Warga Goloworok Laporkan Mantan Kades, Kajari Manggarai: Kita akan Pelajari | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Warga Goloworok Laporkan Mantan Kades, Kajari Manggarai: Kita akan Pelajari


LAPORKAN MANTAN KADES. Belasan warga Desa Goloworok berpose di depan Kantor Kejari Manggarai usai melapor dugaan korupsi yang dilakukan mantan Kades Goloworok, Kamis (9/7). (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Warga Goloworok Laporkan Mantan Kades, Kajari Manggarai: Kita akan Pelajari


Dugaan Korupsi Pengelolaan Dana Desa

RUTENG, TIMEXKUPANG.com-Masyarakat Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Kamis (9/7) mendatangi Kejaksaan Negeri (Kejari) Manggarai. Mereka melaporkan dugaan korupsi sebesar Rp 1 miliar lebih yang dilakukan mantan Kades Goloworok, Fransiskus D. Syukur.

Terpantau, sekira pukul 09.30 wita, belasan warga Desa Goloworok, tiba di kantor Kejari Manggarai di Ruteng, Kelurahan Bangka Nekang, Kecamatan Langke Rembong. Naskah laporan tertulis mereka serahkan ke Pos Pelayanan Terpadu Kejari Manggarai. Dalam kesempatan itu, warga juga melaporkan Pjs. Desa Goloworok, Sabinus Danggur.

“Dugaan korupsi yang dilakukan oleh mantan Kades Fransiskus, itu selama periode kepemimpinnya 5 tahun, yakni sejak tahun 2014-2019,” ungkap perwakilan warga yang juga Kepala Kampung Wela, Desa Goloworok, Philipus Jeharut, kepada wartawan usai menyerahkan laporan di Kejari Ruteng, kemarin (9/7).

Menurut Philipus, dugaan korupsi sebesar Rp 1 miliar lebih yang dilaporkan itu, merupakan hitungan kasar dari warga. Terkait kepastian besar total anggaran yang dikorupsi, tentu itu nanti pihak penegak hukum dari Kejari Ruteng yang akan menyelidikinya.

Dalam laporan itu, warga melampirkan sejumlah bukti dan foto-foto fisik proyek yang dikerjakan dimasa kepemimpinan mantan Kades Fransiskus.

Philipus menambahkan bahwa Pjs Kades, Sabinus Danggur turut diloprkan warga lantaran terdapat ketidakjelasan penggunaan dana penanganan Covid-19 yang bersumber dari dana desa tahun anggaran 2020. Pjs Kades, lanjut Philipus, juga diduga ikut melindungi mantan Kades dalam proyek TPT di halaman rumah adat Kampung Wela.

Menurut Philipus, semua dugaan korupsi itu muncul karena banyak proyek yang dilaporkan dalam laporan keuangan akhir tahun, tetapi faktanya tidak sesuai dengan fisik di lapangan. Bahkan ada proyek yang tidak ada pembangunan fisiknya.

Berbagai kegiatan administrasi perkantoran juga fisiknya tidak tampak. Sementara pada laporan penggunaan ada item-item barang yang dibeli. Sehingga disini warga mencurigai ada manipulasi laporan keuangan tiap akhir tahun yang dilakukan oleh Mantan Kades Fransisikus. Penggunaan dana desa juga tidak transparan.

“Setiap mengerjakan proyek dana desa, mantan kades Fransiskus tidak pernah membuat papan pengumuman mengenai berapa nilai proyek. Berapa volume proyek dan siapa yang mengerjakan. Kami masyarakat juga tidak pernah tahu mengenai RAB proyek yang dikerjakan,” beber Philipus.

Anehnya, kata Philipus, pembangunan tahun 2020 saat ini, masih dikelola dan di bawah pengawasan mantan Kades Fransiskus. Padahal mantan kades ini sudah berakhir masa jabatannya pada Oktober 2019 lalu. Dalilnya karena proyek yang ada masih masuk dalam tahun anggaran 2019.

“Kami merasa janggal, pengerjaan proyek anggaran 2019 ini, baru dilaksanakan tanggal 6 Januari 2020. Yang lebih menyedihkan lagi, proyeknya mangkrak. Padahal anggarannya ada dan sudah lewat. Ini kan sudah terang-benderang ada manipulasi dan korupsi,” tegas Philipus yang menyebut belasan warga yang datang ke Kejari Ruteng, merupakan perwakilan dari 92 warga Desa Goloworok yang ikut tanda tangan dalam naskah laporan dugaann korupsi ke Kejari.

Warga, demikian Philipus, memohon aparat penegak hukum Kejari Manggarai untuk serius menangani persoalan yang dilaporkan itu.

Masih menurut Philipus, laporan dugaan korupsi oleh mantan Kades itu juga ditembuskan ke Presiden RI Joko Widodo, Wakil Presiden, Ma’ruf Amin, Menteri Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Desa dan Percepatan Daerah Tertinggal, Jaksa Agung, dan Kepala Kejaksaan Tinggi NTT di Kupang. “Hal ini kami lakukan agar presiden dan para menteri tahu bagaimana pejabat paling bawah di republik ini melakukan penyelewengan melalui dana desa,” pungkas Philipus.

Kepala Kejari Manggarai, Yoni P. Artanto, SH, yang dihubungi TIMEXKUPANG.com per telepon mengatakan, laporan dugaan korupsi oleh warga Desa Goloworok sudah diterima pihak Kejari Ruteng. Tentu pihaknya tidak langsung memeriksa terlapor. Tentu laporan itu akan dipelajari dulu lalu melakukan pengecekan lapangan.

“Saya sedang ikut rapat di luar daerah. Soal laporan dari warga itu, kita akan pelajari. Kami dari Kejaksaan dalam menangani laporan seperti ini, tetap kedepankan asas praduga tak bersalah,” ujar Kejari. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top