Dana Covid-19 dan Seleksi Integritas Pemimpin | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dana Covid-19 dan Seleksi Integritas Pemimpin


Ireneus Omenu. (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Dana Covid-19 dan Seleksi Integritas Pemimpin


Oleh: Ireneus Omenu *)

Menghadapi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) atau lazim disebut virus korona, Pemerintah Indonesia meluncurkan beberapa skema bantuan bagi masyarakat terdampak dan sekaligus sebagai upaya pemulihan ekonomi Nasional. Alokasi anggaran Percepatan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional senilai 686,2 triliun.

Adapun  beberapa bantuan dari pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) yang semula diterima tiga bulan sekali menjadi setiap bulan, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Sembako sebagai tambahan dari BPNT, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Kementerian Sosial yang dieksekusi berdasarkan keputusan Bupati/Walikota, BLT Dana Desa, Kartu Prakerja, Bantuan Sosial dari Pemerintah Provinsi dan Bantuan Sosial dari Pemerintah Kabupaten/Kota.

Itikad baik pemerintah di satu sisi patut diapresiasi sebab dalam situasi darurat bencana, Negara hadir sebagai penyelamat rakyatnya. Akan tetapi di sisi lain muncul pertanyaan di benak kita: Sudahkah bantuan bagi masyarakat terdistribusi secara tepat tanpa penyelewengan?

Jejak dan Potensi Penyelewengan

Jawaban terhadap pertanyaan di atas sejenak menarik kita untuk mengonfirmasinya dengan fakta-fakta lapangan. Data dan bukti-bukti penyelewengan yang terdokumentasi tak serta merta mengkristal sebagai sebuah afirmasi dan konklusi mutlak bahwa semua penyaluran bantuan terindikasi penyelewengan. Tetapi kejadian-kejadian faktual secara sporadis menjadi sinyalemen bahwa terdapat penyelewengan dan  ada potensi besar penyalahgunaan dana Covid-19.

Pada beberapa kasus, dana BLT yang ditujukan membantu masyarakat terdampak virus korona dimanfaatkan oleh oknum aparat desa dengan mengganti nama penerima, memalsukan tanda tangan, dan menyunat dana bantuan tersebut.

Misalnya kasus di Desa Kotafoun, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Seperti dilansir TIMEXKUPANG.com pada 26 Mei 2020, tanda tangan penerima bantuan dipalsukan oleh kepala desa. Beruntung masyarakat sudah mendeteksinya sejak dini sehingga potensi penyelewengan dana BLT dapat dicegah. Kasus lain di Desa Soba, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, nama penerima BLT diganti dengan nama istri oknum aparat desa. Selain itu Dana Bantuan Lansia disunat oleh oknum aparat desa sebesar 700 ribu per Kepala Keluarga (KK) dengan tujuan membeli ember dan sabun (DianTimur.com, 09/06/2020).

Di Desa Banpres, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, kasus serupa juga terjadi. Oknum Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Kepala Dusun memungut Dana BLT sebesar 200 ribu per KK. Sebanyak 18 KK yang uangnya dipungut sehingga totalnya menjadi 3,6 juta (NesiaTimes.com, 5/06/2020).

Mencermati kasus penyelewengan dana Covid-19, tampak bahwa jejak pelaku yang terekam oleh media pada umumnya adalah oknum-oknum yang memiliki wewenang distribusi seperti aparat desa. Penyalahgunaan dapat juga dilakukan oleh siapa saja termasuk Pejabat Negara atau Pejabat Publik lain bila sistem dan mekanisme kontrol kurang memadai. Hal demikian menjadi sebuah alasan munculnya seruan akan pentingnya kualitas seorang pemimpin.

Makna Integritas

Istilah integritas sudah biasa digunakan oleh masyarakat. Kata ini berasal dari bahasa Latin integer,integrum yang berarti utuh, lengkap. Jadi integritas (bentuk nomina) berarti keutuhan, tidak pecah atau tidak terbagi. Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan integritas sebagai keutuhan; kebulatan; kejujuran.

Henry Cloud seorang penulis Amerika mengatakan bahwa integritas tidak akan terlepas dari upaya untuk menjadi orang yang utuh dan terpadu, yang bekerja dengan baik dan menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang telah dirancang sebelumnya.

Seorang pengusaha dan motivator Andreas Harefa mengartikan  integritas  sebagai kualitas yang terdiri atas tiga kunci dan bisa diamati pada seseorang, yakni menunjukkan kejujuran, memenuhi komitmen, dan mengerjakan sesuatu dengan konsisten. Menurut Ippho Santoso; pakar otak kanan, integritas sering diartikan sebagai perpadauan pikiran, perkataan dan perbuatan untuk melahirkan reputasi dan kepercayaan.

Makna integritas beragam namun pada dasarnya integritas secara universal tampak melalui kualitas seperti: jujur, bertindak benar, kata-kata dan tindakan seirama, konsisten, teguh pada prinsip, berkomitmen, tidak munafik dan berlaku adil.

Urgensi Integritas dalam diri Pemimpin

Pemimpin dengan segala kualitas diri akan tampak benderang di hadapan rakyatnya ketika berkuasa. Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa seseorang akan teruji wataknya ketika ia diberi kekuasaan. Ungkapan ini benar jika ditautkan dengan kualitas diri seorang pemimpin sebab eksplorasi terhadap kemampuan, sumber daya dan karakter sang pemimpin terjadi ketika sedang berkuasa sebagai sebuah mekanisme dalam upaya menjalankan perannya.

Bung Hatta, wakil Presiden pertama Indonesia pernah mengatakan bahwa kurang cakap dapat diperbaiki dengan belajar. Keterampilan dapat ditingkatkan melalui pengalaman tetapi tidak jujur sulit diperbaiki. Pernyataan ini dapat dimaknai sebagai warning akan pentingnya kejujuran sebagai bagian dari integritas. Bung Hatta sendiri menjadi role model leadership sebab semasa menjadi pemimpin beliau dikenal sebagai sosok berintegritas tinggi.

Begitu pentingnya integritas sehingga seorang investor ulung Amerika Serikat, Warren Buffet sendiri pernah mengatakan bahwa hal pertama dalam mempekerjakan seseorang adalah integritas. Buffet menempatkan segmen integritas sebagai yang pertama dalam menerima karyawan.

Senada dengan Buffet, Sucianto Trisedjati, Senior Recruitment Staff pada Orang Tua Group membagi pelamar kerja menjadi empat kategori. Pertama, Exellent; tipe kandidat ini memiliki skill yang unik dan attitude atau perilaku yang bagus. Kedua, Good; pelamar tidak memiliki kompentesi yang unik tapi wataknya baik.

Ketiga, Danger; calon karyawan memiliki keterampilan yang luar biasa tapi perangainya buruk. Keempat, Plain; kandidat tidak memiliki skill tapi attitudenya geleng-geleng. Selanjutnya ia menyimpulkan bahwa attitude, adalah nomor satu karena tidak bisa ditraining dan dicoaching melainkan terbentuk dari pengalaman hidup seseorang yang mengkristal dan susah diubah.

Mengacu pada pendapat beberapa orang di atas, dimensi integritas menjadi qonditio sine qua non bagi setiap individu terlebih seorang pemimpin. Integritas menjadi tolok ukur utama kualitas seorang pemimpin. Tanpanya seorang leader terjerembab ke dalam liang penyelewengan. Melaluinya pula reputasi sang pemimpin dapat dipertanggungjawabkan. Ketiadaan segmen ini kualitas seorang leader terdegradasi ke garis kurva minus.

Saat ini masyarakat dapat menilai integritas pemimpinnya dalam mengelola anggaran Covid-19 yang dipercayakan. Momentum tersebut menjadi semacam sebuah ujian integritas bagi para pemimpin. Meski bukan satu-satunya cara mengevaluasi integritas pemimpin, namun menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk mengamati dan menilai pemimpin di tengah penyaluran bantuan Covid-19.

Masyarakat menjadi Penilai dan dana bantuan menjadi materi ujinya. Apakah sang pemimpin lolos ujian fit and proper test integritas? Apakah sang pemimpin termasuk kategori excellent, good, danger atau plain dalam menyalurkan dana Covid-19? Mari kita lihat hari-hari ke depan. Kita berharap semua pemimpin mulai dari pusat sampai ke desa mengelola dan mendistribusikan dana Covid-19 secara benar dan jujur. (*)

*) Alumnus STFK Ledalero

Komentar

Berita lainnya OPINI

To Top