Pejuang Kemanusiaan dan Nasionalisme yang Tak Tergiur Kekuasaan | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Pejuang Kemanusiaan dan Nasionalisme yang Tak Tergiur Kekuasaan


Guru Besar UGM, Prof. DR. Cornelis Lay, MA. (FOTO: ISTIMEWA)

TOKOH

Pejuang Kemanusiaan dan Nasionalisme yang Tak Tergiur Kekuasaan


Cornelis Lay, Guru Besar UGM Asal NTT Berpulang

KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Kabar duka datang dari Yogyakarta, Rabu (5/8) subuh. Sekira pukul 04.00 WIB, guru besar yang juga akademisi kawakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. DR. Cornelis Lay, MA menghembuskan napas terakhir saat dirawat di Rumah Sakit Panti Rapi Yogyakarta.

Kabar duka ini seketika menyebar, tidak saja di lingkungan keluarga, tidak saja di lingkungan UGM, namun menyebar ke publik lewat pltaform media sosial juga whatsapp grup.

Sejumlah tokoh nasional juga tokoh lokal mengaungkapkan rasa duka mendalam atas kehilangan sosok pemikir ini. Bagi NTT, sosok Cornelis Lay adalah sebuah kebanggaan. Pasalnya keberadaan sosok yang akrab disapa Cony Lay ini di UGM mencitrakan kalau NTT punya tokoh yang luar biasa diaras nasional.

Gubernur NTT dua periode (2008-2018), Frans Lebu Raya kepada Timor Express mengaku kaget dan berduka atas kepergian Cornelis Lay.

“Saya menyapa beliau dengan sebutan “Bang Cony”. Saya berdukacita atas meninggalnya Bang Cony. Semoga diterima disisi Tuhan YMK,” ungkap Frans Lebu Raya, Rabu (5/8) usai menerima kabar kematian sosok Cony Lay.

Menurut Frans, Bang Cony yang ia kenal merupakan sosok akademisi dan pemikir. Sosok nasionalis yang tenang juga sangat cerdas. Kehidupannya sederhana dan diabdikan untuk keyakinannya akan nasionalisme.

“Beliau sangat getol dengan nasionalisme. Beliau selalu berjuang untuk kemanusiaan. Beliau tidak pernah tergiur dengan kekuasaan,” ungkap Frans Lebu Raya.

Padahal kata Frans, kesempatan berada di kekuasaan itu sangat terbuka bagi sosok Bang Cony. Ini terjadi ketika di awal PDI Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Wapres RI lalu menjadi Presiden, Bang Cony selalu berada disekitarnya.

“Dulu kita pernah mendorong beliau menjadi Sekjen PDIP tapi beliau lebih memilih tetap jadi akademisi. Beliau tidak silau pada kekuasaan,” beber Frans.

Bagi Frans, Bang Cony yang ia kenal adalah sosok yang memiliki semangat hidup yang luar biasa. “Banyak contoh hidup yang patut kita teladani. Selamat jalan Bang Cony. Selamat jalan senior. Beristirahatlah dalam damai Tuhan,” kata Frans.

Hal yang tak jauh beda diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.

Hasto menyebutkan, Cony Lay semasa hidupnya terus hadir sebagai sosok pemikir-intelektual.

Cony, kata Hasto, tidak melibatkan diri dalam jabatan kekuasaan politik praktis. Ia lebih memilih berdedikasi mengurai dan memformulasikan sintesis setiap gagasan Bung Karno dalam praktik politik Megawati Soekarnoputri.

“Dalam keseluruhan perjalanan politik, saya sungguh bersyukur telah berkesempatan mendapatkan “mutiara gagasan” yang ikut membentuk seluruh kesadaran ideologi, kesadaran politik, dan kesadaran berorganisasi, serta kesadaran berkebudayaan, yang di belakang hari begitu berguna dalam seluruh perjalanan politik saya di PDI Perjuangan,” ungkap Hasto dalam sebuah tulisannya yang juga dilansir media ini sebelumnya.

Melalui Cony Lay, kata Hasto, ia memahami keteguhan sikap sang akademisi untuk tetap berdiri pada jalan intelektual, sebuah jalur yang menjaga jarak dengan politik, namun menceburkan diri dengan sikap “lepas-bebas” agar tetap bertahan pada objektivitas dan mengawal kebenaran dalam politik.

Hal-hal inilah yang membuat Hasto merasa begitu kehilangan sosok Cony Lay yang kabar kematiannya itu didapat dari Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

Cony Lay adalah Guru Besar Departemen Politik dan Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, pada Rabu (6/2/2019).

Berdasarkan berita Lelayu yang dikeluarkan UGM yang ditandatangani Dekan Fisipol, Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si menyebutkan bahwa almarhum Cony Lay akan dimakamkan pada Kamis (6/8) pukul 14.00 WIB dipemakaman UGM Sawitsari, Sleman-Yogyakarta. Sebelumnya akan disemayamkan di Balairung UGM pada pukul 13.00 WIB. Jenazah almarhum akan diberangkatkan dari rumah duka di Perum Cemara, Maguwoharjo Depok, Sleman-Yogyakarta pukul 12.00 WIB.

Sejarah Hidup Cony

Akademisi berusia 60 tahun yang juga pengagum Bung Karno ini menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan” di Balai Senat UGM, Yogyakarta, sebelum pengukuhannya. Berikut ini sejarah hidup Cony Lay.

Cony dilahirkan di Kupang, NTT, pada 6 September 1959. Ia meniti karier akademis yang cukup panjang. Ia memperoleh gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Jurusan Ilmu Pemerintahan (sekarang Jurusan Politik dan Pemerintahan) Fisipol UGM pada 1984.

Sebagai pengagum berat Ir. Sukarno, semasa menjadi mahasiswa di UGM, Cony juga aktif dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia kemudian tercatat sebagai salah satu anggota tim ahli Persatuan Alumni (PA) GMNI.

Tahun 1987, titel Doktorandus (Drs) melengkapi gelar S1 Cony Lay di jurusan dan perguruan tinggi yang sama. Setelah itu, ia menjadi staf pengajar di almamaternya sekaligus peneliti Pusat Antar Universitas (PAU) Studi Sosial.

Cony Lay kemudian mendapat kesempatan melanjutkan studi ke St. Mary’s University, Halifax, Kanada, dan merengkuh gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang International Development Studies pada 1992.

Kembali mengabdikan diri di kampus biru, Cornelis Lay pernah menjabat sebagai Kepala Unit Penelitian serta Pembantu Dekan III Bidang Penelitian dan Kerja Sama (2008-2010) Fisipol UGM.

Sebelumnya, pada 2000-2004, suami dari Jeanne Cynthia Lay-Lokollo ini ditunjuk menjadi Kepala Biro Politik dan Pemerintahan Dalam Negeri di Kantor Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu.

Cony Lay adalah peneliti di Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) UGM sejak 2009. Ia juga pernah menjadi peneliti tamu di sejumlah institusi luar negeri, termasuk Flinders University (Australia) pada 1995, Agder College University (Norwegia) pada 2001-2002, Massachussets University (AS) pada 2008, KITLV (Belanda) pada 2010, dan lainnya.

Ayah dari Dhiera Anarchy Rihi Lay dan Dhivana Anarsya Ria Lay ini telah menghasilkan banyak sekali karya, baik berupa buku, tulisan ilmiah atau hasil penelitian, maupun berbagai judul artikel yang dimuat di media massa.

Salah satunya adalah tulisan Cornelis Lay bersama Prof. Dr. Pratikno dengan judul “From Populism to Democratic Polity, Problems and Challenges in Solo, Indonesia”. Tulisan ini terhimpun dalam buku Democratisation in the Global South: The Importance of Transformative Politics (2013) suntingan K. Stokke dan O. Törnquist.

Cornelis Lay, bersama Wawan Mas’udi, juga pernah bertindak sebagai editor untuk buku berjudul The Politics of Welfare: Contested Welfare Regimes in Indonesia yang diterbitkan pada 2018 lalu.

Pada 2018 pula, tulisan Cornelis Lay dengan judul “Hometown Volunteers: A Case Study of Volunteers Organizations in Surakarta Supporting Joko Widodo’s Presidential Campaign” dimuat dalam Copenhagen Journal of Asian Studies.

Sejak 2016, Cornelis Lay menjabat sebagai Kepala Research Center for Politics and Government (PolGov) di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, hingga akhirnya dikukuhkan menjadi guru besar di almamaternya itu pada 6 Februari 2019. (aln/net/jpnn)

Komentar

Berita lainnya TOKOH

To Top