Felix Nesi Wajib Lapor, Keuskupan Atambua Tempuh Jalur Damai | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Felix Nesi Wajib Lapor, Keuskupan Atambua Tempuh Jalur Damai


Felix Nesi. (FOTO: JawaPos)

PERISTIWA/CRIME

Felix Nesi Wajib Lapor, Keuskupan Atambua Tempuh Jalur Damai


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Felix Nesi, 31, warga Kelurahan Bitauni, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang tersandung kasus dugaan tindak pidana pengrusakan kaca jendela dan kursi milik Pastoran di SMK Bitauni kini menjalani hukuman wajib lapor di Polsek Insana.

Proses hukum yang sementara berlangsung di Polsek Insana tersebut rupanya akan dihentikan. Pasalnya pihak pelapor, yakni Keuskupan Atambua ingin menyelesaikan persoalan itu secara kekeluargaan atau melalui jalur damai.

Kapolsek Insana, Iptu Ketut Suta ketika dikonfirmasi Timor Express melalui telepon seluler, Rabu (8/7) mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan terlapor.

Sesuai keterangan dari para saksi membenarkan adanya pengrusakan terhadap kaca jendela dan kursi milik Pastoran SMK Bitauni yang dilakukan oleh terlapor dengan menggunakan helm miliknya yang mengakibatkan kaca jendela pecah dan kursi plastik rusak/patah.

Sejumlah saksi juga menerangkan bahwa, alasan terlapor melakukan pengrusakan karena marah dan emosi dengan seorang imam yang diduga memiliki persoalan asmara dengan soerang perempuan saat bertugas di Paroki Tukunenu, Kabupaten Belu.

BACA JUGA: Soal Jendela yang Dirusaki Felix Nesi, Begini Kata Romo Magnis dan Romo Benny

“Saksi mengakui bahwa Felix Nesi melakukan pengrusakan kaca jendela dan kursi milik pastoran karena emosi dan kecewa dengan seorang imam yang terlibat asmara saat bertugas di Paroki Tukuneno dan dipindahkan ke SMK Bitauni sehingga terlapor merasa bahwa yang bersangkutan tidak pantas untuk menjadi pendidik di SMK Bitauni,” tutur Ketut.

Ketut menambahkan, dari keterangan para saksi, sebelum terlapor melakukan pengrusakan, pihaknya sempat melakukan koordinasi dengan Kepala SMK Katolik Bitauni agar yang bersangkutan segera dipindahkan.

Sayangnya, permintaan Felix Nesi tidak bisa ditindaklanjuti Kepala Sekolah karena wewenang memindahkan seorang imam ada pada Uskup. Akibatnya, Felix Nesi marah dan melakukan pengrusakan.

“Ada permintaan dari Kepala SMK Bitauni agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan namum kita harus terus memantau persoalan ini agar cepat di selesaikan sehingga tidak berkembang dan memicu hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Terpisah, perwakilan pihak SMK Bitauni, Agustinus Natun mengatakan, proses penyelesaian kasus dugaan pengrusakan kaca jendela dan kursi milik Pastoran SMK Bitauni telah diambil alih pihak Keuskupan Atambua.

Menurut Agustinus, kasus tersebut rencananya akan diselesaikan secara kekeluargaan sehingga tidak menimbulkan konflik baru antara pelaku dan umat Kristiani. Pasalnya, barang yang dirusakan oleh pelaku itu milik umat. (mg26)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

To Top