Dipanggil untuk Memanggil | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dipanggil untuk Memanggil


Fr. Vian Nana, SDV. (FOTO: Dok. Pribadi)

OPINI

Dipanggil untuk Memanggil


Oleh: Fr. Vian Nana, SDV *)

Dipanggil untuk memanggil colled to call, chiamato per chiamare, merupakan prinsip hidup setiap Vokasionis. Kehidupan seutuhnya dipersembahkan untuk panggilan dan kekudusan secara universal. Setiap Vokasionis menyadari bahwa panggilan Tuhan telah terjadi secara cuma-cuma dalam dirinya, dan untuk itu ia pun bertanggungjawab untuk mewartakan dan meneruskan panggilan-Nya secara cuma-cuma pula kepada orang lain.

Tema yang diangkat oleh penulis berangkat dari dua momen penting yang secara bersamaan dirayakan pada tanggal 2 Agustus 2020: Pertama, peringatan kematian beato Justin Russolillo, pendiri Serikat Panggilan Ilahi, Society of Divine Vocations (SDV). Kedua, janji kekal dari kelima frater Vokasionis di Napoli, Italia. Kelima frater tersebut: Fr. Carlo Vincenti, SDV (Italia), Fr. Daniel Momanyi Onsarigo, SDV (Kenya), Fr. Elvianus Nana, SDV (Indonesia), Fr. Fedele Iannone, SDV (Italia) dan Fr. Mahenina Fabien Ramiandrisoa, SDV (Madagaskar).

Kedua momentum ini menegaskan kekekalan panggilan Tuhan. Ia memanggil dan terus memanggil. Ia telah memanggil, sedang memanggil dan akan memanggil. Allah bekerjasama dengan manusia untuk terus merealisasikan panggilan-Nya di dunia. Panggilan pada hakekatnya berasal dari Tuhan yang mendapat tanggapannya dari manusia. Ketika seseorang menjawabi panggilan Tuhan serentak menjadi kesaksian bagi orang lain untuk menyadari suara panggilan-Nya.

Paus Paulus XVI mengafermasi bahwa “setiap kehidupan adalah sebuah panggilan” (bdk. Populorum Progressio, 15). Ditegaskan lebih lanjut oleh Benediktus XVI “manusia diciptakan untuk mampu berdialog dengan Sang Pencipta”. Setiap orang dipanggil menurut cara-Nya tersendiri, seraya mengungkapkan relasi antara panggilan Tuhan dan tanggapan manusia. “Hidup itu sendiri adalah panggilan yang senantiasa tertuju kepada Tuhan” (bdk. Verbum Domini, 77).

Allah sebagai Protagonis Panggilan

Dalam Perjanjian Lama, panggilan diungkapkan dengan kata bahasa Ibrani qara, dan dalam bahasa Yunani dari kata keléo, yang berarti “memanggil”. Kedua istilah ini mengacu kepada panggilan Allah terhadap bangsa Israel. Allah menentukan bangsa Israel sebagai umat pilihan-Nya. Bangsa Israel dipilih dari antara banyak bangsa yang lebih kuat dan terkenal untuk membawa cahaya keselamatan-Nya kepada bangsa – bangsa lain. Beberapa tokoh bangsa Israel yang dipilih Allah sebagai penyambung karya keselamatan-Nya, misalnya: Abraham, Musa, Yesaya, Yeremia, Elia, Hosea dan masih banyak tokoh – tokoh yang lain. Allah dalam Perjanjian Lama hadir lewat para nabi untuk membawa karya keselamatan-Nya kepada bangsa-bangsa lain.

Perjanjian Baru menghubungkan istilah panggilan dengan “Misteri Kristus”. Dalam hal ini Allah yang mengambil iniziatif melalui Sabda Inkarnasi, Yesus Kristus. Ia yang memanggil setiap orang untuk membawa buah keselamatan ke seluruh dunia. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh. 15:16).

Di sini Allah berperan sebagai protagonis atau menjadi peran utama dalam menentukan pilihan-Nya kepada setiap orang. Ia yang memilih sekaligus mengutus setiap orang untuk mewartakan panggilan-Nya kepada orang lain. Suara Allah yang bergema dalam setiap hati manusia, seperti dikatakan oleh Enzo Bianchi, seorang rahib Italia “meskipun Ia berperan sebagai tokoh utama yang memanggil, namun tetap memampukan manusia untuk keluar dari dirinya, memimpin dan membimbing orang lain agar menjawabi panggilan-Nya”.

Kaum Muda dan Panggilan

Perkembangan pengetahuan mengajarkan bahwa kaum muda adalah orang-orang yang sedang berada dalam fase pertumbuhan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, baik secara biologis, kognitif maupun sosial-emosional. Masa muda merupakan masa yang sangat sensitif dan rapuh dalam pembentukannya. Sebab dalam masa ini, orang-orang muda hidup dalam dunia ilusi, pengharapan, penuh impian dan idealis.

Kirkegaard, seorang filsuf eksistensialisme Denmark berbicara tentang eksistensi manusia dalam kaitannya dengan idealisme Hegel. Kikegaard melihat Hegel dengan idealismenya sebagai pereduksian terhadap kepribadian manusia. Dengan demikian, ia tidak melihat manusia sebagai eksistensi yang statis, melainkan peralihan eksistensi dari “yang mungkin” ke “ yang nyata”. Bagi seorang Kikegaard, “masa muda adalah sebuah impian yang muatannya ditemukan dalam cinta, di mana setiap individu sudah memiliki keinginan dan ketertarikan sebelum memilih, dan ketika memilih, pilihan itu ditunda.

Ada individu-individu yang memilih tanpa sadar dan memutuskan untuk memilih kekuatan-kekuatan gelap”. Dalam prospektif ini, kaum muda memiliki relasi khusus dengan masa depan dan dipanggil untuk bertanggung jawab dalam pilihannya. Sebab itu perlu menawarkan kepada mereka sebuah kekuatan yang berbobot dalam hidup, yakni cinta. Mereka perlu diterima sebagai pribadi – pribadi yang berarti bagi Gereja dan bangsa, sehingga mereka merasa dicintai dan berguna bagi orang lain.

Paus Fransiskus dalam dokumen Christus Vivit, seruan apostolik pascasinode untuk orang-orang muda dan kepada semua umat Allah menegaskan supaya orang-orang muda didengarkan dan dibimbing untuk menemukan panggilan Tuhan. “Terdapat banyak imam, para religius, umat awam, para ahli dan juga orang – orang muda berkualitas yang dapat mendampingi orang-orang muda dalam penegasan panggilan mereka. Hal utama yang dilakukan untuk menegaskan panggilan hidup mereka adalah mendengarkan” (CV, 291).

Keterbukaan hati adalah tempat pertama untuk mendengarkan orang lain. Keterbukaan hati sebagai kesediaan tanpa syarat yang membawa orang lain, khususnya kaum muda untuk menjawabi panggilan Tuhan. Yesus adalah “orang muda di antara yang muda untuk menjadi teladan bagi yang muda dan menguduskan diri mereka kepada Tuhan.” Karena itulah sinode memberi penegasan terhadap masa muda sebagai periode kehidupan yang sangat orisinal yang telah dihidupi oleh Yesus sendiri, dengan kekudusan-Nya” (CV, 22).

Hal terutama selain mendengarkan dalam membimbing kaum muda, juga dibutuhkan kedekatan batin, berjalan bersama mereka, menentukan suatu relasi yang terbuka, sebuah relasi yang Kristus sendiri hadir sebagai pembimbing dan penuntun dalam perjalanan. Dia yang telah menjanjikan untuk berjalan bersama kita sampai akhir zaman. “Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman” (Mat. 28:20).

Panggilan dan Tantangan

Panggilan dan tantangan bagaikan dua sisi mata uang yang tak terceraikan. Setiap panggilan mempunyai tantangannya tersendiri. Tantangan merupakan sebuah kesempatan untuk bertumbuh lebih baik, di mana kita sedang dibentuk dan diubah oleh Tuhan. Tantangan adalah cara Tuhan mencintai dan memperhatikan kita. Santo Paulus memohon sebanyak tiga kali kepada Tuhan untuk melepaskan duri dalam dagingnya, yaitu meminta Tuhan supaya utusan iblis itu mundur daripadanya. Namun Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor. 12:7-9). Akhirnya santo Paulus pun bermegah atas kelemahan. Sebab dalam kelemahan dan cobaan ia memperoleh kasih karunia Allah.

Santo Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya tentang Salvifici Doloris mengungkapkan tiga hal penting yang memjawabi sebuah pertanyaan fondamental tentang mengapa ada penderitaan? Pertama, penderitaan adalah sebuah hukuman terhadap dosa. Tuhan adalah hakim yang adil. Ia menghadiahkan kebaikan dengan menghukum dosa. Kedua, penderitaan memiliki karakter menguji. Dalam kitab Ayub bab 1 da 2 mengisahkan secara jelas bagaimana Allah mencoba Ayub dengan berbagai kejadian untuk menguji kesalehannya. Namun “dalam kesemuaannya itu Ayub tidak berbuat dosa dan menuduh Allah berbuat yang tidak patut” (Ayb. 1:22). Ketiga, penderitaan adalah sebuah panggilan untuk bertobat. Penderitaan perlu untuk pertobatan, yaitu, rekonstruksi kebaikan dalam subjek, mengenali kembali rahmat ilahi dalam diri sebagai suatu panggilan demi penebusan dosa.

Tantangan dan cobaan selalu membuntuti setiap perjalanan hidup manusia, terutama dalam panggilan hidup menjadi imam maupun religius. Paus Fransiskus dalam khotbahnya, ketika merayakan perayaan Ekaristi di kapela santa Marta, 4 Maret 2014 mengangkat pengalaman Gereja perdana, di mana terdapat banyak umat kristiani yang mengalami penganiayaan karena mempertahankan iman akan Kristus. Lanjutnya, ini adalah jalan Kristus yang merupakan kegembiraan dalam penderitaan. Penderitaan menjadi kegembiraan karena Allah turut menderita bersama kita.

Dalam konteks dunia sekarang, seiring perkembangan teknologi cukup menyajikan bengitu banyak tawaran-tawaran palsu atau berita-berita fiktif, fact news. Berita serupa terkesan menarik dan menjadi perangkap bagi banyak orang, jika tidak ada pemilahan yang tepat. Akhirnya berita yang salah menjadi benar dan buruk menjadi menarik, the good news is a bad news. Kekuatan berita turut memengaruhi motivasi kaum muda dan orang-orang yang terpanggil.

Ini merupakan bagian dari tantangan masa kini. Namun sebagai orang yang terpanggil tetap menyadari bahwa Tuhan tidak memanggil karena kekuatan kita, melainkan karena manusia adalah makhluk yang lemah. Seperti yang diutarakan oleh santo Agustinus bahwa Tuhan tidak menyempurnakan kita sehingga Ia memanggil, melainkan Ia memanggil untuk menyempurnakan. Ketika menyadari kelemahan kita sebagai manusia, sesungguhnya kita sedang mengakui kekuatan Tuhan dalam diri kita. Sebagaimana dikatakan oleh santo Paulus “karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10). (*)

*) Calon Imam Vokasionis, Tamatan Fakultas Teologi San Luigi Napoli, Italia

Komentar

Berita lainnya OPINI

Populer

To Top