Percepatan Digitalisasi Televisi Nasional, Ini Langkah Kemenkominfo | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Percepatan Digitalisasi Televisi Nasional, Ini Langkah Kemenkominfo


Menkominfo, Johnny G. Plate saat jumpa pers menjelaskan terkait percepatan digitalisasi televisi nasional di kantor Menkominfo, Jakarta, Senin (6/7) sore. (FOTO: JawaPos.com/Istimewa)

OTO & TEKNO

Percepatan Digitalisasi Televisi Nasional, Ini Langkah Kemenkominfo


JAKARTA, TIMEXKUPANG.com-Pemerintah kini mempercepat digitalisasi sektor penyiaran, khususnya digitalisasi televisi Indonesia di sistem terestrial. Upaya tersebut diklaim sejalan dengan prioritas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dalam pecerpatan digitalisasi nasional.

Dalam jumpa pers Senin (6/7) sore, Menkominfo Johnny G. Plate menyampaikan, dalam beberapa tahun ke depan, Kemenkominfo sedang mengupayakan percepatan digitalisasi nasional dengan sangat serius. Adapun beberapa hal yang dilakukan pertama melalui penyelesaian pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan informatika yang merata dan berkualitas.

“Pengembangan SDM atau talenta digital dengan jumlah dan kualitas yang memadai serta berkelanjutan dan penuntasan legislasi primer bidang telekomunikasi, informatika dan pelindungan data juga perlu. Kemudian diperlukan juga penguatan kolaborasi internasional di bidang ekonomi digital dan arus data lintas negara,” paparnya.

Menurut Politisi Partai Nasdem itu, salah satu kebijakan yang paling mendesak dari percepatan digitalisasi nasional tersebut adalah digitalisasi sektor penyiaran, terutama kebijakan digitalisasi televisi. Percepatan digitalisasi televisi dikatakan merupakan agenda besar pembangunan nasional yang harus segera diwujudkan bersama-sama dengan dukungan kuat dari semua pihak.

Alasan penting percepatan digitalisasi televisi sebagai bagian dari prioritas digitalisasi nasional, hal tersebut menurutnya karena percepatan digitalisasi televisi adalah sebuah keharusan dengan beberapa alasan.

Alasan pertama, dari sisi perkembangan digitalisasi penyiaran global, Indonesia dikatakan jauh tertinggal dalam proses digitalisasi televisi sistem terestrial.

Johnny menjelaskan, negara-negara anggota ITU sejak World Radiocommunication Conferences (WRC) di tahun 2007 telah menyepakati penataan pita spektrum frekuensi radio untuk layanan televisi terestrial.

Sejak itu, katanya, negara-negara di Kawasan Eropa, Afrika, Asia Tengah dan Timur Tengah membuat keputusan bersama untuk menuntaskan Analog Switch Off (ASO) di tahun 2015. Bahkan, beberapa negara di Eropa sudah selesai dengan proses digitalisasi televisi lebih dari satu dekade lalu. Sedangkan negara-negara di Asia seperti Jepang telah menyelesaikan proses digitalisasinya pada 2011 dan Korea Selatan pada 2012.

Thailand dan Vietnam pun sudah memulai penyelesaian ASO secara bertahap pada 2020 ini. Malaysia dan Singapura sudah selesai dengan ASO secara nasional pada 2019.

“Sekarang, masyarakat di sana telah dapat menikmati siaran televisi dengan teknologi digital, dengan kualitas gambar dan suara yang sangat baik, serta menikmati pilihan program siaran yang lebih beragam,” ungkapnya.

Selanjutnya, sambung Johnny, gagasan percepatan digitalisasi ini disebut searah dengan kebijakan nasional dalam percepatan transformasi digital di banyak sektor. Ketiga, dari sisi kepentingan publik, proses digitalisasi televisi yang dikenal sebagai ASO ini harus ditempuh dan disegerakan, demi menghasilkan kualitas penyiaran yang lebih efisien dan optimal untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia.

Menteri Kominfo menyatakan, selama ini masyarakat dirugikan akibat kualitas tayangan tidak sesuai dengan perangkat teknologi mutakhir.

“Masyarakat kita selama ini dirugikan karena kualitas penayangan yang tidak sesuai dengan perangkat teknologi yang sudah mutakhir yang mereka miliki. Merujuk pada data dari Nielsen, 69 persen masyarakat Indonesia masih menonton televisi lewat sistem terestrial (free-to-air) dengan teknologi analog. Ini adalah sebuah ironi, di mana masyarakat sudah memiliki Smart TV atau perangkat televisi pintar namun belum dapat memanfaatkan siaran digital,” paparnya.

Keempat, dari sisi kepentingan industri penyiaran, disrupsi teknologi menuntut para pelaku industri di sektor ini untuk menyesuaikan pola bisnisnya agar sejalan dengan perkembangan era digital. Hal ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para pelaku bisnis dan investor bidang penyiaran.

Digitalisasi televisi menurutnya secara signifikan akan meningkatkan efisiensi dalam industri penyiaran di tanah air. “Para pengusaha dan investor di sektor industri penyiaran perlu segera membangun sinergi untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan ASO menuju televisi digital Indonesia,” harap Johnny.

Kemudian untuk aspek lainnya, dari sisi nilai tambah dalam penataan frekuensi, dengan percepatan digitalisasi, frekuensi dapat ditata ulang dan dimanfaatkan untuk penyediaan layanan lain terutama untuk layanan publik dan layanan internet cepat. Negara-negara di dunia telah memanfaatkan hasil efisiensi spektrum frekuensi yang dihasilkan dari digitalisasi penyiaran televisi untuk meningkatkan akses internet kecepatan tinggi.

“Pita frekuensi 700 MHz yang adalah rentang yang digunakan untuk siaran televisi terestrial di seluruh dunia, merupakan pita frekuensi “emas” karena ideal untuk layanan akses internet broadband,” jelas Johnny.

Dengan migrasi teknologi digital, maka dari 328 MHz yang saat ini seluruhnya digunakan untuk penyiaran televisi teknologi analog, akan dihasilkan penggunaan efisiensi spektrum yang disebut dengan Digital Dividen sebesar 112 MHz (total bandwidth 90 MHz yang dapat digunakan) untuk menambah kapasitas, jangkauan dan kualitas internet broadband di tanah air. (jpc/jpg)

Komentar

Berita lainnya OTO & TEKNO

Populer

To Top