Dr. Apt. Muhajirin Dean, S.Farm., M.Sc: Doktor Faloak NTT | Timex Kupang
ikut bergabung
timexkupang

Dr. Apt. Muhajirin Dean, S.Farm., M.Sc: Doktor Faloak NTT


Dr. Apt. Muhajirin Dean, S.Farm., M.Sc (FOTO: ISTIMEWA)

TOKOH

Dr. Apt. Muhajirin Dean, S.Farm., M.Sc: Doktor Faloak NTT


KUPANG, TIMEXKUPANG.com-Penyakit hepatitis atau radang pada hati adalah sejenis penyakit yang sering diderita oleh masyarakat. Terkadang penyakit ini sering terlambat didiagnosa.

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah yang tergolong tinggi penderita hepatitis. Untuk mengobati penyakit ini, tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi masa perawatan dan pemulihan yang cukup panjang.

Akibat banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati penyakit ini, tak jarang masyarakat kita menempuh cara pengobatan alternatif, sebagai solusi mengobati hepatitis.

Di Kota Kupang dan bahkan NTT umumnya, salah satu pengobatan alternatif yang sering dipakai sejak nenek moyang adalah menggunakan kulit batang Faloak atau dalam bahasa ilmiahnya sering disebut Sterculia quadrifida R.Br.

Pohon Faloak, tidak sulit dikenali dan tersebar di hampir seluruh pulau di NTT. Pohon ini tumbuh liar di lahan-lahan bebatuan yang merupakan ciri khas alam di NTT. Masing-masing daerah pun memiliki nama sendiri untuk pohon ini.

Di Kupang, disebut Faloak. Di Kefa disebut Flolo, sedangkan di Belu disebut Mitaen. Dan masih banyak sebutan lain untuk tiap daerah. Intinya bahwa hasil rebusan kulit Faloak dipercaya sejak nenek moyang bisa menyembuhkan penyakit hepatitis dan penyakit lainnya.

Benarkah Faloak bisa menyembuhkan penyakit hepatitis? Pertanyaan ini sering dilontarkan banyak orang, terutama mereka yang belum pernah menderita penyakit hepatitis dan mengonsumsi air rebusan kulit Faloak. “Saya adalah orang yang percaya bahwa air rebusan Faloak bisa menghambat pertumbuhan sel hepatitis. Saya rajin minum Faloak,” ungkap Dr. apt. Muhajirin Dean, S. Farm., M.Sc.

Muhajirin adalah Doktor pertama bidang Farmasi di NTT. Putra “Raja Kapal” H. Ismail Dean, SE, MM ini berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul “Hambatan Ekstrak Kulit Batang Sterculia quadrifida R.Br (Faloak) pada CD81 Cell line Hepatosit Huh7it dan NS3 Helicase Virus Hepatitis C JFH1” di hadapan sembilan penguji pada 28 November 2019, dan dikukuhkan pada 20 Februari 2020.

Ia mengambil program doktor di Universitas Airlangga-Surabaya dengan melakukan pengujian terhadap tanaman Faloak dari Kupang dan juga melakukan pengujian terhadap virus Hepatitis di laboratorium Unair.
Berdasarkan hasil penelitiannya, dapat disimpulkan bahwa virus hepatitis dapat dihambat pertumbuhannya dengan tanaman Faloak yang ada di Kupang atau di NTT.

Dari hasil penelitiannya itu, Muhajirin Dean menghasilkan empat publikasi atau jurnal dan baru satu jurnal yang dipublikasikan sebagai syarat meraih gelar S3. Jurnal ke-3 saat ini sedang disusun untuk segera dipublikasikan.

“Faloak ini saya uji bukan hanya untuk virus hepatitis saja, khususnya hepatitis tapi juga kandungannya. Dan setelah diuji, kandungan Faloak sama seperti teh hijau yang biasa dipakai untuk diabetes. Juga bisa menambah stamina. Untuk publikasi jurnal kedua lebih spesifik meneliti sampai bagian dalam sel virus, yakni mengapa Faloak bisa menghambat virus sampai tidak tumbuh,” terangnya.

Alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini sejak awal hanya ingin melakukan penelitian tentang Faloak. Hal itu ia lakukan karena penasaran mengapa hanya dengan mengonsumsi air rebusan kulit Faloak, bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit terutama hepatitis. Dan ternyata dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa hanya di kulit batangnya saja yang memiliki antioksidan dan memiliki khasiat.

“Sehingga sangat tepat kalau saya bilang bahwa Faloak ini merupakan ginsengnya Kota Kupang,” katanya bersemangat. “Ke depannya saya mau bikin sirup Faloak dan kapsul Faloak. Saat ini saya sedang uji coba dan direncanakan akan bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Bahkan untuk produksi sekelas jamu sudah bisa dilakukan,” terangnya lagi.

Rencana besar untuk menjadikan tanaman Faloak bukan saja mengobati penyakit Hepatitis yang banyak diderita masyarakat NTT tapi juga bisa mengobati penyakit lain perlu didukung dengan ketersediaan bahan baku.

Bagi Muhajirin Dean, pohon Faloak yang tumbuh secara alamiah bisa menopang ketersediaan bahan baku. Namun pengalaman selama ini bahwa masyarakat mengambil kulit pohon Faloak tanpa melalui prosedur bisa menyebabkan kepunahan. “Mengambil kulit pohon Faloak itu ada mekanismenya tersendiri. Tak heran, jika kita lihat kulit yang tumbuh lagi itu menjadi bergelembung. Itu karena pengambilan kulitnya yang keliru,’ ujarnya.

Meski demikian, lanjut dia, berdasarkan beberapa penelitian tentang budidaya Faloak yang dilakukan, disebutkan bahwa selain biji, ternyata perkembangbiakan Faloak bisa lebih cepat dilakukan melalui batang. Dan itu hanya membutuhkan waktu dua minggu sudah bisa tumbuh tunas baru dari batang.

Doktor Muhajirin Dean yang juga ASN pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. W. Z. Johannes Kupang ini memiliki obsesi menjadi penemu obat herbal dari NTT dan berencana akan menginventarisasi semua tanaman obat yang ada dan akan meneliti untuk menunjukan apa kelebihan tanaman-tanaman di NTT dibandingkan tempat lain.

Hal itu ia lakukan karena kondisi alam NTT sangat ekstrim di Indonesia terutama dari segi cahaya, panas dan kultur tanahnya yang berbeda. “Itu kelebihan alam kita di NTT,” tegasnya. “Dengan melakukan penelitian kita bisa mengangkat nama daerah kita dan dengan penelitian akan menambah orang-orang pintar di daerah ini,” katanya.

Ingin Menjadi Penemu Obat

Muhajirin Dean, putra pertama pasangan H. Ismail Dean – Atin P. Salmah Dean, awalnya bercita-cita ingin menjadi dokter. Setamatnya di SMA Negeri 5 Kupang, ia melanjutkan pendidikan di UMI Makassar dengan mengambil jurusan Farmasi karena tidak diterima di Fakultas Kedokteran. Usai meraih Gelar Strata-1 Farmasi ia melanjutkan Studi S-2 di Universitas Hasanudin dengan mengambil jurusan Profesi Apoteker. Namun itu tidak berlangsung lama karena ia lebih memilih ke UGM mengikuti program double degree atau program gelar ganda yakni S-2 Farmasi dan Apoteker dan diselesaikannya dengan baik.

Usai diterima sebagai ASN di RSU Johannes, ia kembali melanjutkan studi doktoral di Unair dengan biaya sendiri dan selesai tahun 2019.
Jadilah Muhajirin Dean sebagai Doktor Bidang Farmasi Pertama di Kota Kupang.

Meski awalnya ia bercita-cita menjadi dokter, pria kelahiran Ende, 2 Desember 1984 ini tetap menekuni jalur apoteker karena jalur ini katanya bisa sekaligus menjalankan bisnis yakni membuka apotek. Kini ia memiliki Apotek Harapan Baik di Kelurahan Kayu Putih.

Menjadi apoteker memiliki tantangan tersendiri yakni bagaimana memberikan keyakinan kepada orang tentang obat. Hal itu bukanlah pekerjaan mudah.

Bagi dia, tantangan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat agar NTT bisa memiliki laboratorium sendiri menjadi harapannya. “Sebab dengan begitu kita bisa membuktikan bahwa orang NTT juga bisa. Apalagi obsesinya ke depan adalah ingin menjadi penemu obat dari NTT,” pungkasnya.

H. Ismail Dean, SE, MM (FOTO: ISTIMEWA)

Tangan Dingin H. Ismail Dean

Ismail Dean merupakan sosok bertangan dingin di balik suksesnya Muhajirin Dean sebagai seorang apoteker bergelar doktor di NTT. Pria berperawakan tinggi besar ini selalu mengajarkan kepada empat orang anaknya agar mereka memiliki kehidupan melebihi apa yang dijalani orang tua mereka.

“Saya selalu bilang ke anak-anak agar kehidupan mereka harus bisa melebihi saya. Kata-kata motivasi itulah yang membuat mereka bisa seperti ini,” kata Ismail.

Pemilik PT. Putra Unggul ini memilki empat orang anak, masing-masing Muhajirin Dean, sebagai apoteker, dr. Mujahidin Dean, dr. Ine Wahyuni Dean masing-masing sebagai dokter, dan Asyila Natasha Faiza Dean, masih melanjutkan studi kedokteran.

Anak kedua H. Ismail yakni dr. Mujahidin Dean, meski bergelar dokter namun ia tidak menjalankan profesi itu. Ia lebih memilih bergabung dengan bapaknya mengelola usaha perkapalan.

“Kami angkat dia jadi dokter kapal karena dia menguasai semua teknik perkapalan. Sedangkan anak nomor tiga tetap menjadi dokter. Anak mantu juga dokter,” kata eks PNS ini.

“Sebagai orang tua, kita pasti inginkan anak-anak menjadi lebih baik dari kita. Itulah harapan kita,” demikian kata suami dari Ny. Atin P. Salmah Dean ini. (yoppy lati)

Komentar

Berita lainnya TOKOH

Populer

To Top