RUU PKS Ditarik dari Prolegnas 2020, Usman Angap DPR Tak Sensitif | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

RUU PKS Ditarik dari Prolegnas 2020, Usman Angap DPR Tak Sensitif


Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. (FOTO: JawaPos.com/Istimewa)

POLITIK

RUU PKS Ditarik dari Prolegnas 2020, Usman Angap DPR Tak Sensitif


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Amnesty Internasional Indonesia menyesalkan dikeluarkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020. Pasalnya, perlindungan hukum bagi para penyintas kekerasan seksual sangat mendesak.

“Banyak korban masih enggan bersuara atau merasa terintimidasi karena relasi sosial atau relasi kekuasaan dengan si pelaku. Sebab, RUU PKS memberi jaminan kepada mereka untuk tidak ragu lagi menyeret pelaku, siapapun dia, bisa diseret ke jalur hukum,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/7).

Usman juga menuturkan, dikeluarkannya RUU PKS dari Prolegnas menunjukkan wakil rakyat tidak sensitif terhadap isu perlindungan korban kekerasan. Seharusnya mengedepankan hal yang dinilai sensitif di tengah masyarakat.

“Pastinya mereka (DPR) telah gagal memahami kebutuhan rakyat,” ujar Usman yang juga mantan ketua Kontras dan Imparsial itu.

Sebelumnya, Badan Legislasi (Baleg) DPR dalam rapat evaluasi Prolegnas Prioritas 2020 dengan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada Kamis (2/7) menarik 16 RUU dari Prolegnas Prioritas 2020. Salah satu RUU yang ditarik dari Prolegnas Prioritas, yakni RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).

Usulan penarikan ini diajukan oleh Komisi VIII DPR RI. Wakil Ketua Komisi VIII Marwan Dasopang mengatakan, pembahasan RUU PKS saat ini sulit dilakukan.

Marwan beralasan, sejak periode lalu pembahasan RUU PKS masih terbentur mengenai judul dan definisi kekerasan seksual. Selain itu, aturan mengenai pemidanaan masih menjadi perdebatan. (jpc/jpg)

Komentar

Berita lainnya POLITIK

To Top