6 Kecamatan di Wilayah Biboki Gagal Panen, Ini Penjelasan Kadis Pertanian TTU | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

6 Kecamatan di Wilayah Biboki Gagal Panen, Ini Penjelasan Kadis Pertanian TTU


HAMA BELALANG. Babinsa dari Kodim 1618/TTU bersama mantri tani Dinas Pertanian TTU menyemprot hama belalang dan hama ulat grayak di kebun jagung milik para petani di Desa Sapaen, Kecamatan Biboki Utara, pada Maret 2020 lalu. (FOTO: PETRUS USBOKO/TIMEX)

KABAR FLOBAMORATA

6 Kecamatan di Wilayah Biboki Gagal Panen, Ini Penjelasan Kadis Pertanian TTU


KEFAMENANU, TIMEXKUPANG.com-Sebanyak enam kecamatan di wilayah Biboki, yakni Biboki Utara, Biboki Selatan, Biboki Anleu, Biboki Tanpah, Biboki Feotleu, dan Biboki Moenleu mengalami gagal panen akibat minimnya curah hujan pada musim ini.

Kondisi gagal panen ini bahkan sudah menjadi masalah tahunan, dan bahkan hingga saat ini belum mampu diselesaikan Pemerintah Daerah. Padahal, masyarakat telah berupaya menyiapkan lahan pertanian dengan baik namun tidak membuahkan hasil sesuai harapan.

Berdasarkan data yang dihimpin Timor Express dari Dinas Pertanian dan Perkebunan TTU, selain enam kecamatan di wilayah Biboki yang mengalami gagal panen, persoalan serupa juga dialami di wilayah Kecamatan Insana Barat, Insana Tengah, Bikomi Utara, dan sebagian Bikomi Nilulat.

Kepala Dinas Pertanian TTU, Gregorius Ratrigis kepada Timor Express, Senin (10/8) mengakui hal tersebut. Menurut Gregorius, pihaknya, telah melakukan identifikasi di lapangan terhadap seluruh wilayah yang mengalami gagal panen tahun ini.

Kondisi gagal panen tersebut hingga kini belum dilaporkan oleh pemerintah desa dan kecamatan kepada dinas teknis, namun penyuluh di lapangan sudah melakukan identifikasi di setiap desa binaan.

BACA JUGA: Hama Belalang Serang Tanaman Jagung, Distan Libatkan Babinsa Semprot Insektisida

Dikatakan, berdasarkan hasil identifikasi lapangan, kondisi gagal panen belakangan ini justru terjadi di wilayah-wilayah yang mengolah sawah tadah hujan. Kondisi ini sudah terjadi sejak lima tahun terakhir ini.

“Karena sejak 2016, 2017, 2018, 2019, dan 2020 ini memang curah hujan tidak betul. Banyak yang gagal panen, namun ada beberapa yang bisa panen. Terutama jagung dan padi sawah tadah hujan,” ungkap Gregorius.

Selain masalah curah hujan, kata Gregorius, masalah gagal panen yang dialami oleh warga disebabkan oleh serangan hama belalang yang merusak sebagian besar tanaman jagung milik masyarakat.

Meski demikian, masalah serangan hama belalang telah diatasi oleh Dinas teknis dengan melakukan penyemprotan pestisida. Pihaknya juga telah melaporkan masalah tersebut kepada Bupati Raymundus Sau Fernandes dan sudah dikirim ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT untuk ditindaklanjuti.

“Tapi kalau masalah hama memang kita sudah intervensi dengan penyemprotan peptisida di hampir semua titik yang ada,” pungkasnya. (mg26)

Komentar

Berita lainnya KABAR FLOBAMORATA

To Top