Meski Ada Demo Tolak Tambang, Gubernur VBL ke Lokasi Pabrik Semen di Matim | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Meski Ada Demo Tolak Tambang, Gubernur VBL ke Lokasi Pabrik Semen di Matim


HALAU. Aparat Polres Matim dan Manggarai saat menghalau para pendemo yang berusaha menghadang rombongan Gubernur dalam kunjungan kerjanya ke wilayah itu, kemarin (24/6). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Meski Ada Demo Tolak Tambang, Gubernur VBL ke Lokasi Pabrik Semen di Matim


RUTENG, TIMEXKUPANG.com-Kunjungan kerja Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) di Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Rabu (24/6) pagi, diwarnai aksi demo mahasiswa yang tergabung dalam aliansi PMKRI-GMNI Kabupaten Manggarai.

Dalam aksi yang berlangsung di pintu batas wilayah Kabupaten Manggarai dan Matim, tepatnya di dekat jembatan Gongger, para mahasiswa menolak rencana kehadiran tambang dan pabrik semen di Manggarai Timur (Matim). Tepatnya tambang batu gamping di Kampung Lengko Lolok dan lokasi pabrik semen di Luwuk, Desa Satar Punda, kecamatan Lamba Leda.

Aksi itu mendapat pengamanan dari sejumlah aparat dari Polres Manggarai dan Polres Matim. Dibantu juga pihak TNI. Aksi sempat memanas dan nyaris bentrok dengan aparat keamanan, ketika mobil rombongan gubernur beranjak pergi dari Reo menuju Pota, Kabupaten Matim.

Dimana para pendemo berusaha menghadang mobil rombongan gubernur. Mereka ingin bertemu dan menyampaikan secara langsung tuntutan aksi terkait penolakan tambang dan pabrik semen. Adu mulut dan saling dorong pun terjadi. Namun tetap bisa dikendalikan.

Para pendemo pun dilarang oleh aparat polisi, untuk tidak boleh lanjut melakukan aksi di wilayah Matim. Sejumlah poster dan spanduk aksi, bertulis tolak tambang batu gamping. Juga tulis mendesak Gubernur Viktor untuk membatalkan izin tambang batu gamping dan pabrik semen di dua kampung Desa Satar Punda.

Adapun pernyataan sikap yang disampaikan dalam aksi demo itu, yakni mendukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT untuk melanjutkan moratorium tambang. Juga mendukung Pemprov NTT untuk menjadikan lahan pertanian, peternakan dan pariwisata sebagai leading sektor pembangunan. Selain itu mendukung penetapan Pulau Flores, sebagai wilayah ekoregional.

Tuntutan lain para mahasiswa, yakni menolak kehadiran pabrik semen di Matim, dan mendesak Pemprov NTT untuk tidak mengeluarkan izin pabrik semen dan batu gamping di kampung Lingko Lolok.

Gubernur VBL saat mendatangi kampung Lingko Lolok, lokasi tambang batu gambing untuk bahan baku pabrik semen, kemarin (24/6). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

Gubernur ke Lingko Lolok

Sementara itu, Gubernur Viktor Laiskodat bersama rombongan, sebelum ke Pota, tempat kunker di Matim, menyempatkan waktu sekira 30 menit mendatangi kampung Lingko Lolok, lokasi tambang batu gambing untuk bahan baku pabrik semen. Gubernur Laiskodat disambut oleh warga. Bahkan Gubernur sempat berbincang-bincang dengan warga Lingko Lolok.

“Tadi Bapak Gubernur, bertanya ke saya terkait jumlah pemilik lahan di Lingko Lolok. Saya jawab ada sebanyak 103 pemilik. Lalu BapaK Gubernur tanya lagi, berapa yang pro dan kontra. Saya juga jawab, hanya 2 KK saja tidak setuju,” ujar Klemens Salbin, warga Lingko Lolok, kepada wartawan, Rabu (24/6) siang.

Menurut Klemens, Gubernur Viktor Laiskodat juga sempat bertanya seputar kondisi atau situasi hidup warga setempat. Klemens dan bersama warga lain menjawab, bahwa kondisi tetap aman. Tidak terpengaruh dengan sikap pro dan kontra. Juga tidak terpengaruh dengan desakan dari orang luar. “Termasuk yang orang ribut di luar,” kata Klemens dalam dialognya bersama Gubernur. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top