PLN Terangi Empat Desa di TTS | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

PLN Terangi Empat Desa di TTS


DISAMBUT. Para petinggi PT PLN Persero dan unsur forkopimda sementara disambut masyarakat dengan tutur adat Natoni saat berkunjung ke salah satu desa yang sudah dialiri listrik di Kecamatan Kokbaun, Kabupaten TTS belum lama ini. (IST)

Advetorial

PLN Terangi Empat Desa di TTS


Program Elektrifikasi Daerah 3T Terus Digalakkan

KUPANG, TIMEX- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero terus mengeketifkan program elektrifikasi di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) termasuk di wilayah NTT. Melalui PLN wilayah NTT, PT PLN Persero mengaliri listrik ke empat desa di Kecamatan Kokbaun, Kabupaten TTS.

Ketiga desa yang disasar PLN wilayah NTT untuk program elektrifikasi yakni Desa Niti, Desa Sapnala, Desa Koloto dan Desa Lotas. Program elektrifikasi ini disebut listrik desa dan sebanyak 900 kepala keluarga diempat desa ini bisa menikmati terang di malam hari.

“Kami terus berkomitmen untuk menghadirkan listrik hingga ke seluruh pelosok tanah air. Listrik untuk semua,” tutur General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Agustinus Jatmiko.

Untuk mengalirkan listrik ke keempat desa tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 14 kms (kilometer sirkit), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 21 kms, dan lima buah gardu dengan total kapasitas 250 kilo Volt Ampere (kVA).

Akses jalan yang berlumpur serta medan berat tak jadi halangan untuk menerangi keempat desa di Kecamatan Kokbaun, Kabupaten TTS. “Terkadang petugas kami harus berputar lewat jalur lintas selatan melewati Kabupaten Malaka. Namun, Hal tersebut tentu bukan menjadi hambatan tetapi menjadi tantangan dengan semangat energi optimisme menerangi nusantara,” ujar Agustinus.

Camat Kokbaun, Wilgo Nenometa juga berharap agar kehadiran listrik dapat membuat warga lebih produktif dan meningkatkan perekonomiannya. “Warga bisa lebih hemat karena sebelumnya warga mengunakan lampu pelita untuk penerangan di malam hari, dengan biaya setiap bulan sekitar Rp 100 ribu. Namun sejak listrik menyala, warga hanya membeli token Rp 50 ribu dan sampai sekarang belum beli lagi token. Selain itu untuk kegiatan ibadat gereja dengan membeli BBM di Betun Rp 200 ribu per bulan dan sekarang token Rp 200 ribu belum habis digunakan,” jelas Camat Kokbaun.

Sementara Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun berharap agar masyarakat ikut serta menjaga aset milik PLN agar listriknya tetap menyala. “Kalau ada pohon di bawah jaringan, harus sering dirabas agar tidak mengganggu aliran listrik. Kalau ada gangguan lapor ke PLN, jangan diperbaiki sendiri karena berbahaya,” kata Egusem.

Hingga saat ini, rasio desa berlistrik Kabupaten TTS telah mencapai 96,04 persen dan untuk desa berlistrik di Provinsi NTT telah mencapai 94,09 persen hingga Juni 2020. (*/mg33/gat)

Baca Selengkapnya
Rekomendasi untuk anda ...
Komentar

Berita lainnya Advetorial

Populer

To Top