Semau Gabung ke Kota, Salmun Bisilissin: Kota tidak Untung, Kabupaten Kupang tidak Rugi | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Semau Gabung ke Kota, Salmun Bisilissin: Kota tidak Untung, Kabupaten Kupang tidak Rugi


DUKUNGAN PARA TOKOH. Para tokoh masyarakat Pulau Semau pose bersama di Pantai Liman, Semau Selatan Kabupaten Kupang, sebagai dukungan untuk melanjutkan proses penggabungan pulau itu ke wilayah administratif Kota Kupang, Minggu (2/8). Tampak Kaban Perbatasan NTT, Linus Lusi, Sekretaris Badan Perbatasan, Berto Lalo, dan Staf Ahli Gubernur, Samuel Pakereng. (FOTO: Carlens Herison Bising/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

Semau Gabung ke Kota, Salmun Bisilissin: Kota tidak Untung, Kabupaten Kupang tidak Rugi


OELAMASI, TIMEXKUPANG.com-Masyarakat Pulau Semau, Kabupaten Kupang terus menyerukan tekadnya untuk bergabung ke Kota Kupang.

Selain karena letak geografisnya yang lebih dekat, masyarakat Pulau Semau memiliki kedekatan secara historis dengan Kota Kupang. Bahkan nama Kupang lahir dari penduduk pertama Kota Kupang yang sekarang mendiami Pulau Semau, yakni Koen Lai Bisi. Koen Lai Bisi merupakan raja pertama suku Helong di Kupang yang dikisahkan berasal dari Seram, Maluku.

“Gabung ke Kota Kupang itu sama dengan kita kembali ke Buni Baun (tempat Koen Lai Bisi),” kata sesepuh Helong, Salmun Bisilissin saat dialog dengan masyarakat Pulau Semau, di Pantai Liman, Kecamatan Semau Selatan, Minggu (2/8).

Pertemuan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Roadshow yang digagas Badan Pengelola Perbatasan Provinsi NTT. Dalam kegiatan tersebut, Badan Pengelola Perbatasan menggandeng sejumlah media massa dan Tim Percepatan Peralihan Semau Masuk Kota Kupang (TP2SMK2).

Hadir Staf Ahli Gubernur NTT, Samuel Pakereng, Kaban Pengelola Perbatasan NTT, Linus Lusi, dan Sekretaris, Berto Lalo, Camat Semau Jhoni Ukat, dan Camat Semau Selatan, Gerson Ndolu. Hadir juga Ketua TP2SMK2, Simon P. Pallo dan sejumlah sesepuh Pulau Semau. Hadir perwakilan dari 14 desa di Pulau Semau, termasuk anggota DPRD Kabupaten Kupang asal Semau, Yogerens Leka.

Salmun Bisilissin yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Kupang itu menegaskan, aspirasi masyarakat Semau yang ingin kembali ke Buni Baun sudah lama disampaikan kepada Pemprov NTT. Namun baru tahun 2020 mendapat respon dan ditindaklanjuti.

Menurut dia, proses pembangunan di Kabupaten Kupang belum bisa menyentuh secara merata hingga Pulau Semau, karena luas wilayah dan keterbatasan anggaran.

“Jadi, kalau Semau gabung dengan kota, Kabupaten Kupang tidak rugi dan Kota Kupang tidak untung. Yang untung itu masyarakat Semau,” sambung purnawirawan polisi itu.

BACA JUGA: IARMI NTT dan Kodim Kupang Bangun Fasilitas Outbound di Semau

Sementara Kepala Badan Perbatasan Provinsi NTT, Linus Lusi pada kesempatan itu menjelaskan, perjuangan untuk pengalihan Semau ke Kota Kupang sudah melalui beberapa tahapan. Mulai dari aspirasi yang disampaikan ke Pemprov NTT pada 2013 dimana kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya. Dan pada 2020 ini sudah dilakukan kajian secara ilmiah oleh Undana Kupang lalu diseminarkan pada 8 Juli 2020.

Hasilnya, dari 13 ribu masyarakat Semau, 68 persen menyatakan setuju untuk bergabung dengan Kota Kupang. Selain menemui sejumlah tokoh Timor seperti Raja Nisnoni, dan Esthon L. Foenay, serta Jonathan Nubatonis, tim Badan Pengelola Perbatasan juga telah bertemu dan berbicara langsung dengan Bupati Kupang, Korinus Masneno di ruang kerjanya, pasca seminar.

Linus mengatakan, Bupati Kupang telah menyatakan dukungannya agar proses penggabungan Semau ke Kota Kupang dilanjutkan. “Jadi bapak mama, dukungan sudah sangat signifikan. Tinggal kita proses lanjut. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita dan semoga 2021 harapan itu sudah bisa diwujudkan,” kata Linus.

Terkait kekuatiran sejumlah kalangan tentang perubahan dari desa menjadi kelurahan, Linus pastikan hal itu sudah diatur di dalam undang-undang. Meski nanti bergabung dengan Kota Kupang, namun desa di Semau tetap menjadi desa. “Jadi apa yang diragukan. Bagi para kepala desa, jangan takut. Desa tetap jadi desa karena ada regulasinya,” tegas Linus.

Masih menurut dia, kerinduan masyarakat Semau sangat beralasan. Pasalnya, untuk mencapai Oelamasi sebagai ibukota Kabupaten Kupang, masyarakat harus menempuh perjalanan darat dan laut sepanjang lebih dari 78 kilometer. “Karena itu, kami pemerintah provinsi, mau menghapus air mata dan kesusahan masyarakat Semau, dengan bergabung dengan Kota Kupang,” sambung dia.

Pada kesempatan itu juga, perwakilan masyarakat dari 14 desa di Semau menyatakan dukungan dengan menyerahkan dokumen tandatangan kepada Ketua TP2SMK2, Simon Pallo untuk diberikan kepada pemerintah agar diproses lebih lanjut. (cel)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top