Kasus Penganiayaan Akibat Miras dan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Dominan di TTU | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Kasus Penganiayaan Akibat Miras dan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Dominan di TTU


Ketua PN Kefamenanu Kelas II, I Putu Suyoga, SH, MH. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Kasus Penganiayaan Akibat Miras dan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Dominan di TTU


Januari-Juni, PN Kefamenanu Kelas II Sudah Tangani 45 Perkara Pidana

KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Pengadilan Negeri Kefamenanu Kelas II sejak Januari hingga Juni sudah menangani sebanyak 45 perkara Pidana. Dari 45 perkara tersebut, 40 perkara sudah berkekuatan hukum tetap, sedangkan lima perkara lainnya dalam proses persidangan.

Dari total kasus yang ditangani PN Kefamenanu itu, didominasi oleh kasus penganiayaan akibat miras, disusul kasus penebangan kayu di kawasan hutan, dan kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

“Dari semua perkara pidana yang masuk, berdasarkan kategori, yang lebih dominan itu penganiayaan. Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur juga masih dominan dari tahun kemarin sampai sekarang,” ungkap Ketua PN Kefamenanu Kelas II, I Putu Suyoga, pada acara coffee morning bersama jurnalis di ruang media center pengadilan setempat, Selasa (28/7).

Suyoga mengaku, berdasarkan fakta-fakta persidangan, banyaknya jumlah perkara penganiayaan tersebut disebabkan karena minuman keras (miras) jenis sopi yang sering diminum para terdakwa.

Untuk itu, Suyoga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak boleh mengonsumsi miras beralkohol yang berlebihan, namun harus disesuaikan dengan takaran kesehatan.

“Jadi ketika mereka minum dan tidak terkontrol, maka terjadilah penganiayaan, bahkan penusukan, dan terkahir itu perkara potong tangan sampai putus. Kalaupun minum, hanya untuk kesehatan saja. Jangan sampai tidak terkontrol, sehingga efek dari miras itu bisa dihindari,” ujarnya.

Selain itu, kata Suyoga, perkara yang dominan dalam persidangan di PN Kefamenanu Kelas II adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri.

Padahal, pihaknya sudah optimal untuk memutuskan perkara perlindungan anak sesuai dengan kadar kesalahannya, namun rupanya para pelaku tidak pernah jera melakukan kekerasan seksual terhadap anak.

“Kami sangat prihatin sebenarnya, karena pelakunya itu adalah orang dekat dari korban. Ada kakek yang menghamili cucu, bapak kandung menghamili anak kandungnya, dan kemarin ada sopir yang mencabuli anak disabilitas sampai hamil,” ungkapnya.

Suyoga berharap seluruh masyarakat TTU dapat meningkatkan kembali iman di keluarga dengan mengamalkan agama yang dianut masing-masing keluarga, sehingga perkara kekerasan terhadap anak tidak terjadi lagi. (mg26)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top