PLN Dorong Pemanfaatan EBT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

PLN Dorong Pemanfaatan EBT


IST CEK KESIAPAN. Para teknisi sementara melakukan pengecekkan salah satu mesin untuk mendukung penggunaan EBT oleh masyarakat. Diabadikan beberapa waktu lalu.

Advetorial

PLN Dorong Pemanfaatan EBT


Kapasitas Pembangkit Capai 7.946 MW

KUPANG, TIMEX– PLN terus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan. Hingga bulan Juni lalu, kapasitas pembangkit EBT di Indonesia sebesar 7.964 Megawatt (MW).

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan penggunaan pembangkit EBT yang ramah lingkungan. Ini adalah tanggung jawab dan upaya PLN untuk menjaga generasi mendatang,” tutur Direktur Mega Project PLN, Ikhsan Asaad sesuai rilis yang diperoleh Kamis (6/8).

Dari sisi bauran energi, kata Ikhsan Asaad, pemanfaatan pembangkit EBT juga meningkat dari 12,36 persen pada Januari lalu menjadi 14 persen pada Juni. Pembangkit EBT, ujarnya, didominasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yaitu sebesar 4.707 MW atau 7,5 persen dari total bauran energi pembangkit dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 2.443 MW atau 3,9 persen dari total energi pembangkit.

Masih menurut Direktur Mega Project PLN, peningkatan EBT juga menjadi bagian transformasi PLN. Melalui salah satu aspirasi utama PLN yakni green, PLN memiliki beberapa strategi untuk mendorong penggunaan energi baru terbarukan dengan co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang telah beroperasi, program konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) biomassa, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung dengan memanfaatkan bendungan-bendungan yang sudah ada untuk membangkitkan listrik.

“Kita terus melakukan inovasi untuk mendorong EBT. Kita optimalkan potensi potensi yang ada,” jelas Ikhsan Asaad. Selain itu, co-firing juga kini sementara dikembangkan oleh PLN di beberapa PLTU. Diantaranya PLTU Paiton berkapasitas 2×400 MW menggunakan olahan serbuk kayu, PLTU Ketapang berkapasitas 2×10 MW dan PLTU Tembilahan berkapasitas 2×7 MW menggunakan olahan cangkang sawit.

“Co-firing dilakukan dengan mencampurkan olahan tersebut sebesar 5 persen dari total kebutuhan bahan bakar. Sementara untuk konversi dari PLTD ke PLT Biomassa, PLN mencatat terdapat 1,3 Gigawatt PLTD yang dapat dikonversi menjadi PLT Biomassa,” tandas Ikhsan Asaad.

PLN juga terus mendorong pembangunan PLTS terapung berkapasitas besar dengan memanfaatkan bendungan-bendungan yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, jelasnya, pada Januari lalu, PLN telah menandatangani kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan Konsorsium PT PJBI-Masdar untuk membangun PLTS terapung di Cirata, Jawa Barat dengan total kapasitas mencapai 145 MW. “Pembangunan PLTS terapung ini akan dimulai pada awal 2021 dan akan menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

“PLTS Terapung Cirata sangat murah, hanya 5,8 cUSD/kWh. Kami berusaha ke depan akan mendorong pembangkit seperti ini dan pastinya dengan harga yang lebih murah,” tambahnya.

Saat ini, PLN juga tengah mengembangkan Renewable Certificate Energy (REC). REC akan ditawarkan kepada pelanggan yang memiliki komitmen penggunaan EBT dimana setiap penggunaan 1 MWH EBT akan mendapatkan 1 unit REC.

Selain penyediaan listrik melalui pembangkit EBT, PLN juga menyiapkan infrastruktur untuk mendukung kehadiran kendaraan listrik, PLN telah melakukan inovasi menghadirkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listirik Umum (SPKLU). (*/gat)

Baca Selengkapnya
Rekomendasi untuk anda ...
Komentar

Berita lainnya Advetorial

To Top