Ekowisata Jadi Alternatif Berdayakan Masyarakat, Kadis LHK: NTT Simpan Banyak Potensi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Ekowisata Jadi Alternatif Berdayakan Masyarakat, Kadis LHK: NTT Simpan Banyak Potensi


EKOWISATA OELUAN-TTU. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (duduk) didampingi Bupati TTU, Ray Fernandes (kanan) dan Kadis LHK NTT, Ferdy Kapitan (kedua kanan) meninjau lokasi ekowisata Oeluan, Kabupaten TTU, pada Februari 2020 lalu. (FOTO: Istimewa)

KABAR FLOBAMORATA

Ekowisata Jadi Alternatif Berdayakan Masyarakat, Kadis LHK: NTT Simpan Banyak Potensi


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Wilayah NTT menyimpan banyak potensi yang bisa dikembangkan menjadi tempat wisata. Kawasan hutan misalnya, bisa dikembangkan menjadi ekowisata. Manfaatnya banyak. Merawat lingkungan, mulai dari hutan hingga air. Bahkan, bisa memberdayakan ekonomi masyarakat.

Demikian dijelaskan Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTT, Ferdy Kapitan kepada Timor Express, Senin (29/6).

Ferdy menyebutkan, saat ini sudah ada beberapa tempat yang dikembangkan menjadi ekowisata. Misalnya di Kabupaten Ende, Rote Ndao, Manggarai Barat, Sikka, Sumba Barat Daya, dan TTU.

Menurut Ferdy, ekowisata melibatkan masyarakat mulai dari pembangunan hingga pengelolaan. Sehingga mayarakat benar-benar merasa memiliki tempat tersebut. Tidak hanya hutan, tetapi sumber daya air pun dimanfaatkan tanpa mengalihkan fungsi sebelumnya.

Sayangnya, kata Ferdy, dana untuk mendukung program tersebut masih sangat kecil. Misalnya, usulan Dinas LHK sebesar Rp 1 miliar, namun yang disetujui hanya Rp 80 juta. “Anggarannya variatif. Tahun ini sangat kecil, sekira Rp 80 juta. Terlalu kecil. Tetapi kita bisa mengandalkan tenaga masyarakat. Misalnya di TTS itu ada tiga titik tetapi dananya hanya Rp 150 juta,” beber dia.

Menurut dia, proses usulan tersebut dimulai dari Dinas LHK yang melihat potensi ekowisata di setiap kabupaten. Dan kemudian diusulkan dengan memperhatikan berbagai aspek. Tahun 2019 misalnya, pihaknya membangun empat titik. Di Kabupaten TTU dengan dana Rp 118 juta, Rote Ndao Rp 500 juta, Ende sekira Rp 100 juta dan di Labuan Bajo juga sekira Rp 100 juta.

Besaran dana tersebut jauh berbeda dengan dana yang dikucurkan untuk Dinas Pariwisata. Dimana Dinas Pariwisata mengembangkan sejumlah destinasi wisata dengan membangun penginapan atau cottages senilai lebih dari Rp 1 miliar per titik.

BACA JUGA: Kunjungi Ekowisata Oeluan, Begini Pesan Gubernur NTT untuk Pemerintah dan Masyarakat TTU

Menurut Ferdy, pengembangan ekowisata sangat menguntungkan bagi masyarakat bawah. Pasalnya, masyarakat tidak perlu menyiapkan lahan, karena menggunakan lahan hutan milik negara. Apalagi proses pembangunannya dilakukan oleh masyarakat sendiri.

Untuk tahun ini, pihaknya masih menanti kepastian terkait dana Covid-19. Pasalnya, banyak anggaran yang harus dirasionalisasi dan dialihkan untuk penanganan pandemi tersebut.

“Misalnya di Kaki Gunung Egon Kabupaten Sikka. Sudah dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat. Namun anggarannya belum jelas, apakah dirasionalisasi atau tidak,” sambungnya.

Di kaki Gunung Egon menurut dia sangat potensial. Pasalnya ada sumber air panas yang menjadi daya tarik para pendaki. Dia katakan, ekowisata juga menjadi titik-titik kampanye atau sosialisasi cinta alam. Misalnya dengan menyiapkan anakan pohon. Sehingga pengunjung yang datang ke lokasi tersebut pada musim hujan, bisa menanam pohon untuk merawat alam.

“Yang paling penting, masyarakat harus merasa memiliki tempat itu. Karena sudah menjadi tempat mereka mencari nafkah,” tambahnya.

Ekowisata, tambah dia, membawa banyak dampak positif. Mulai dari kelestarian alam, lingkungan dan air. Juga menjadi sumber pemasukan daerah. Sementara masyarakat sebagai pengelola, juga menikmati hasilnya dengan menjual produk-produk lokal di sana.

“Menurut saya, ekowisata ini sangat membantu di saat pandemi ini. Sehingga kami berharap ada perhatian supaya bisa lebih banyak lagi yang kami bangun,” tutupnya. (cel)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top