Pemuda Nifukani Tewas Ditikam, Pelaku Dalam Pengejaran Polisi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pemuda Nifukani Tewas Ditikam, Pelaku Dalam Pengejaran Polisi


SEMAYAMKAN. Omri Selan yang tewas akibat ditikam Apris Talan, disemayamkan di rumah duka, RT 01/RW I, Desa Nifukani, Senin (3/8). (FOTO: YOPI TAPENU/TIMEX)

PERISTIWA/CRIME

Pemuda Nifukani Tewas Ditikam, Pelaku Dalam Pengejaran Polisi


Legislator dan Orang Tua Minta Pemkab dan Aparat Bubarkan Perguruan Bela Diri

SOE, TIMEXKUPANG.com-Omri Selan, pemuda Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tewas akibat luka tusukan yang dialaminya, Minggu (2/8) sekira pukul 40:00 Wita.

Korban diduga ditikam Apris Talan. Penikaman ini terjadi ketika pelaku mengajak korban untuk berduel sportif oleh Ito Talan yang adalah saudara kandung Apris Talan.

Adi Nomleni selaku saksi mata saat dijumpai wartawan di rumah duka, di RT 01/RW I, Desa Nifukani, Senin (3/8), menguraikan, kejadian itu bermula saat pelaku mendatangi korban dan teman-temannya yang saat itu sedang duduk di pertigaan jalan.

Saat itu pelaku yang adalah anggota salah satu perguruan bela diri di TTS nampak dalam pengaruh minuman beralkohol. Tanpa diketahui apa motifnya, pelaku mengajak korban yang juga adalah anggota perguruan bela diri (keduanya beda perguruan) untuk berduel. Namun saat itu, korban menolak dan meminta tawaran duel itu dilaksanakan pada Senin (3/8).

Karena tawaran pelaku tidak diterima korban, maka korban balik dan memanggil empat teman lainnya yakni Ito Talan, Polce Bana, Omri Tanono, dan Wido Tanono. Ketika pelaku dan teman-temannya kembali ke tempat kejadian perkara, saudara pelaku, yakni Ito Talan justru yang mengajak korban untuk berduel.

Ketika dua pemuda ini hendak berduel, Ito Talan mencabut pisau yang disisipan di pinggangnya dan serahkan ke pelaku. Disaat Apris Talan memenang pisau itulah, ia langsung menusuk korban pada bagian perut. Saat korban menunduk karena terkena tusukan pisau pelaku kembali mengayunkan pisau pada bagian dada Omri. Dua kali tusukan itu membuat korban jatuh tersungkur, maka pelaku kembali mengayunkan pisaunya dengan cara menikam korban pada bagian bahu kiri. “Saya juga dikejar, tapi saya berhasil lari. Saya kena tusukan beling di kaki, karena lari untuk loloskan diri,” ungkap Adi.

Kasat Reskrim Polres TTS, Iptu Hendricka R. A. Bahtera ketika dikonfirmasi di Mapolres TTS membenarkan kejadian itu. Korban dinyatakan tewas setelah kurang lebih 30 menit mendapatkan pertolongan medis di RSUD SoE. Hanya saja tiga luka tusuk benda tajam yang diderita korban nampak cukup serius, sehingga korban menghembuskan napas terakhirnya. “Pelaku melarikan diri. Jadi kami masih kejar sampai sekarang,” ungkap Hendricka.

Begitupun empat teman pelaku yang saat itu bersama-sama dengan pelaku juga belum diamankan, karena pelaku utama belum berhasil ditangkap. Teman-teman pelaku akan dimintai keterangan, untuk mengetahui peran masing-masing dalam kasus itu.

Atas perbuatan itu, kata Hendricka, pelaku diancam dengan UU pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan berat yang menyebabkan orang lain meninggal. Ancaman pidana penjara lima tahun. Sementara teman-teman pelaku akan dimintai pertanggung jawabannya setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. “Teman-teman pelaku nanti kami periksa dulu, untuk tahu peran mereka masing-masing,” jelasnya.

Anggota DPRD TTS, Jean Neonufa yang ditemui di rumah duka meminta Pemkab TTS dan juga pihak keamanan untuk segera membubarkan dua organisasi bela diri di TTS yakni PSHT dan juga IKS di TTS. Pasalnya dua parguruan bela diri itu itu sering membuat onar bahkan tak jarang jatuh korban jiwa.

Perguruan bela diri, kata Jean, sesungguhnya ada untuk mengolahragakan masyarakat, bukan menggunakan perguruan bela diri untuk saling serang antar anggota perguruan yang ada. Dengan sejumlah kasus yang terjadi di TTS, dengan melibatkan dua perguruan bela diri itu, maka sudah seharusnya pemerintah dan pihak keamanan mengambil sikap tegas dengan membubarkan dua perguruan itu. “Waktu saya masih Ketua DPRD TTS, sudah kami minta untuk dua perguruan silat itu dibubarkan. Tapi saya tidak tahu tindaklanjutnya sampai sekarang seperti apa,” kata Jean.

Yosafat Talan selaku paman korban meminta Pemkab TTS dan pihak keamanan guna segera membubarkan dua perguruan bela diri itu di TTS, karena mereka sebagai orang tua di desa mereka tidak nyaman dengan keberadaan dua organisasi itu.

Pasalnya sudah sering kali dua perguruan pencak silat itu, terlibat pertikaian dan berakhir dengan korban jiwa. Maka dari itu, sudah seharusnya Pemda TTS dan pihak keamanan mengambil sikap tegas, yakni membubarkan dua perguruan bela diri itu. Karena kasus yang terjadi, sesungguhnya pelaku maupun korban adalah satu desa bahkan masih bersaudara, namun karena berbeda organisasi perguruan, mereka saling serang hingga menyebabkan korban jiwa.

“Kami sebagai orang tua, minta kepada pemerintah dan juga pihak keamanan untuk bubarkan dua perguruan silat itu. Karena di TTS sudah berapa kali terjadi kasus penganiayaan yang melibatkan dua perguruan silat itu, sampai beberapa kali terjadi kematian,” tutur Yosafat. (yop)

Komentar

Berita lainnya PERISTIWA/CRIME

Populer

To Top