4.909 Anak Malaka Alami Stunting, Bupati Stef Beber Kendala Ini | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

4.909 Anak Malaka Alami Stunting, Bupati Stef Beber Kendala Ini


SAMBUTAN. Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran menyampaikan sambutan saat pembukaan Rembuk Stunting di aula kantor Bupati Malaka, kemarin (25/6). (FOTO: Pisto Bere/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

4.909 Anak Malaka Alami Stunting, Bupati Stef Beber Kendala Ini


BETUN, TIMEXKUPANG.com-Kabupaten Malaka merupakan salah satu wilayah di NTT yang mencatatkan peningkatan persentasi angka stunting (anak kurang gizi kronis), dari sebelumnya 25 persen ke 30 persen. Jumlah anak yang mengalami stunting di Malaka saat ini mencapai 4.909 orang. Dengan jumlah ini, Malaka berada di urutan 11 penderita stunting di NTT.

“Total anak stunting di Malaka mencapai 4.909 anak. Ini merupakan hasil pengukuran penimbangan berat badan anak pada Februari 2020 lalu,” ungkap Ketua Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ir. Sarah Lery Mboeik, usai Rembuk Stunting di aula kantor Bupati Malaka di Betun, kemarin (25/6).

Menurut Lery Mboeik, berdasarkan catatan dan pemantauan tim Pokja Stunting, meningkatnya angka persentasi stunting di Malaka karena sejumlah faktor. Salah satunya terkait pola asuh anak.

Lery menjelaskan, persoalan stunting itu ada dua permasalahan. Yakni persoalan gizi, dan intervensi sensitif seperti ketersediaan air bersih, pola asuh, dan sanitasi yang buruk. Hasil pemantauan, 30 persen persoalan stunting di Malaka akibat kekurangan gizi, sedangkan intervensi sensitif lainnya mencapai 70 persen.

Lery menyebutkan, salah satu peran penting dalam mengatasi stunting, khususnya dari internal adalah peran suami, sedangkan masalah eksternal adalah terkait pola edukasi. Kaum perempuan yang sudah mencapai umur menikah harus diberi tablet penambah darah, apalagi ketika ibu itu hamil harus mendapat asupan gizi yang baik. Keadaan lingkungan dimana ia berada juga harus mendapat perhatian serius sehingga tidak berdampak pada proses tumbuh kembang anak.

“Anak itu harus diberi asupan gizi ekslusif selama 6 bulan, bukan beri susu kerbau. Imunisasi juga harus lengkap. Ada kasus anak-anak mahasiswi juga hamil kemudian melahirkan titip di nenek, yang diasuh oleh nenek tentu tidak memenuhi pola asuh yang baik,” tegasnya.

Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH saat membuka kegiatan Rembuk Stunting kemarin mengakui kalau angka stunting masih tinggi di daerah itu.

Menurut Bupati dr. Stef, meningkatkan angka stunting di wilayah yang ia pimpin karena sejumlah faktor atau kendala. Misalnya anak tidak bisa mendapatkan asupan air susu ibu (ASI) dengan baik langsung dari ibunya, selain itu bantuan dari pemerintah tidak maksimal karena persoalan administrasi kependudukan.

Anak yang dilahirkan itu dari orang tua yang belum mendapat pengakuan secara agama dan pemerintah karena belum diberkati. Akibatnya kartu keluarganya tidak ada, bapak dan ibu atau salah satunya tidak ada karena merantau keluar. Ada anak yang bapaknya tidak bertanggung jawab, ada yang orang tuanya masih kuliah, dan kendala lainnya. “Kalau soal makanan tentu tidak masalah karena Malaka tidak kekurangan makanan. Ini daerah subur,” ungkap dr. Stef.

Untuk itu Bupati Malaka meminta agar kesulitan-kesulitan seperti ini bisa diurus dengan baik. Pemerintah minta perhatian Pastor dan Pendeta agar bisa bersama mencari solusi penyelesaian masalah ini karena pemerintah sudah membuat program, namun terkendala di administrasi kependudukan. “Tapi bukan berarti kita tidak berusaha. Kita tetap berusaha, sehingga mereka memenuhi persyaratan sebagai warga Malaka,” kata dr. Stef.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Malaka, Agustinus Nahak kepada Timor Express menjelaskan, untuk mengatasi meningkatnya angka stunting di Malaka, setiap desa sudah menganggarkan dana.

Menurut Agustinus, untuk penanganan stunting di Malaka, leadernya ada di Dinas Kesehatan. Meski demikian, kata Agustinus, pihaknya bersama Dinkes Malaka dan beberapa dinas terkait saling bersinergi untuk mencegah stunting di daerah itu.

Untuk diketahui, BPRS NTT menggelar Rembuk Stunting di Malaka, di aula Kantor Bupati Malaka, selama dua hari, yakni Kamis (25/6) dan Jumat (26/6). (mg30)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top