Bisa saja jauh lebih murah dengan jumlah sampel jauh lebih banyak ketika laboratorium biomolekuler sudah mapan beroperasi. Bisa saja jauh lebih mahal dengan jumlah sampel jauh lebih sedikit jika kelembagaan laboratorium bersama support system-nya tidak tertata baik.

Angka itu powerful. Orang sains tidak melempar dadu dan berjudi. Semoga pilot project bisa menghasilkan angka-angka bagi kapasitas maksimum yang mampu diusahakan laboratorium biomolekuler. Angka-angka itu adalah wilayah kepercayaan diri yang bisa dipertanggungjawabkan. Harapan terbaik adalah 99% kepercayaan diri dan 1% ketidakpastian.

Ketiga, membangun laboratorium itu tidak terbatas konstruksi bangunan atau menyediakan ruang dan menempatkan orang atau peralatan disana.

Laboratorium tidak ditopang aspek teknis saja. Manajemen membantu banyak dalam kelembagaan laboratorium. Karena itu, patut pula kita apresiasi institusi-institusi yang bersedia meminjamkan alat mereka. Kita tidak boleh lupa, ketika kelembagaan laboratorium berjalan, kita tidak bisa sembarang mengeluarkan alat dari satu laboratorium. Laboratorium baru menanggung konsekuensi teknis karena pemindahan alat, laboratorium asal bertanggung jawab dalam inventarisasi alat sebagai bagian dari sistem manajemennya.

Inovasi kadang tidak muncul dari laboratorium-laboratorium yang punya alat bukan karena mereka tidak mau. Ada ketabahan luar biasa dari para praktisi sains disana bertahun-tahun lamanya hanya untuk membuat sebuah laboratorium tetap eksis sebagai lembaga penyedia data. Sekali lagi, laboratorium bernyawa karena komitmen bukan rupiah. Komitmen yang memungkinkan dana ada. Alat atau analis bisa saja nganggur karena minimnya situasi sekarat yang memaksa data ditagih. Di masa-masa tanpa rupiah, network antar laboratorium dan analis memainkan peran penting. Nanti akan sangat terasa ketika di tengah jalan alat-alat letih bekerja atau stok bahan mulai menipis.

Laboratorium biomolekuler yang menjalankan pooled-test tidak boleh menjadi sebuah laboratorium berumur pendek. Kelembagaan sudah dibangun ketika dengan cermat kita merencanakan penempatan orang dan fasilitas, serta alur sampling, analisa, dan perekaman data. Manajemen mutu yang benar melindungi praktisi sains selama bekerja sebab ketika data tidak memihak siapapun, tudingan bersalah lebih sering ditujukan pada orang padahal kita harus mengidentifikasi tantangan dalam support system kita.

Maka, batas peran penting dipertegas. Data untuk decision-making tidak terfokus pada laboratorium dan sains saja. Pemerintah perlu berinvestasi sepenuh hati sampai pemanfaatan data. Kita tidak boleh membangun laboratorium untuk membuatnya timpang di tengah jalan!

Keempat, kita mesti mengerti sains tidak melulu mengeksplorasi kepastian. Dalam situasi berisiko, sains lebih dituntut untuk mengeksplorasi ketidakpastian. Dari situ strategi-strategi memerangi risiko ditetapkan. Analis, alat, dan adopsi metode bakal butuh waktu untuk saling mengakrabkan diri. Analis perlu awas pada berbagai gangguan analisa di luar ekspektasi. Dan semoga masyarakat paham ada potensi data membantah estimasi dan tidak menguntungkan siapapun.

Saintis perlu lebih ragu-ragu daripada pemerintah dan masyarakat. Ketidakpastian perlu diidentifikasi dan direduksi, sehingga data yang keluar dari laboratorium adalah data yang penuh percaya diri. Kelak kita butuh lebih banyak kerja kolaboratif sebab banyak swab harus diperiksa. Ada berbagai lapisan dalam sistem sosial yang perlu dirangkul ketika pooled-test diimplementasikan. Kelak orang-orang sains tidak bisa sepenuhnya mengendalikan proses dan interpretasi data.

Dalam birokrasi, pemimpin daerah akan bergantung pada orang-orang yang bakal membantu mereka memakai data untuk merumuskan kebijakan. Data berdaya di level masyarakat untuk mendesak kepatuhan pada protokol kesehatan atau memberi stigma bagi mereka yang terinfeksi. Pemanfaatan data akan kembali pada bagaimana kepentingan setiap individu terhubung pada sebuah data.

Terlepas dari semua itu, saya pribadi mendukung adanya data bagi decision-making. Saya berharap pooled-test bisa sukses dalam mewujudkan hal itu. Ini waktu yang tepat untuk memberi ruang bagi peran-peran sains yang jarang kita libatkan! (*)

 *) Alumni Master Lingkungan (Tailored Specialisation:Sains-Manajemen dan Kebijakan Lingkungan), The    University of Melbourne

Komentar

Berita lainnya OPINI

Populer

To Top