Kisah Warkop Lagaligo: Dibangun di Lokasi WPS Mangkal, Tempat Edukasi HIV/AIDS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kisah Warkop Lagaligo: Dibangun di Lokasi WPS Mangkal, Tempat Edukasi HIV/AIDS


Yuyun Darti Beatel, Pemilik Warkop Lagaligo. (FOTO: Karel Pandu/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Kisah Warkop Lagaligo: Dibangun di Lokasi WPS Mangkal, Tempat Edukasi HIV/AIDS


MAUMERE, TIMEXKUPANG.com-Jalan Wairklau, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka yang dahulunya merupakan tempat mangkal para wanita pekerja seks (WPS), kini berubah menjadi tempat nongrkong yang punya nilai edukasi.

Bagaimana tidak, lokasi yang dulunya menjadi incaran kaum laki-laki penikmat seks kini berubah menjadi Warung Kopi alias Warkop yang diberi nama Lagaligo.

Warkop ini tak sekada tempat nongkrong untuk menghabiskan segelas kopi atau lebih, namun telah menjadi tempat berkumpulnya anak-anak remaja untuk mendapatkan edukasi gratis tentang bahaya HIV/AIDS.

Warkop Lagaligo yang dikelola Yuyun Darti Beatel ini, selain menyediakan minuman kopi juga menyajikan makan dan minum khas Sulawesi.

Yuyun yang ditemui Timor Express, Jumat (3/7) lalu, mengaku tak mudah mengubah image lokasi ini menjadi sebuah tempat atau wadah, tidak sekadar datang dan duduk minum kopi, namun lebih dari itu menjadi tempat yang bernilai edukasi karena kalangan remaja bisa mendapatkan nilai penting dari apa itu bahaya HIV/AIDS.

Yuyun yang berbekal pengalaman ketika menjadi fasilitator Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, memanfaatkan warung kopinya tidak sekadar untuk mengejar profit bisnis, namun di balik itu ikut berperan membekali generasi muda Sikka dengan pengetahuan dan pemahaman tentang perlindungan diri dari penyakit HIV/AIDS.

“Dengan usaha warkop ini, saya juga ingin membagikan pengetahuan dan pengalaman saya selama menjadi fasilitator tentang bahaya HIV/AIDS bagi anak–anak remaja dan warga masyarakat Kabupaten Sikka pada umumnya. Caranya yakni disaat pengunjung tengah menikmati kopi, bahkan makan dan minum, saya menyampaikan pentingnya perlindungan diri dari HIV/AIDS,” ungkap Yuyun.

Menurut Yuyun, metode yang dia gunakan dalam mencerahkan generasi muda Sikka di warkopnya bermacam-macam. “Terhadap anak remaja saya selalu menyampaikan untuk selalu menghindari pergaulan bebas, sementara untuk masyarakat umum, saya mengajak untuk selalu setia terhadap pasangannya,” jelas Yuyun.

Dalam menarik minat para pengunjung, Yuyun menyediakan berbagai menu makanan dengan tarif yang murah namun meriah. Bahkan pengunjung yang hanya datang menikmati secangkir kopi, Yuyun menyajikan bacaan-bacaan dari berbagai sumber buku, termasuk buku-buku tentang cara penanggulangan HIV/AIDS.

Yuyun mengaku, usaha yang dilakukannya itu menyimpan misi khusus yang akan dia lakukan untuk masyarakat Sikka. Salah satunya yakni menyelamatkan generasi muda dari bahaya HIV/AIDS.

Hal itu dilakukannya lantaran, banyaknya gererasi muda khususnya anak-anak remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas, dan rata-rata didominasi anak-anak yang masih berada dalam bangku pendidikan tingkat SMP dan SMA. Para WPS yang masih beroperasi mencari lelaki penikmat seks yang masih sering mangkal tak jauh dari wakopnya juga sasaran edukasi oleh Yuyun.

“Selain anak–anak remaja, sasaran saya juga kepada para PSK yang masih tersisa dan para laki laki yang doyan jajan di luar rumah. Ketika mereka datang menikmati kopi atau makanan, disaat itulah saya menyampaikan berbagai hal dan cara bagaimana menghindari bahaya dari virus mematikan itu yang hingga kini belum ada obatnya itu,” ungkap Yuyun sambil tersenyum.

Yuyun mengatakan, sejak dibuka, Warkop Lagaligo tidak pernah sepi dari kunjungan anak remaja maupun warga masyarakat yang datang menikmati menu makanan yang disajikannya. Selain murah, Warkop Lagaligo ini juga dilengkapi dengan WIFI gratis, sehingga membuat pengunjung semakin betah dan berlama-lama di warkop tersebut.

Anak kelima dari tujuh bersaudara ini nekad berjuang membuka usahanya sendiri dengan satu tujuan, mengembangkan misinya memberantas HIV.AIDS di Sikka.

Warkop yang dinamai Lagaligo, kata Yuyun, hanyalah wadah untuk menarik anak-anak remaja, warga masyarakat, para WPS yang mau bertobat, dan menyadarkan laki-laki yang selalu mencari jajan di luar rumah. Berbagai sarana yang disiapkannya, selain taman bacaan, juga menyajikan alunan musik yang membuat pengunjung semakin betah.

Warkop Lagaligo, lanjut Yuyun, dibangun sejak tahun 2018 itu, menggunakan modal sendiri yang dikumpulkannya selama menjadi fasilitator HIV/AIDS di KPA Sikka.

Salah satu pengujung Warkop Lagaligo, Frengky Adrian, 43, warga Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, mengaku bahwa warkop itu tak sekadar menyajikan makanan-minuman yang murah meriah, tapi lebih dari itu memberi pencerahan tentang bahaya HIV/AIDS.

“Biasanya kalau ada kampanye di luar, saya selalu tidak pernah menggubris, apalagi melalui pembagian pamflet dan lainnya. Namun ketika menikmati kopi hangat di Warkop Lagaligo, pemilik Warkop datang dengan ramah lalu menyodorkan bacaan tentang HIV/AIDS, lalu mengajak kami sambil ngobrol seputar bahaya HIV, ini sesuatu yang luar biasa,” ungkap Frengky. (Kr5)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top