Matim Punya 4 Desa Maju, Sekda: Tidak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Matim Punya 4 Desa Maju, Sekda: Tidak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal


Sekda Matim, Boni Hasudungan. (FOTO: FANSI RUNGGAT/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Matim Punya 4 Desa Maju, Sekda: Tidak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal


BORONG, TIMEXKUPANG.com-Kabupaten Manggarai Timur (Matim) boleh berbangga. Hasil penilaian Indeks Desa Membangun (IDM) yang dilakukan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes-PDTT), di kabupaten itu tidak ada lagi desa yang statusnya sangat tertinggal. Sebaliknya, wilayah dengan status desa maju terdapat empat desa.

“Tahun 2020 ini, tidak ada lagi desa di Matim yang statusnya sangat tertinggal. Ini berdasarkan hasil penilaian IDM Kementerian Desa-PDT. Jadi bukan karena penilaian dari Pemerintah Kabupaten Matim,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Matim, Boni Hasudungan kepada TIMEXKUPANG.com saat ditemui di kantor Bupati Matim di Lehong, Senin (13/7) siang.

Boni menyebutkan, pada tahun 2019 lalu, dari 159 Desa yang ada di Matim, masih ada tujuh desa yang berstatus desa sangat tertinggal. Kini, di tahun 2020, sudah tidak ada lagi desa dengan status sangat tertinggal.

Menurut Boni, jumlah desa sangat tertinggal di Matim dari tahun ke ke tahun, jumlahnya terus menyusut. Dan itu sangat signifikan. Misalnya pada tahun 2018, jumlah desa sangat tertinggal di Matim ada 58 desa. Pada tahun 2019, jumlahnya berkurang drastis dan hanya ada 7 desa sangat tertinggal. Tahun ini, desa yang tadi statusnya sangat tertinggal meningkat menjadi desa tertinggal.

“Status dari 7 desa yang sebelumnya sangat tertinggal itu, kini meningkat statusnya menjadi desa tertinggal. Bahkan ada satu desa, yakni Desa Mosi Ngaran, di Kecamatan Elar, statusnya naik dari desa sangat tertinggal menjadi desa berkembang,” beber Boni.

Boni menyebutkan, dari 21 kabupaten di Provinsi NTT, hanya ada empat kabupaten yang sudah tidak ada lagi desa dengan status sangat tertinggal. Empat kabupaten itu yakni Matim, Ngada, Flores Timur, dan Sumba Barat.

Boni menambahkan, selain peningkatan status dari desa sangat tertinggal menjadi desa tertinggal, di Matim ada juga desa yang meningkat statusnya dari desa tertinggal menjadi desa berkembang.

“Desa berkembang di Matim ini jumlahnya terus bertambah. Dari sebelumnya 19 desa di tahun 2018, naik menjadi 43 desa berkembang di tahun 2019. Sekarang di tahun 2020 ini, jumlah desa berkembang di Matim sudah 72 desa,” sebut Boni.

Begitu pula dengan desa maju, lanjut Boni, adalah bertambahnya desa dengan status maju, dimana pada 2018 hanya ada dua desa maju di Matim. Di 2019, bertambah satu menjadi tiga desa maju, dan kini di 2020 bertambah lagi menjadi empat desa maju.

“Satu desa yang statusnya dari desa berkembang menjadi desa maju, yakni Desa Golo Kantar. Dengan demikian, ada empat desa maju di Matim, yakni Desa Golo Lobos dan Bangka Pau di Kecamatan Poco Ranaka, Desa Nanga Labang dan Golo Kantar di Kecamatan Borong,” bebernya.

Pencapaian ini, demikian Boni, merupakan hasil kerja keras seluruh perangkat daerah, khususnya peran para camat dan para kepala desa. Strategi yang diterapkan, setelah mendapat penetapan status masing-masing desa, Pemkab Matim memaparkan secara detail hasil penilaian tersebut supaya bisa diketahui potret masing-masing desa itu.

Dikatakan, penilaian IDM itu dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Desa-PDTT Nomor 2 Tahun 2016. IDM merupakan indeks komposit yang dibangun dari tiga indeks, yakni indeks ketahanan sosial, indeks ketahanan ekonomi, dan indeks ketahanan ekologi/lingkungan.

Boni menjelaskan, perangkat indikator yang dikembangkan dalam IDM itu berdasarkan konsepsi bahwa untuk meraih status yang lebih baik, seperti menjadi desa maju, perlu kerangka kerja pembangunan berkelanjutan, dimana aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan bisa saling mengisi dan menjadi kekuatan. (Krf3)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top