Pemilik Lahan Bendungan Temef Ancam Tutup Lokasi, Tuntut Bayar Ganti Rugi Lahan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemilik Lahan Bendungan Temef Ancam Tutup Lokasi, Tuntut Bayar Ganti Rugi Lahan


ANCAM TUTUP. Masyarakat Desa Konbaki mendatangi lokasi Bendungan Temef, untuk menutup aktifitas di sana karena belum ada pembayaran uang ganti rugi lahan. (FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Pemilik Lahan Bendungan Temef Ancam Tutup Lokasi, Tuntut Bayar Ganti Rugi Lahan


SOE, TIMEXKUPANG.com-Warga Desa Konbaki, Kecamatan Polen, Senin (27/7) turun ke lokasi pembangunan Bendungan Temef untuk menuntut pembayaran ganti rugi.

Pasalnya sejak tahun 2017 lalu pekerjaan proyek Bendungan Temef senilai Rp 1,3 triliun dimulai, hingga saat ini belum dilakukan pembayaran biaya ganti rugi pembebasan lahan. Untuk diketahui, lahan yang digunakan untuk pembangunan bendungan seluas 428,35 hektare. Biaya pembebasan lahannya mencapai Rp 312 miliar.

Lantaran tak kunjung ada penyelesaian, masyarakat turun ke lokasi dan mengancam akan menghentikan aktifitas pekerjaan di sana. “Lahan kami sudah diambil, dan sejak diambil sampai sekarang, kami tidak batanam lagi. Sudah begitu, sampai sekarang uang pembebasan lahan belum diberikan,” ucap Lukas Taifa salah satu pemilih lahan.

“Sekarang rumah kami di Dusun 3 Desa Konbaki masuk dalam area genangan air, sehingga ketika Bendungan Temef selesai dikerjakan, tentu kami harus pindah ke lokasi lain, dan kami akan membeli lahan baru. Hal itu tentu menjadi persoalan tersendiri, karena lahan kami belum dibayar uang ganti ruginya,” lanjut Lukas.

Luka mengatakan, hingga saat ini, setahu mereka pemerintah belum melakukan pengukuran luas lahan yang dimiliki masyarakat. “Sampai sekarang saja, kami belum tahu pemerintah ukur lahan kami yang masuk dalam genangan bendungan,” kata Lukas diamini Soleman Tasoin.

Aminadap Teflopo yang juga masyarakat Desa Konbaki mengatakan ia dan 11 orang lainnya datang ke lokasi Bendungan Temef, lantaran diajak oleh Kepala Dusun III, Gidion Tefnai karena hendak bertemu dengan Kapolsek, Babinsa, dan Camat. Namun ia tidak tahu apa tujuan pertemuannya. Hanya saja saat tiba di lokasi, Gidion Tefnai menutup jalan menggunakan tali gewang. “Kami datang ke lokasi ini karena Kepala Dusun bilang mau ketemu Pak Camat, Pak Kapolsek, dan Pak Danramil. Tapi kami tidak tahu tujuan pertemuannya,” ucap Aminadap.

Terpisah, Kepala Dinas PRKP TTS, Jek Benu ketika dikonfirmasi mengatakan, soal urusan uang ganti rugi merupakan tanggung jawab Balai Wilayah Sungai (BWS) NTT II. Namun informasi yang diperolehnya bahwa BWS NTT II telah melakukan pelelangan terhadap PPK pengadaan tanah, sehingga proses ganti rugi lahan masyarakat terus ditindaklanjuti. “Soal ganti rugi, itu urusannya Balai Sungai,” kata Jek.

Koordinator Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) PT. Nindya Karya, Eka Putra saat dijumpai wartawan di camp perusahaan itu mengatakan paket dua Bendungan Temef, meliputi pembabgunan galian pelimpah yang dikerjakan PT. Nindya Karya dan juga Nindya Dama Bina Nusa Lestari, telah mencapai Rp 60 persen.

“Pekerjaan bendungan ini kami dua perusahaan yakni PT. Waskita. Saya juga sudah bertemu dengan orang tua yang datang untuk tutup lokasi, hanya saya minta agar tidak tutup karena sekarang kami lagi melakukan pengecoran dan masyarakat tidak tutup jalan,” pungkas Eka. (yop)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

Populer

To Top